Ucapan Selamat yang Tidak Menyelamatkan

Agustus 31, 2007

Mudah-mudahan tuturan ini tidak prematur. Lebaran masih harus melalui Ramadhan, dan Natal masih empat bulan lagi. Ketika melewati dua hari raya itu selalu melintas seorang kawan lama sewaktu kuliah dulu. Aku jadi teringat seorang kawan – teman diskusi – bernama Anjela Sumarjiyem. Anaknya kecil imut dan item manis, pinter dan cerdas. Kalimat-kalimatnya tertata rapi, ketika berdiskusi. Apalagi kalo dengan topik lintas agama.

Oh, iya… kalau aku Lebaran – Anjela itu Natalan. Ada pertanyaan Anjela yang membuatku gundah waktu itu. “Aku selalu mengucapkan Selamat Lebaran, namun kebanyakan kawanku yang Lebaran, termasuk kamu sepertinya keberatan mengucapkan Selamat Natal. Kenapa? Bukankah…, ataukah…, dst….???

Dan, aku belum menemukan jawaban yang “memuaskan” Anjela sampai kami meninggalkan kampus untuk menemukan kehidupan masing-masing. Walaupun begitu, ketika Lebaran dan Natal kenangan itu selalu kembali dan menggoda untuk direnung ulang, untuk dicarikan jawaban yang memuaskan.

Setelah, hampir 2 dekade…, mungkin ini jawabannya.

Kita mulai dengan esensi, hakikat atau kesejatian kata “Selamat” itu sendiri. Bagiku bermakna bahagia, senang, aman, nyaman, tentram dst…., yang kalau boleh disederhanakan menjadi satu kata adalah “Sorga”.

Kebalikannya, Tidak Selamat = Neraka!

“Kok, ngucapin selamat natal aja sampai-sampai hukumnya haram sih?” pertanyaan itulah yang membuatku gundah. Masak aku jawab, “Emang begitu kata ustadz!” [gak ilmiah banget, gitu loh!]

Setelah memaknai kesejatian “selamat” itu barulah aku mengerti. Dalam pemahamanku [setidaknya hingga detik ini] syarat “selamat” itu adalah dengan mengaku bahwa “Tiada sembahan selain Allah swt, dan Muhammad saw itu duta besar Allah” (Syahadat) kemudian diikuti dengan melakukan sholat, zakat puasa dan haji (bila mampu).

Jadi, sewajarnyalah sebagai muslim, aku berkeyakinan bahwa yang belum muslim juga belum selamat. [demikian juga halnya dengan Anjela, wajarlah ia berkeyakinan, yang belum menerima Yesus sebagai juru selamat – maka ia belum selamat]

Jadi, atas dasar keyakinan itulah, aku tak mau berbohong mengucapkan “selamat” saat Natal kepada yang Anjela karena sejatinya ia belum selamat. Apakah, aku mesti memaksanya bersaksi [baca: bersyahadat] agar aku bisa mengucapkan selamat kepadanya? Padahal tidak boleh memaksa dalam hal keyakinan dan keimanan. Dan kalo (misalnya) dengan sendirinya ia bersyahadat, tentunya aku gak juga bisa mengucapkan selamat pada momen natal, sebab tentunya dia akan berlebaran bersamaku.

“Jadi, Anjela…, jangan paksa aku mengucapkan selamat, sebab dalam pemahamanku dirimu belum selamat. Jangan paksa aku berbohong, untuk sepotong kata “selamat” pada saat natalmu.
[Ah….., jadi bingung! Ada yang bisa ngejelasin gak? Tolong donk…!]

Iklan

26 Tanggapan to “Ucapan Selamat yang Tidak Menyelamatkan”

  1. dul Says:

    Kang, Aku berpikir kurang adil juga rasanya menjadikan seorang “Yesus” sebagai tumbal untuk keselamatan milyaran orang sejak 2007 tahun lalu………! Masak dosa-dosa “umatnya” mesti dia yang nanggung sih?
    ——
    pikiran anda, ya tanggung jawab anda [kt2]

  2. Jennie Says:

    Terima kasih atas kejujuran Anda. Kejujuran nilainya melebihi apapun, Kang Tutur. Sepanjang tidak ada pemaksaan dan bisa menerima perbedaan, tidak apa-apa.
    ——
    duh, seneng banget mbak Jennie mampir [kt2]

  3. vino Says:

    menerima keberbedaan, tanpa paksaan
    selamat !
    ——
    main deh, ke blognya mbak Jenie yang sedang bertanya! [kt2]

  4. almascatie Says:

    hmmm…. saya merasa apa yah.. pertama salut kang, sebab jaman sekarang untuk kebratan atas pengucapan itu saja sudah sangat langka… apalagi sampe harus dipikir2, yg ulama saja santai aja mo ngucapin apa2 tanpa beban.. makasih pak dah membuat aku terkagum2 hehehhe
    saya sepakat dengan Kang Tutur.. bukan persoalan adil dan tidak tapi soal keyakinan dalam hati, keadilan macam bagimana yg harus kita ikuti? keadilan manusia ataukah keadilan bagi Allah sang pencipta..
    🙂

  5. junthit Says:

    bhineka tunggal ika, negara kita dibangun atas dasar itu..
    Andaikan nggak ada bhineka tunggal ika, mungkin nggak ada Indonesia di dunia ini..
    mengucapkan “selamat” adalah bentuk penghargaan keberadaan “komunitas” lain selain “komunitas” kita.
    Saya adalah seorang muslim, saya menghargai keberadaan agama lain di dunia ini…
    Menurut saya Kalau pengen syiar janganlah pake cara itu (fanatik),
    cara itu jelas tidak efektif, justru potensial menimbulkan sakit hati.
    ——
    Saya mengerti sekali yang anda maksud, tentang kebhineka tunggal ikaan dan fanatisme agama. Saya adalah orang yg menjunjung tinggi keberagaman. Rupanya anda tidak menangkap “makna sejati” atau esensi tuturan saya atas kata “selamat”. Baca lagi lah, renungkan lagi lah! 🙂

  6. Joerig™ Says:

    Kita mulai dengan esensi, hakikat atau kesejatian kata “Selamat” itu sendiri. Bagiku bermakna bahagia, senang, aman, nyaman, tentram dst…., yang kalau boleh disederhanakan menjadi satu kata adalah “Sorga”.

    tentunya hakikat kata “selamat” bagi yg merayakan natal kan kurang-lebih sama … jadi saya rasa mengucapkan kata “selamat” pada hari natal kepada yg merayakannya tidak menimbulkan rasa “berbohong” …

    *ah ruwet juga ya komenku ini*

  7. Catshade Says:

    Mungkin kita bisa mengambil alternatif ucapan yang lebih ‘netral’, tapi juga masih mengakomodasi ke-bhineka-an, toleransi, dan sopan santun? Misalnya (ini saya baru kepikiran) seperti ini:
    “Semoga hari natalmu menyenangkan.”
    “Semoga lebaranmu menyenangkan juga.”
    Menurut saya sih ini hanya variasi dari “have a nice day”, jadi nggak nyangkut2 ke akidah segala. Bagaimana pendapat kang tutur dan yang lain?
    ——
    Solusi yang briliant, makasih [kt2]


  8. @atasku…

    solusi yg menarik, setuju

  9. reno Says:

    ya seperti nya jawaban itu bisa membantu kebingungan kita selama ini ….
    salam ….

  10. wedulgembez Says:

    sebenarnya kaum muslim memang tidak diperbolehkan mengucapkan selamat hari raya pada agama lain selain sesama Islam. Dan tidak diwajibkan memohon umat lain meminta mengucapkan pada Moslem juga. Lakum dinukum walyadin. Cuman kadang umat Islam merasa kikuk kalau ada umat lain mengucapkan selamat lebaran. Kadang sebagai Muslim ada perasaan tidak enak kalau tidak gantian membalas mengucapkan selamat natal atau yang lain. Jadi seharusnya kita sebagai Muslim bisa memberi kabar atau pengetahuan kepada non Muslim agar soal ucapan selamat adalah urusan masing-masing agama. dan jangan menyalahkan Muslim jika tidak membalas (gantian mengucapkan selamat). Bagi Muslim yang terpaksa atau ikhlas memberi ucapan selamat pastikan itu hanya sekedar mengucapkan selamat (tidak lebih). Jangan ada dalam hatinya merasa semua agama benar, sehingga masalah mengucapkan dianggap sesuatu yang wajar. Atau jangan ada pikiran bahwa keselamatan ada pada agama yang kita beri selamat.

  11. wedulgembez Says:

    lanjutan

    Mengapa Islam tidak memperbolehkan hal itu : hal itu sebenarnya bisa kita ambil dari suatu kejadian semisal ada orang Nasrani (Kristen) ikut merayakan Idul Fitri, mengingat ada doktrin di Nasrani (Kristen) yang membolehkan melakukan apapun demi atas nama Yesus (maksudnya untuk mengajak ke agama Yesus). Mungkin Ketika si Nasrani ikut merayakan Idul Fitri kita senang. Sekarang ketika Natal telah tiba, dan Si Nasrani meminta kita juga ikut Natalan Bersama, bagaimana sikap kita?. Tentu orang yang tidak kuat imannya akan ikut Natalan demi menjaga hubungan baik. Kalau begitu usaha mereka (Nasrani) untuk mengaburkan atau mendangkalkan akidah Umat Islam berhasil!.

    Kadang ada juga pihak n

  12. wedulgembez Says:

    ##lanjutan

    Mengapa Islam tidak memperbolehkan hal itu :

    hal itu sebenarnya bisa kita ambil dari suatu kejadian semisal ada orang Nasrani (Kristen) ikut merayakan Idul Fitri, mengingat ada doktrin di Nasrani (Kristen) yang membolehkan melakukan apapun demi atas nama Yesus (maksudnya untuk mengajak ke agama Yesus). Mungkin Ketika si Nasrani ikut merayakan Idul Fitri kita senang. Sekarang ketika Natal telah tiba, dan Si Nasrani meminta kita juga ikut Natalan Bersama, bagaimana sikap kita?. Tentu orang yang tidak kuat imannya akan ikut Natalan demi menjaga hubungan baik. Kalau begitu usaha mereka (Nasrani) untuk mengaburkan atau mendangkalkan akidah Umat Islam berhasil!.

  13. mathematicse Says:

    Ya, saya setuju dengan artikel tulisan Kang Tutur ini. Bagaimana pun juga kita harus jujur pada mereka. Mengucapkan selamat pada mereka sama artinya menjerumuskan mereka (dan itu dilarang oleh ajaran agama kita (saya), Islam).

    Saya pun punya beberapa teman beragama Nasrani. Kalau lebaran mereka mengucapkan selamat pada saya. Tapi, kalau mereka merayakan hari besarnya, saya tak pernah mengucapkan selamat pada mereka. Lalu apa yang saya lakukan?

    Saya tetap bergaul baik dengan mereka. Ketika mereka (teman-teman saya beragama Nasrani) merayakan hari besarnya, saya paling bertanya ke mereka. “Bagaimana hari besarmu? Apakah kamu senang?” Ya cukup begitu saja…, ga usah mengucapkan selamat (karena ajaran agama + alasan kejujuran), dan mereka pun senang. 😀

  14. k* tutur Says:

    @all,
    semoga semakin “clear” dan kita bisa menjalani dengan hati lega dan terbuka tanpa harus memutus pertemanan,
    terima kasih,
    eh….masih ada yang lain? silahkan…, monggo…

  15. awam Says:

    Oh, jadi yang bikin “haram” (seperti kata ulama) adalah BERBOHONG mengatakan SELAMAT karena BELUM SELAMAT
    Nice Posting, kang!

  16. dewo Says:

    Wah, paling asyik jadi orang Kristen karena selain sudah selamat, juga sering membagikan selamat bagi umat lain. Jadi jangan heran jika umat lain (tidak hanya islam) sering mendapatkan selamat oleh umat Kristen.

  17. aRuL Says:

    wah bisa belajar dari tulisan dan komentar2 di sini… 🙂

  18. Yari NK Says:

    Lagipula kasih selamat harus ikhlas kan? Kalau mereka (non-Muslim) ingin mengucapkan ‘selamat’ kepada kita (kaum Muslim), kalau mereka ikhlas, ya sepatutnya mereka tidak mengharapkan balasan dong. Seperti itu kan kasih selamat yang ikhlas?
    Wong andaikan mereka tidak kasih selamat kepada kita juga ngga apa2 kok, nggak berpengaruh, kita kan juga nggak pernah maksa mereka kasih selamat kepada kita. Ya nggak?
    Untukmu agamamu, untukku agamaku!

  19. secondprince Says:

    ya Kang Tutur
    saya setuju
    lagian gapapa juga kan
    gak diucapin selamat atau gak ngucapin selamat


  20. Salam kenal Kang Tutur
    Saya seorang muslim dan beristrikan seorang Muallaf yang sebagian besar keluarganya adalah Nasrani.
    Memang dilema juga apa yang sudah dijelaskan panjang lebar oleh semua rekan2 yang budiman.
    Hanya saja, saya berkeyakinan bahwa ucapan “Selamat…” apapun, selama niat kita hanya greeting sih sah-sah saja. Memang sedari kecil selalu saja hal ini tidak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan.
    Kenapa kita tidak pernah mempermasalahkan ucapan
    “Selamat atas kelahiran anakmu….”
    “Selamat ya, kamu lulus…”
    Bahkan
    “Selamat pagi, siang….”
    Toh kalo secara harpiah, CMIIW…artinya ucapan Selamat juga…
    Intinya,
    Innama amalu binniyat, CMIIW
    “Sesungguhnya semua perbuatan kita adalah tergantung dari niat”
    Jadi jangankan mengucap “Selamat”
    “Shalat saja jika dikerjakan dengan niat untuk menunaikan kewajiban saja (seharusnya karena 4JJI, CMIIW) sudah mengurangi kandungan pahala…”
    Jadi, sya kembalikan lagi niat mengucapkan “Selamat” itu apa dulu? Kalo niat kita ikhlas, insya 4JJI orang lain (non Muslim, misalnya) akan timbul simpati dan siapa tahu atas izin 4JJI pula mereka salut dengan prilaku Kemusliman kita dan akhirnya mau mengucap Syahadat…
    Maaf kalo ada ucapan yang tidak berkenan.

  21. Hariadhi Says:

    Tolong maafin ketidaktahuan gw. Tapi kalau Assalamualaikum itu diterjemahin sebenarnya apa, ya? Apakah artinya “Elo pasti selamat?”, atau lebih ke “Semoga elo nanti selamat?”.

    Kalau artinya yang pertama, dari mana kita tahu orang yang kita hadapi muslim atau bukan? Apa muslim bisa diadili dari tampak luar? Apa kita boleh menjudge seseorang muslim atau bukan? Bisa jadi dia munafik, kan? (Islam KTP tapi ga pernah salat, pake sorban tapi kerjaannya maki-maki orang lain, pelihara jenggot tapi kerjaannya menebar ghibah)

    Kalau artinya yang kedua, apa didoakan keselamatannya itu hak eksklusifnya seorang muslim? Dilarangkah kita mendoakan keselamatan kepada orang yang berbeda agama? Sejak kapan larangan itu ada?

  22. Ferry ZK Says:

    sebenernya seh tergantung makna “selamat” itu sendiri, klo dimaknai “selamat merayakan” tentu berbeda dengan “keselamatan buatmu di dunia dan diakhirat” seperti pada ucapan “Assalamualaikum”, MUI sudah pernah membuat fatwa tentang hal ini. Memang ini soal remeh yang klasik tapi jadi tidak remeh jika anda memiliki hubungan kekerabatan dimana ada perbedaan keyakinan.

    Salam Damai.

  23. k* tutur Says:

    @ semua, terimakasih… telah menanggapi ini

    [Ah….., jadi bingung! Ada yang bisa ngejelasin gak? Tolong donk…!]

    …….
    eh, barangkali masih ada? monggo…

  24. metana Says:

    Sy juga pernah mempertanyakan sesuatu seperti yang dipertanyakan oleh Anjela, sobat anda. Dan sy menemukan jawabannya disini. Mengetahui alasannya memang lebih baik daripada menduga-duga sendiri, apa yg sebenarnya terjadi pada sobat2 sy yg ga pernah mengucapkan selamat hari raya buat sy. Tak satupun dari mereka pernah menjelaskannya. Bukannya mengharap balasan dan sy sih memang tidak pernah mengharap balasan karena semua sy lakukan dengan ikhlas buat teman, walaupun mereka ‘berbeda’ dgn sy… Just want to know…


  25. […] Ngelantur metana on Ucapan Selamat yang Tidak Meny…Bachtiar on Pendaftaran Online Pesta Blogg…Lebaran (Pesta menya… on Bikin Kartu Lebaran […]


  26. […] Kangen, Sedih dan Selamatmorishige on Kangen, Sedih dan SelamatKangen, Sedih dan Se… on Ucapan Selamat yang Tidak Meny…metana on Ucapan Selamat yang Tidak Meny…Bachtiar on Pendaftaran Online Pesta Blogg…Lebaran […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: