Walaupun sedikit dipangkas (hal penting ada disitu), akhirnya komentar saya diblog “pacaran” muncul juga. Mungkin sang ustadz yang mengaku Tidak Membodohi Pembaca ini, gak enak juga setelah saya susulkan dengan komentar yang menanyakan kemana komentar saya.
Sedikit saya ingin bertutur:
- Saat-saat sedih, Muhammad saw sedang berbincang dengan Abu Bakar as Shiddiq, lalu muncul Jibril as mengusung gambar seorang perempuan dan mengabarkan bahwa Allah swt telah menikahkannya “di langit” dengan perempuan itu, yang tidak lain adalah Aisyah (Ridha Allah atasnya) – Akhirnya dengan gembira Abu Bakar segera menikahkan pula “di bumi” puterinya dengan Rasulullah saw.
- Seorang puteri yang menolak anjuran ibunya mencampur air pada susu sebelum dijual ke pasar. Ibunya hanya segan dan takut dengan Umar bin Khattab al Faruq dan yakin beliau takkan tahu (padahal Umar sedang “nguping”) – sementara anaknya takut kepada Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar. Al Faruq pun segera pulang ke rumah menemui anak-anaknya dan mengabarkan siapa yang ingin menikah dengan perempuan pilihannya. Tanpa sempat bertimbang lagi, (apalagi pacaran) segera seorang anaknya menyambut tawaran sang bapak ini. Anak Umar dan Puteri penjual susu itu melahirkan seorang yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Seorang Pemimpin yang sangat adil yang pernah ada dimana di masanya kambing dan serigalapun bisa berdampingan.
- Seorang yang memakan buah hanyut, tiba-tiba sadar kalau buah itu belum sepenuhnya “halal” lalu ia menelusuri sisi sungai menuju hulu dan bertemu dengan pemilik buah itu. Namun untuk permohonan “halal” itu mesti menunggu dan bekerja padanya. Dan terakhir diminta menikahi puterinya yang Buta – Tuli dan Lumpuh. Obsesinya untuk mendapatkan “sertifikat halal” akhirnya menerima puteri yang Buta dari melihat yang maksiat, Tuli dari mendengar yang sia-sia dan Lumpuh bila dilangkahkan ke arah yang terlarang (jadi gak sempet pacaran) itu. Pasangan ini melahirkan Imam Syafe’i yang ajaran menjadi rujukan ‘alim ulama di Indonesia.
3 contoh agung diatas, adalah contoh pernikahan menurut islam tanpa melalui proses pacaran dan melahirkan generasi islam yang luar biasa. Maknanya, tanpa pacaranpun tak mengurangi makna pernikahan itu, karena proses mengenal, mencintai, mengasihi dapat dimulai setelah menikah.
Saya cuma gerah dengan istilahnya. Bukankah umat islam itu dilemahkan dengan “istilah-istilah” dulu pada awalnya. Pelan-pelan setelah istilah itu diterima logika dan menjadi hal yang biasa barulah nanti masuk ke tahap “penghacuran” berikutnya.
Dan ternyata ada yang sepertinya sepaham dengan saya, menulis seperti ini di blognya:
Ini bisa kita maklumi karena sang penggagas juga adalah seorang penulis buku, beliau tentu ingin bukunya laku, dan untuk itu beliau membutuhkan citra yang baik. Tetapi sebenarnya jika sang penggagas mau memikirkan lebih jauh saran dan kritik dari ikhwah lainnya, bukan tidak mungkin buku-buku beliau akan jauh lebih baik lagi hasilnya tentunya setelah melakukan revisi-revisi. Alasan yang dikemukan oleh sang penggagas pun sebenarnya bisa dikatakan baik, hanya saja alasan yang baik harus dituangkan dengan cara yang baik dan benar. Dan menurut saya, “mengislamisasi” pacaran itu adalah sebuah cara yang tidak baik dan juga tidak benar.
Lalu tuan Mustika pun kecewa terhadap “blog kontra” itu dengan alasan peblognya anonim. (Lucu juga ya?) Dan sayapun tergoda untuk melakukan “penyerangan terbuka”, namun komentar saya “disunat” oleh penjual buku itu. Atas dasar “blog aing kumaha aing” (pinjem istilah : Teh Joerig) saya tentu tidak bisa memaksa, namun perlu mempertanyakan. Akhirnya komentar itu dimoderasi setelah disunat. Kalau gak salah, yang disunnat itu … intinya (saya lupa redaksionalnya):
“bukankah yang sulit diingatkan itu adalah kalangan ustadz?
Dalam pemahaman saya, ‘alim (bila sendiri) ‘ulama (bila banyak) bila diingatkan agar berhati-hati (bertaqwa) kepada Allah swt – dengan rendah hati dan rasa takut yang tinggi akan menangis sejadi-jadinya. Umar bin Khatab bergetar badannya karena takut bila ada yang mengingatkan beliau tentang kehati-hatian itu. Hatta, peringatan itu muncul dari seorang rakyat jelata bahkan budak sekalipun.
Jadi, untuk tuan Mustika, saya hanya keberatan dengan istilahnya saja, sebaiknya anda ganti dengan “Pacaran a la Mustika” itu akan membuat anda lebih terhormat sebagai penulis dengan latar belakang islam. Kualitas anda sebagai seorang penulis dan ustadz tidak akan serta merta menjadi luntur tanpa wibawa hanya dengan menerima usul dari seorang Tukang Tutur seperti saya ini.
“Semua yang benar itu dari Allah – yang keliru itu milik saya yang bodoh” – wal lahu ‘alam…









September 24, 2007 pada 5:54 am
yah yang gini ini benar….
September 24, 2007 pada 6:10 am
Hmm….bisa diterima akal..
September 24, 2007 pada 6:52 am
Assalaamualaikum wr wb
Yang benar harus di sampaikan, sepahit apa pun
——
alaikasalam
September 24, 2007 pada 7:25 am
——
September 24, 2007 pada 8:05 am
Pacaran yang islami, adakah???
*bingung*
September 24, 2007 pada 10:38 am
Berbeda pendapat saya kira hal yang biasa terjadi dalam dinamika perjalanan Islam, termasuk mungkin dalam masalah pacaran atawa masa-masa pranikah. Mangga, yang penting nilai-nilai kebenaran tetap dijunjung tinggi. Salam.
[kt2]
——
berbeda itu rahmat
*akurrrrrrr….*
September 24, 2007 pada 11:11 am
Wogh.. mantap nih kang tutur artikelnya!
bravo! *berdiri di barisan kang tutur*
——
walah, *kompor mode ON*
September 24, 2007 pada 11:45 am
logh link aku kok dibawa-bawa
itu trakbak juga ke wallpaper
afwan. mohon dikoreksi
——
masih enak ngomong wallpaper yg islami dari pada “pacaran”
aduh….. biyuuuuuung, guemmmes aku
*taksobeksobek*
[kt2]
September 24, 2007 pada 3:26 pm
wah…bakal ada pacaran dalam jenis buanyak banget dong Kang?
<[kt2]
ada pacaran a la Kang Tutur, pacaran a ala Siwi…dll…
(senyum Siwi)>
…. dimarahin tanggung sendiri ya chiw?
September 24, 2007 pada 3:37 pm
Wah saya kok setuju, mungkin merasa berilmu atau bawaan dari ilmu itu sendiri yang nggak gampang nerima
——
mungkin bawaan ilmu
September 24, 2007 pada 3:44 pm
Oh, jadi ndak suka ama istilahnya toh. *manggut manggut*
——
iya, sih…. [kt2]
September 24, 2007 pada 4:25 pm
yah jangan gitu atuh kang…
nanti kalo masalah suruh ikut Rasul n sahabat, taarufan nyang banyak dilakuin temen2 aktivis juga kaga boleh dong…koz kaga ada sejarahnya rasul dateng ke rumah akhwat trus nanya ini itu, balik lagi seminggu kemudian…tanya jawab lagi, tes ini itu…
lagian si jaman dulu mah relatif lebih gampang kalo mo liat ni org bae ataw kaga…kira2 cocok ataw kaga…perwakilan yg ditanyaim…bae kluarga ataw sodaranye paca jujur smua..nah jaman gini…salah beli kucing dalem karung…
lah iya kalo pas dapet yg pas…kalo pas dapet yg “salah”? masa iya kudu dicere…ataw g mungkin juga kalo dipaksain jalan aja…
——
walah iya ya – ini zaman sudah terkontaminasi jadi apa2 perlu ditambahin “islami” [kt2]
September 24, 2007 pada 4:27 pm
Di blog pacaranislami itu, ternyata ada banyak komentar yang masuk ke bagian spam akismet, termasuk komentarnya Kang Tutur, bahkan juga beberapa komentarku sendiri.
Terima kasih atas artikelnya, Kang. Berkat artikel Kang Tutur ini, banyak orang berkunjung ke blog Pacaran Islami pada hari ini, sehingga mereka bisa memeriksa sendiri pandangan mana yang lebih tepat di mata mereka. Bagaimanapun, aku sangat menghargai pandangan Kang Tutur.
Alasan mengapa istilah “pacaran islami” lebih sering kami pakai telah kami ungkap di Penjelasan
Kalau Kang Tutur tak suka, silakan untuk lebih mempopulerkan istilah lain, semisal “tanazhur pranikah”.
Akhirulkalam, fastabiqul khayraat.
Maka marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan.
——–
spam akismet? ih….., serem itu…….
walah, komentar anda kok bisa nongol disini tanpa dimoderasi,
terimakasih penjelasannya [kt2]
September 24, 2007 pada 6:47 pm
ternyata blog pacaran Islami juga anak buahnya Joerig, sama2 make falsafah B.A.K.A
gmana neh ::)
——
kenava Jenderal
September 24, 2007 pada 6:59 pm
@ jendral bayut
falsafah BAKA itu oke, asal masih berada dalam ranah pribadi. artinya hanya berkaitan dengan diri kita. Akan tetapi ketika menyentuh area publik maka falsafah itu tidak tepat digunakan.
Btw, joerig kemana ya? kangen nih
——
apa masih diikat???
September 24, 2007 pada 7:23 pm
[...] Sang blogger misterius berkata: … ketika pendapat yang disampaikan oleh mereka yang tidak menyetujui pacaran islami itu [...]
September 24, 2007 pada 8:42 pm
hmmm wuaaah woooow, mana yang benar ? ngga ada yang tahu cuma ALLAH yang tahu, semoga semua benar
——
iya, kalo itu sih… [kt2]
September 25, 2007 pada 1:43 am
otakmu tak bisa menjangkaunya
September 25, 2007 pada 3:03 am
“Semua yang benar itu dari Allah – yang keliru itu milik saya yang bodoh”
setuju kang.
——
he.. he..
September 25, 2007 pada 3:25 am
@all
terimakasih, semua jadi terbantu terjelaskan
September 25, 2007 pada 3:45 am
hmmm,aku belum baca sih…artikel “pacaran ala…..”
“
baru bisa beri komentar:”
September 25, 2007 pada 5:55 am
Cara termudah melemahkan ISLAM bukan dengan melawan secara frontal tetapi membius pemeluknya dengan “kebebasan”, “hak absolut individu” & “perubahan zaman” dan utamanya menjauhkan agama dalam keseharian. Agama dijadikan urusan perseorangan sementara dalam hal pergaulan yang berlaku adalah “norma umum” yang lebih cenderung kepada “norma kebebasan”.
——–
Nah, ini benar yg saya maksud….. makasih Uda Ferry [kt2]
September 25, 2007 pada 6:17 am
yah, gitu deh banyak yg pro dan kontra. sikan sikana bae lah ….
[kt2]
oom shodiq jadimakin terkenal, lha fotonya juga dipajang je …
——
o…, gitu ya? barangkali dg rendah hati dia mengganti istilahnya
September 25, 2007 pada 6:41 am
mari kita letakkan kebenaran pada tempatnya. hehehe …ngomong2 soal Komen yang disunat, gue sering mengalami…..hehehe. Bagi siapa2 yang komen di Blog gue, gue jamin tidak disunat karena gue yakin elo semua udah pada disunat…hehehe, yang belum sunat harap segera bersunat….hehehe, peace
[kt2]
——
lha, tapi sunat itu kan islami toh……
September 25, 2007 pada 6:51 am
Gak usah repot2 dech…yang mau pacaran ya sono, gak mau ya udah. Yang penting, kalau pacaran jangan ampe gelap mata, apalagi mata hati, buahayaa banget nantinya…
——-
kalo itu sih iya, Bu
masalahnya “pacaran” itu belum islam
jadi mo di islamkan dulu [kt2]
September 25, 2007 pada 8:04 am
Pacaran … ? ya emang enak pacaran sih.Ala islami tentunya. hehehehe….
September 25, 2007 pada 9:58 am
Jadi bahan pertimbangan, terima kasih kang…
September 25, 2007 pada 10:09 am
[...] dimasa Kemunduran Ummat Islam ini, lantas siapa lagi kah yang akan menyebarkan berita gembira ini, menjelaskan, mengenalkan, memberi contoh teladan, ber-DAKWAH, mengajarkan bagaimana manusia menyempurnakan IMAN [...]
September 25, 2007 pada 1:08 pm
saya rasa sudah cukup jelas ya?
Artinya sudah berpisah antah dengan beras, telah berkuak air dengan minyak…
benar atau salah terpulang kepada Yang Maha Hakim
September 25, 2007 pada 2:19 pm
Ntar… saya belum kasi komen nih…
Yang normal jangan pacaran …
Yang gak normal terserah…
OK, kang Tutur, silahkan di tutup …
September 26, 2007 pada 6:52 am
COOL BOS!
September 26, 2007 pada 11:13 pm
wah..dah ditutup tho Kang Tutur
Setuju mas Herianto, luar biasa, “dihajar” komen seperti apapun tetep adem
nambah usulan Akang aja, selain mengganti judulnya menjadi “pacaran ala mustika”..isinya juga jangan bawa2 Ustadz Abu Syuqqah, kasihan..iya kalau orangnya disini, bisa kasih nasehat langsung, lha ini kan orangnya jauh, minta maafnya susah lho..:)
Tapi ya ini sekedar saling mengingatkan aja, semua kembali berpulang kepada yang bersangkutan. Pokok e sing adem, sing ayem, sing adil, sisa ne kita pertanggungjawabkan dewe..wis.
Barakallahu fiikum
wassalamu’alaykum warahmatullah
Nopember 4, 2007 pada 7:15 pm
[...] taaruf, tanazhur trackback Salahku sendiri. Saat itu aku terjebak oleh rayuan maut kata-kata sexy Kang Tutur. Cantiknya tutur-katanya membuat diriku kehilangan akal sehat. Manisnya rayuannya…. oh, aku [...]
Nopember 5, 2007 pada 3:58 am
Halaaaaaah,
Ou……ou…….. Kamu ketahuan – Mau jualan!
Beli-beli………, hayoooooo……. keburu abissssssss!!!
Nopember 6, 2007 pada 5:24 am
[...] umat begitu terobsesi mengetahui jawaban apakah pacaran itu dihalalkan atau tidak? Mengapa begitu ingin tahu apakah Bunda Teresa layak masuk surga atau tidak? Karena sejak awal [...]
Nopember 10, 2007 pada 4:40 am
masih mendengar, melihat dan merasakan
Mei 4, 2008 pada 10:23 am
Sudah saatnya umat Islam berhati-hati dengan terminologi (peristilahan), karena serangan terhadap nilai-nilai Islam oleh orang-orang kafir, fasiq, munafik, atau musyrik antara lain melalui terminologi.
Sudah saatnya juga umat Islam berhati-hati dengan orang-orang yang menjual simbol-simbol Islam untuk mendapatkan sejumlah uang.
Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com
Februari 17, 2009 pada 2:02 am
assalamualikum pak ustadz
jangan menghina orang barat, mereka juga makhluk Tuhan, tolong dihapus artikel2 yg berisi tokoh2 barat yang anda hina