Buka Bersama Menteri

September 7, 2008

Ah, ini hanya sebuah kenangan beberapa tahun yang lalu.

Sudah menjadi rahasia umum kalau pekerja media itu adalah makhluk setengah istimewa di negara ini. Tadi pagi baru ditegor, diremehin oleh pemilik kontrakan karena menunggak. Namun malam harinya dia sedang bergembira menghadapi semaraknya hidangan berbuka di Departemen X bersama menteri dan para stafnya. Jamuan Buka Bersama yang tak pernah terbayangkan. Aneka minuman dingin berbagai warna, ada yang putih, merah, hitam, oranye dan coklat. Beragam lauk, mulai dari ikan, udang, ayam, daging dengan aneka gaya memasaknya. Digoreng, digulai, dikukus, disambelin, dikecapin dan seterusnya. Ngiler? Tentu.
Siapa yang membayar semua ini? Apakah setiap tahun tiap-tiap departemen menggelar hajatan ini? Berapa banyak uang negara yang dikucurkan? Ah, bodo amatlah, kagak usah dipikirin, sikat saja dulu. Lapar seharian harus segera dikenyangkan.
Namun belum lagi hidang itu bertengger di piringnya, teringat anak dan bini di rumah. Dengan apakah gerangan mereka berbuka puasa? Pidato sang Menteri, basa-basi dan loba-lobi para hadirin tak lagi menarik bagi dirinya. Angannya melayang membayangkan seremnya muka pemilik rumah yang ditumpanginya bersama keluarga. Ia ingin segera berlalu dari situ. Tapi?
Aha, akhirnya seorang staf meminta mereka memasuki sebuah ruangan. Antri bagaikan menunggu cairnya dana BLT di kantor Pos.

“Dari media mana mas?”, tanya staf itu.
“X-Post”, jawabnya. Staf itu pun melihat daftarnya.
“Ini, silahkan terima dan tanda tangan di sini”, setelah dilihatnya memang ada wakil dari X-Post di dalam daftarnya.

Getir sebenarnya, tapi melihat rekan-rekan tampaknya gembira dia pun berusaha memancarkan keceriaan. Lagi, pula lembaran-lembaran yang ada di amplop itu diharapkan dapat menghilangkan raut cemberut pemilik kontrakan. Dan bila ada sisanya bolehlah buat beli baju lebaran anak-anak.
Dengan tegap dan gagah dia pun kembali ke rumah menapak jalan-jalan berliku dalam gang-gang sempit. Sampai di rumah dicobanya untuk tersenyum membalas senyuman sang isteri setelah menerima amplop “titipan” pak Menteri itu. Lalu direbahkan badan ringkihnya di ranjang dengan sebuah desahan.

“Oh, aku. Oh, bangsaku…!”

>>Semangat hari Minggu, apakah anda juga punya kenangan masa lalu?

Tags: , , , , , , ,

3 Tanggapan ke “Buka Bersama Menteri”

  1. aRuL Berkata

    salam sama menterinya kang :D

  2. adipati kademangan Berkata

    Benar – benar pilihan yang sangat membahayakan

  3. Chic Berkata

    wooogh sulit.. sulit…


Tinggalkan Balasan