Baringin gadang di tangah Koto
Batangnyo tampek basanda
Daunnyo tampek balinduang
Beringin besar di tengah Kota
Batangnya tempat bersandar
Daunnya tempat berlindung
Di Minangkabau, Beringin adalah perumpamaan bagi Penghulu Adat atau Ninik Mamak. Dimana seorang Penghulu adalah tempat bertanya ketika tidak tahu, tempat meminta ketika tidak punya, tempat mengadu ketika merasa takut dst. Wibawa Ninik Mamak diibaratkan dengan kegagahan sebatang beringin yang tumbuh di tengah alun-alun kota.
Dulu, ketika ada anak-kemenakan yang “nakal” hingga dicari oleh Polisi untuk ditangkap. Maka sang Penghulu dengan wibawanya, dapat meminta agar diberi kesempatan “mendidik” anak-kemenakannya. “Belum saatnya bapak mengajar anak-kemenakan kami, berilah kami kesempatan untuk memperbaiki kekurangan ajarannya”, begitu kira-kira sang Mamak, berusaha “menutup malu” yang telah diperbuat oleh anak-kemenakannya. Biasanya permohonan itu dikabulkan, karena pada zaman itu Penghulu dan Ninik Mamak masih memiliki wibawa, disegani dan jadi teladan anak-kemenakan.
Sakali aiea dalam-sakali tapian barubah. Seiring dengan perkembangan zaman, kewibawaan Penghulu dan Ninik Mamak mulai luntur dan mengalami degradasi, karena para Penghulu mulai melanggar nilai-nilai luhur yang seharusnya sehingga tak patut lagi menjadi “panutan” bagi anak-kemenakan. Hilang kepercayaan kepada Penghulu.
Dek tungkek nan mambaok rabah. Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari.
Zaman sekarang, sudah banyak kejadian justeru Penghulu dan Ninik Mamak yang melaporkan “kenakalan” anak-kemenakannya kepada Polisi, karena sudah merasa tidak sanggup lagi “mengajar” mereka dengan nilai-nilai moral.
.: Tulisan ini terinspirasi karena tumbangnya sebatang pohon beringin di tengah Kota Bogor:. Adakah,ini pertanda bahwa alam juga sudah tak percaya kepada para pemimpin kita? Atau? Ada pendapat lain?
>> Semangat hari Minggu bloggers, apakah libur anda menyenangkan?









Agustus 24, 2008 pada 6:21 pm
apa ada pengaruhnya dengan majunya ki gendeng pamungkas
Agustus 25, 2008 pada 7:06 am
orang minang juga ya om?
—
iya, anda di Malaysia?