Kekuatan Sholat Bersama

Agustus 28, 2007

Kata ustadz sholat wajib bersama di mesjid lebih berlipat pahalanya dibanding dengan sholat sendiri di rumah. Bahkan seorang yang buta pernah minta keringanan tidak diizinkan oleh Rasululloh saw untuk sholat wajib di rumah dan akhirnya dipasanglah tali dari pintu rumahnya ke pintu mesjid.

Saya tidak sanggup mengkhayalkan seperti apa pahala yang berlipat ganda itu. Namun ketika sholat jum’at saja sangat terasa kebersamaan itu. Andaikata sholat bersama itu 5 kali sehari di mesjid. Dan, agar syiarnya terasa dianjurkan tepat setelah waktu masuk.

Mari membayangkan!

Ketika adzan sudah berkumandang, ambil contoh sholat dzuhur dan ashar dan setiap muslim bergegas meniggalkan “urusan dunia” mereka berburu kemenangan yang dijanjikan Allah swt. Sopir-sopir angkot, metro mini, kopaja, bajaj berhenti maka penumpangnya bila muslim akan ikut sholat bersama dan bila non-muslim akan menunggu atau pindah mobil yang juga dikemudikan oleh non-muslim. Bayangkan deretan mobil parkir….!

Terus kita pindah ke pasar, dimana toko-toko tutup – transaksi dagang berhenti. Otomatis calon pembeli menunggu sampai yang punya toko selesai sholat. Bayangkan sepinya pasar!

Juga di kantor-kantor, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus apalagi di pesantren proses rapat merapat dan belajar mengajar stop dulu.

Lihat pula di bursa efek – perdagangan saham – valuta asing – libur sejenak maka jual beli pun akan terhenti.

Dan, entah apa lagi………..

Bukankah itu semua merupakan sebuah kekuatan yang nyata? Mungkinkah dengan proses seperti itu umat islam dapat memegang kendali ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan seterusnya…?

Setelah, sholat bersama lalu bertebaran di muka bumi, menerjemahkan ajaran sholat itu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Obral senyum. Tebarkan ucapan selamat sejahtera, tutur yang baik, sejuk dan menyejukkan. Bayangkan…., bayangkan!

Dimana lagi “celah” bagi tuduhan teroris untuk kita?

Namun yang sangat disayangkan saat ini para pedagang malah membawa dagangannya ke lingkungan mesjid.

Dan, satu lagi yang suka terperhatikan olehku adalah sulitnya merapatkan barisan ketika sholat itu dimulai. Adakah itu tanda bahwa telah “renggang” nya jalinan hati sesama muslim? Sehingga untuk bersinggungan bahu saja “aneh” rasanya? Mugkin karena baju mulus berdasi enggan menempel dengan kaos oblong berkeringat?

Entahlah? Hanya saja ketika kita semua tanpa kecuali menyadari hal ini, maka disitulah kekuatan sholat bersama. Kekuatan yang sangat Power Full alias Maha Dahsyat. Mungkin bulan Romadhan nanti akan mengajak kita kembali menyadari ini semua.

Aamiin.

Iklan

9 Tanggapan to “Kekuatan Sholat Bersama”

  1. aRuL Says:

    Amin 🙂
    —————
    Aamiin nya orang alim, lebih cepat dikabulkan. gimana Filipina aman sebelum Romadhon, ustadz? [kt2]

  2. deking Says:

    Menurut saya sholat berjamaah tidak hanya berkaitan dengan hal2 vertikal (semacam pahala sebesar 27x lipat), tetapi juga memiliki fungsi sosial (berkaitan dengan hal-hal yang horisontal)
    Jadi ingat slogan TVRI tempo doeloe: “Menjalin persatuan dan kesatuan”
    Nach dengan sholat berjamaah insya Alloh semangat persatuan dan kesatuan juga akan terpupuk. Bagaimana kita berinteraksi dengan sesama dalam melakukan kebajikan dll
    —————-
    Menjalin Persatuan dan Kesatuan? Make us more strong! [kt2]


  3. Yap, semoga suatu hari nanti sholat di masjid bisa menjadi berpuluh – puluh saf. 😀
    ——
    Semoga, juga. Aamiin [kt2]

  4. Herianto Says:

    Amiin.
    Buat saya nasehat ini sungguh relevan.
    Salam kenal.
    ———
    salam kenal, kembali [kt2]


  5. Indahnya kebersamaan sebenarnya bisa tercermin lewat laku ibadah kita saat shalat berjamaah. Dalam sebuah kebersamaan yang khusyuk sama2 bertawadlu, hening, dan bersujud semata-mata hanya mengharap ridlo-Nya. Sebuah “kredo” yang menurut hemat saya luar biasa nilainya.
    Sayangnya, kebersamaan spiritual lewat shalat berjamaah seringkali tenggelam dalam kesibukan memburu gebyar materi dan kepentingan duniawi. Kalau situasinya sudah semacam itu kita seolah-olah bisa hidup 100 tahun lagi karena senangnya menumpuk2 harta dan melalaikan interaksi vertikal kepada Sang Pemberi. Jujur saja, Kang, saya pun sering kali gagal untuk bisa ikut berjamaah secara istikomah. Ada-ada saja penghalangnya yang bisa jadi lantaran kemalasan dan kelemahan saya yang belum bisa terbebas sepenuhnya dari pengaruh dan bujukan iblis laknatullah’alaih. Makin mendekati bulan suci Ramadhan, mohon doanya, Kang, semoga semua penduduk dan penghuni bumi bernama Indonesia ini bisa bersama-sama melakukan aktivitas spiritual yang tidak hanya tampak gebyarnya secara lahiriah, tetapi justru yang lebih penting bagaimana kita mengintensifkan interaksi kita kepada Sang Maha Pemberi itu dengan kekuatan spiritual yang kokoh. Semoga.
    Salam hangat.

  6. Kurt Says:

    betul ustadz selalu shalat itu menarik memiliki kedahsyatan tersendiri. terus bagaimana kita memulainya yaa… 🙂
    ————-
    memulai sholat bersama? kalo kata AA Gym; Mulai dari diri sendiri, Mulai dari saat ini! [kt2]

  7. hoek Says:

    sebuah postingan yang sangat-sangat-sangat menggugah saia…
    saia jadi pengen tereak-tereak lewat corong masjid nyuruh orang-orang pada shalat jama’ah…
    tapi…
    saia sendiri shalat lima waktu dirumah saja masih bolong-bolong…
    yahh… setidaknya postingan diatas bisa buat bahan renungan sementara saia…^^
    ———
    perlu perjuangan, dan memahami nilai-nilai – tksh [kt2]

  8. sundoro Says:

    Astagfirullah….saya masih harus memperbaiki shalat saya karena jarang shalat berjama’ah.

    Terima kasih tulisannya yang telah menambah motivasi saya tuk perbaiki diri. 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: