Kenapa tertawa?! Ada yang aneh?
Ah, itu kan dugaan saya saja, yang menyangka anda tertawa dan juga mencibir ketika membaca judul artikel ini. (Lupakan!)
Jujur, saya sendiri bingung menerjemahkan makna judul itu. Tapi itulah yang muncul saat membolak balik halaman politaktik.com yang baru tayang ini.
Begini sodara…
Kalian tentu tahu, rekam jejak pemerintahan di Republik ini, setidaknya satu dasawarsa ke belakang. Kita (Rakyat indonesia) seperti mengalami sindrom “tanpa harapan” apa saja yang jadi kebijakan pemerintah bukanlah apa yang diharapkan rakyat, sesungguhnya.
Banyak contoh yang bisa diungkapkan, sebenarnya. Dan saya yakin anda semua terlalu cerdas untuk digurui dengan hal-hal yang bisa diperoleh dengan sekadar klak-klik bersama tuan Google.
Sebagai urang Minang, yang memang terkontaminasi berat oleh keyakinan, “Alam Takambang jadi Guru” para tetua kami di Minangkabau pernah memberi wejangan, “Agak-agak nan di ateh, nan dibawah kok ma-himpok”. (Hati-hati yang di atas – sedang berkuasa – yang di bawah bakalan menimpa). Dimana ada wejangan yang tersirat bahwa tak ada yang abadi di dunia, selalu ada pergantian, perubahan dan pertukaran.
Akumulasi perasaan tak berdaya, tanpa harapan itu pada saatnya kelak justru akan melahirkan kekuatan (Power) yang menurut kajian sejarah boleh jadi tanpa batas dan sangat kuat. PowerFull…!






