Sholat itu nomor 2

Agustus 14, 2007

Entah kenapa?

Beberapa hari ini hatiku merasa agak gersang, tidak banyak ide menulis yang muncul. Kering, bahkan selesai sholat dan dzikir pun masih terasa. Tidak seperti biasanya, kalau mengalami rasa seperti ini, dengan melakukan sholat hatiku ada ketenangan, damai dan tenteram. Berpikir, bekerja dan menulis pun hasilnya jernih. Tapi kini benar-benar kering…

Ah, mungkin sholat ku di tolak, astaghfirulloh…….! Mudah2an tidak…!

Aku teringat “di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging – apabila dia baik maka baiklah sekujur tubuhnya dan apabila dia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuhnya” [al Ghazali]

Dan satu lagi, “… apabila sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya dan perbuatannya… sholat adalah mi’rajnya orang2 beriman”

Sholat dan hati memiliki kedudukan penting di tempatnya masing-masing. Dan sholat tanpa hati sepertinya inilah yang membuat “kekeringan” rasa yang sedang ku hadapi. Ada apa ini?

Aku merenung lebih dalam… lagi dan lagi…! Muncullah bisik dari lubuk hatiku….

Sholatlah untuk mengingat Allah….!

dan, hanya dengan mengingat Allah lah hati itu menjadi tenteram….

Betul, berarti ada yang salah dalam sholatku. Jujurkah aku? Ketika berkata, “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah, Penguasa segenap alam….!” Sholatku belum jujur, belum ikhlas, demi sesuatu……., entah karena takut adzab neraka saja atau hanya karena harap sekali masuk sorga. Wuaduh, bagaimana bisa masuk sorga dengan modal sholat seperti ini? Bukankah seharusnya sholat adalah saat bermesraan – berkasihan dengan Allah?

“……celakalah orang-orang yang sholat, mereka lalai dalam sholatnya…..!

Astaghfirullaaah, wa atubu ‘alaik….!

Adakah ini gara2 canda seorang teman yang berkata, sholat itu “nomor 2”? Walaupun leluconnya itu berdasarkan pemahaman atas Rukun Islam yang benar. Benar sholat itu nomor 2, nomor 1 adalah mengucapkan kalimah syahadat.

Astaghfirullaaah, wa atubu ‘alaik…., innaka anta tawwabur rohiim….! aamiin

Iklan

31 Tanggapan to “Sholat itu nomor 2”

  1. aRuL Says:

    semoga tetap istiqomah aja…. 🙂
    *Pertamax yah?*

  2. kangtutur Says:

    insyaalLah, terimakasih ustadz!

  3. riko Says:

    Lakukan apa yang membuat anda senang….
    dan kerjakan apa yang membuat anda tenang !!!
    insya allah akan membuat hidup anda tentram.

  4. alex Says:

    Istiqamah, Kang….
    Mungkin karena *maaf* shalat cuma jadi sekedar ritual saja, maka ndak tentram.
    *cuma pendapat, jangan diambil hati.. 🙂 *
    ————-
    betul, agaknya perlu mendefinisi ulang makna “ibadah” ❓ tksh

  5. danalingga Says:

    itu istilahnya ibadah yang kering, ndak ada airnya tuh.
    —-
    agaknya perlu mendefinisi ulang makna “ibadah” ❓ tksh

  6. abusilman Says:

    Shalat itu memang no 2 di rukun Islam tapi shalat itu merupakan alat komunikasi yang ampuh antara kholiq dan makhluknya. Apalagi kalau di malam hari pasti lebih asyik dengan tahajudnya……..
    ————–
    terimakasih ustadz 😆

  7. aRuL Says:

    *yang ustadz siapa ya? 🙂 *
    ———
    yah, mas aRuL lah (eh…ngomong2 apakabar Pilipina?)

  8. erander Says:

    Manusiawi koq Kang .. ibarat air dalam gelas, selesai diminum diisi lagi. Begitu juga menulis .. setelah pikiran menjelma menjadi tulisan, pikiran perlu di charge atau diisi ulang lagi.
    JK Rowling ada perlu pause beberapa waktu sebelum menulis serial Harry Potter nya. Mungkin Kang Tutur perlu pause dulu.
    Saya tunggu tulisan berikutnya.
    ————
    He… he…, iman juga bisa naik turun 😆

  9. nailah zhufairah Says:

    begitulah… makin jelas bahwa sholat itu bukan hanya sebatas kewajiban, tetapi juga kebutuhan ruh
    ———
    makasih juga ustadzah 😆

  10. LeftClick Says:

    No comment ahh… Malu ak

  11. hmcahyo Says:

    BEtul setuju 🙂

  12. Evy Says:

    tulisan bagus aku setuju buanget, sholatlah untuk Allah dan bersyukur atas segala rahmatNya kepadamu
    ————-
    he, bu dokter juga mampir? seperti gigi hati perlu dibersihkan juga :mrgreen:

  13. anginsurga Says:

    Assalamualaikum….
    bergetar hari ini membaca artikelnya 😦
    sadar akan kekilafan..
    syukron mas..
    ———-
    ‘alaikum salam – “ketika disebut ayat Allah bergetar hatinya……….” 😆

  14. LeftClick Says:

    Duhh syukron tuh apaan yak?
    Uridu an u’arifa nafsi is me Edward, wawulittu fil hadza 😛
    ————–
    salam kenal juga 😆

  15. s1w1 Says:

    Urutannya memang no 2 tapi itu wajib dilaksanakan sebagai umat Islam.
    ———-
    iya, betul ustadzah, tksh

  16. udienz Says:

    1. ‘ketika di akhirat nanti, sholatlah yang pertama kali di pertanggung jawabkan’
    2. ‘Sholat itu adalah tiang agama’
    keep your spirits!!! come on be brave!!


  17. Tulisan ini oke banget.
    ———–
    udah layak dimuat di Majalah ❓ – :mrgreen:


  18. Sholat ?…
    Ah aku jadi pengen juga ngerasain…
    Bener gak sih?
    ———
    Coba deh, buuedddda rasanya…….!!!

  19. oshibori Says:

    euh.. mungkin kabayan lebih salah lagih.. solat karena nikmat… hikz
    ——–
    ah, masak iya sih ?

  20. kangtutur Says:

    @semua
    terimakasih, atensinya. ternyata kegundahan hatiku terobati dengan saling berbagi ini 😆

  21. almas Says:

    wah terlambat saya
    🙂
    nomor dua dalam urutan.. kalo dah selesai yang pertama berarti nomor dua yang paleng utama deh kayaknya
    :mrgreen:


  22. shalat memang yang nomer 2.
    semuanya tergantung kita memaknainya secara tersurat atau tersirat 🙂
    justru ini seperti bukti yang menunjukkan sebuah KEBESARAN 😉
    *setidaknya menurut saya*

  23. hatinurani21 Says:

    @ udienz,
    Dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi. Kita, orang Nusantara, tidak bisa menuruti perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah. Apalagi menuruti perlakuan-perlakuan yang sekarang tidak manusiawi dengan kedok Islam.
    Contoh dogma-dogma yang keliru di Al-Qur’an:
    Soal poligami:
    Umat muslim bilang wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Hal ini sangat keliru. Di Cina, dengan politik anak tunggal, orang Cina memilih anak laki-laki, hamilan anak perempuan biasanya digugurkan. Akibatnya, saat ini cowok lebih banyak daripada cewek. Jadi Al-Qur’an tidak berlaku di Cina. Jadi “wahyu” Tuhan yang di Al-Qur’an itu hanya berlaku di Arab saja. Disini kebenaran wahyu bisa dipertanyakan.
    Soal halal-haram makanan:
    Umat muslim mengharamkan daging babi. Hal ini sangat keliru. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia. Jantung atau paru-paru manusia yang sakit bisa diganti/dicangkok dengan jantung atau paru-paru babi. Ini adalah solusi yang ideal karena kelangkaan donor. Berarti Al-Qur’an tidak berlaku lagi disini. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.
    Soal ke-najis-an binatang anjing:
    Anjing adalah najis buat umat muslim. Hal ini sangat keliru karena anjing saat ini sangat membantu manusia, seperti: pelacakan narkoba dipakai oleh polisi duana, membantu menyelamatkan orang-orang yang masih hidup yang tertimbun oleh runtuhan bangunan akibat gempa bumi, menyelamatkan pendaki gunung yang ditimbun oleh longsoran salju, teman hidup dan pengantar orang buta, membantu peternak domba untuk mengembala ratusan domba di gunung-gunung, membantu menemukan pelaku kejahatan kriminal, menyelamatkan pemilik anjing yang sendirian yang korban kecelakan di rumahnya sendiri (anjing terus-terusan menggonggong sehingga tetangga datang untuk menyelamatkan pemilik anjing tersebut), dan banyak lagi. Disini, Al-Qur’an sama sekali tidak berlaku. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan yang ada di Al-Qur’an. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.
    Dan banyak lagi dogma-dogma lainnya yang keliru yang kita dapatkan di Al-Qur’an.
    Sebagai kesimpulan, kita harus menjawab pertanyaan – pertanyaan berikut ini:
    – Melihat dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi, apakah Islam agama universal?
    – Haruskan kita, orang Nusantara, meniru perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah?
    – Haruskah kita, orang Nusantara, menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi sekarang dengan kedok Islam?
    ——
    gimana bang udienz?
    sepertinya, anda lebih kompeten menjawabnya daripada diriku [kt2]
    ——
    @hatinurani21
    Menurutku:
    Islam itu Universal
    Islam justeru merubah perilaku jahiliyah bangsa Arab
    Dan perlakuan yang tidak manusiawi itu jelas bukan ajaran Islam.

    Menyayangi “seluruh alam” ini, itulah ajaran islam.
    Barangkali (ma’af) Paris membuat anda takut dg islam?

  24. almascatie Says:

    buset… maaf spam berbuih hatinurani ini mengalir deras jga ya… ckkckkckckc


  25. […] Membangkang? Kita singkirkan dululah janji-janji sorga dan ancaman neraka! Ketika Islam menyuruh sholat, puasa, zakat, haji, menyebarkan keselamatan, membantu sesama manusia (bahkan sesama makhluk) dan […]

  26. Prince Says:

    Ajaran Islam tak akan pernah bisa dipahami dg penuh keikhlasan selama cara pandang yg dipakai adalah pola pikir non-Islami.
    Buat mereka yang di luar kalangan Islam (non-muslim) memandang kehidupan dunia adalah kehidupan yg sebenarnya. Mereka mengorbankan segala upaya dan pikiran, bahkan jiwa, untuk kebahagiaan nisbi di dunia. Sementara di dalam Islam, jika anda telah memahaminya, kehidupan yg sebenarnya, yg sejati, adalah kehidupan di hari kemudian di alam akhirat. Kehidupan dunia tidak lebih hanyalah ‘jalan sempit’ penuh cobaan yg harus kita lewati untuk menuju kehidupan sejati.
    Selama kita tidak menemukan, memahami, makna kehidupan ini maka selama itu pula kita hidup dg cara ‘dunia’. Segala sesuatu kita timbang, kita telaah, kita utak-atik, berdasarkan untung-rugi bagi kehidupan dunia.
    Seperti yg dikritisi oleh hatinurani21 di atas dan orang-2 yg sepaham dgnya.
    Hukum/aturan yang diberikan oleh Alloh Swt bagi kemaslahatan manusia seharusnya dipandang/diterima dg pola pikir yg sesuai dg tujuan asasi Alloh Swt menciptakan manusia, yaitu ibadah. Hukum/aturan dari Tuhan adalah hukum/aturan, titik. Terima dg ikhlas sebagai sarana untuk menuju (ibadah) kpd Alloh Swt. Perkara apakah ada hikmah dibalik hukum tsb, dan memang demikian adanya karena mustahil bagi Alloh membuat sebuah aturan/hukum tanpa manfaat, itu adalah sesuatu hal yg lain yg bisa kita telaah utk menambah keimanan kita dg penuh kesadaran bahwa akal manusia memiliki keterbatasan. Syukur kita bisa memahami hikmah di balik hukum tersebut, selebihnya adalah keikhlasan kita menerima dan taat kepada hukum Alloh sbg sarana kita utk berada di jalan yg diridhoi-Nya.
    Jangan dibalik, dicari-cari dulu apa hikmahnya, apa manfaatnya dari sisi kehidupan dunia, baru kemudian mentaatinya.
    Inilah yg tak bisa dipahami oleh orang-2 di kalangan non-Islam di dalam memandang (dan juga mencibir) hukum-2 Islam.
    Mereka ingin sok bermain logika, tetapi lupa bahwa ilmu logika (mantiq) itu dikenalkan oleh dunia Islam di masa lampau. Salah satu contohnya adalah spt yg disampaikan oleh hatinurani21, yg nuraninya tidak Islami ini, yg memperlihatkan baaimana ia keplintir oleh logikanya sendiri :
    Poligami
    Hukum poligami BUKAN sebuah kewajiban (fardhu) bagi umat Islam. Ia tak lebih adalah sebuah sarana, aturan, dalam situasi dan kondisi yg khusus, dg aturan yg khusus dan khusus bagi mereka yg membutuhkannya. Bagi yg tak membutuhkan, atau bahkan tidak menyukainya, tak ada keharusan utk melakukannya.Jadi gak ada hubungannya sama sekali dg apakah jumlah wanita lebih sedikit atau banyak. Lagipula statement bahwa jumlah wanita di suatu negara/lokasi lebih sedikit/banyak menurut saya masih perlu diuji kebenarannya. Karena memperbandingkan jumlah wanita dan pria dlm hal ini haruslah dalam konteks untuk menikah, sehingga mereka yg tidak berada dlm kelompok layak menikah tidak bisa dihitung. Misalnya, jumlah penduduk suatu lokasi 500 org wanita dan 600 lelaki. Data spt ini tidak cukup utk menggambarkan jumlah lelaki lebih banyak dalam konteks berpasangan/menikah. Mengapa ? Karena ternyata dalam jumlah 600 orang pria tersebut ada 50 orang kakek-2, 25 org penderita impoten, 30 orang rahib dan 150 orang anak-2. So, mana yg lebih banyak sekarang ??
    Soal halal-haram makanan:
    Ditemukannya bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia TIDAK BISA menjadi argumen utk mengukur kebenaran hukum haramnya memakan babi bagi umat Islam karena itu bukan satu-2nya cara. Masih banyak cara lain yg lebih Islami. Logikanya, kita semua mengetahui bahwa ketidakseimbangan jumlah penduduk suatu negara dibandingkan dengan jumlah penghasilan negara tsb dimana jumlah penduduk lebih besar daripada penghasilan total negara tsb maka akan menyebabkan negara tsb berada dalam kesulitan ekonomi. Pilihan logisnya ada dua, kurangi penduduk atau naikkan penghasilan. Jika negara di mana hatinurani21 tinggal, mengalami situasi tsb dan pilihan pertama yg dipilih, apakah kita harus membunuh hatinurani21 dan teman-2nya utk mengurangi sebagian penduduk negara tsb? 🙂
    Tentu tidak, karena masih ada cara-2 yg lebih bisa diterima, KB misalnya.
    Soal ke-najis-an binatang anjing:
    Inilah akibat kalau seseorang tidak memahami permasalahan secara gamblang kemudian berkomentar.
    Islam hanya menghukumi najis jilatan anjing, bukan mengharamkan untuk memfaatkan anjing utk berbagai kepentingan manunia.
    Anjing terdapat di seantero dunia, termasuk di jazirah Arab. Di jaman Nabi Saaw juga banyak anjing dan masyarakat Islam pada waktu itu juga memanfaatkan anjing untuk berbagai keperluan spt menjaga kebun, menggembala, berburu dsb.

    Islam memang mengedepankan akal. Bahkan Nabi Saaw bersabda, “Ad-diinu huwa ‘aql”, agama adalah akal, tidak beragama orang yg tidak menggunakan akal.
    Namun kita juga harus memahami dalam tataran apakah akal dipergunakan ? Bagaimanakah metode penggunaan akal dalam Islam ?
    Di dalam menimbang kebenaran, lingkup yg mutlak memerlukan telaah akal/logika adalah masalah aqidah (keyakinan). Kita harus bisa memahami dan meyakini secara logika masalah Keesaan Tuhan (Tauhid), Kenabian (Nubuwah) dan Hari Pembalasan.
    Namun dalam masalah hukum/aturan, penggunaan akal terbatas dalam masalah kevalidannya, bukan nilai kebenaran di dalamnya maupun hikmah di baliknya.

    Itu menurut saya, setidaknya itu yg bisa saya pahami sejauh ini dalam beragama. Saya tak lebih dari sekedar hamba Alloh yg belajar memahami makna hidup yg sebenarnya. Jauh dari kesempurnaan baik ilmu maupun ibadah.
    Wallohu a’lam.

  27. kangtutur Says:

    Setelah lewat setahun, ternyata ada juga yang dapat menjelaskan?

    @Prince: Makasih

    Ada lagi?

  28. Prince Says:

    sorry kang… jadinya terlihat menggebu-gebu dan menggurui… niat saya cuma sekedar menuliskan informasi pengimbang.

    Btw, pengalaman sholat saya krg lebih mirip dg akang, bahkan saya hidup sampai setua ini belum merasakan manfaat sholat, spt akang bisa baca dlm tulisan saya di http://yourprince.wordpress.com/2008/07/15/sholat-bersama-blogger/

    Sampai dg sebulanan terakhir ini, saya akhirnya merasakan nikmatnya sholat dan mendapatkan manfaat darinya. Setelah secara iseng membeli dan membaca sebuah buku berjudul “Kisah-Kisah Shalat”, karangan Qasim Mirkhalaf Zadeh, terbitan Qorina.
    Kesadaran saya terketuk, betapa memalukan diri saya dibanding pelaku sholat di dalam kisah-kisah tersebut, bagaikan bumi dan langit.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: