Malu? Ntar Dulu, Coy!

Agustus 6, 2008

Pejabat Mundur? Di luar negeri sering kita dengar. Dengan sedikit skandal saja bila tercium oleh Pers maka secara spontas dan legowo mengundurkan diri. Tidak peduli apakah itu sudah terbukti atau belum. Bagi mereka menjadi bahan “gosip” saja cukup untuk merasa kehilangan muka. Bahkan di Jepang, tak jarang kita dengar sampai HARAKIRI.

Indonesia? Ntar dulu Coy!

Bukannya apa-apa, karena dengan mengundurkan diri maka HAK-HAK ISTIMEWA sebagai pejabat yang dapat dimaknai sebagai KEBAL HUKUM, akan hilang. Sebab dengan tidak menjabat maka pandangan dan respek para kolegapun akan menurun. Maka yang timbul itu ketakutan. Dan jurus satu-satunya adalah “pasang badan” – mari kuat-kuatan – dan keluarkan jurus MUKA TEMBOK – TELINGA KUALI.

Mundur? Ntar Dulu Coy!!!

Mundur? Ntar Dulu Coy!!!

Paskah Suzetta, Ketua Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas), dimana di tangannyalah Pembangunan Bangsa ini direncanakan tersandung kasus yang bermuatan korup. M.S. Kaban, menteri yang mengurus kelestarian hutan pun demikian.

Sebuah, jajak pendapat, walaupun pemiliknya mengakui tidak dapat dijadikan sebagai “acuan resmi” namun kalau hasilnya cukup signifikan aku rasa dapat dipakai sebagai rujukan. Setidaknya sebagai rujukan moral, rasa tanggung jawab dan rasa Malu.

Malu? Ntar dulu Coy?

“Wah, jangan bicara malu deh… rata-rata URAT MALU mereka sudah PUTUS”

>> Semangat hari Rabu Bloggers, Bagaimana dengan URAT MALU anda?

Tags: , , , , , , , ,

2 Tanggapan ke “Malu? Ntar Dulu, Coy!”

  1. Hedi Berkata

    saya nggak tahu apakah kita2 ini juga akan punya langkah sama atau mundur saat bermasalah seperti Paskah atau Kaban :D

  2. Indah Sitepu Berkata

    Di Indonesia kebanyakan sih lebih bangga jadi orang kaya dari pada jadi orang jujur.


Tinggalkan Balasan