Apakah Islam itu Memaksa?

September 4, 2007

Duh, sebenernya blog ini buat yang ringan – yang lucu. Tutur menghibur. Anehnya kenapa ide menutur berkehendak memasuki wilayah reliji, terus? Jelas aku bukan Ustadz apalagi ‘Alim. Tapi gak pa pa lah, siapa tahu ada kata-kata lucu nanti…

Pernah terpikir, kenapa kita beragama Islam. Siapakah yang menganjurkan, menyuruh atau lebih tegas lagi “memaksa”? Jawaban yang agak mendekati, adalah Bapak Ibu kita. Tapi pernahkah Islam itu mengemis, merayu dan bahkan memaksa? Jawabannya sangat pasti: TIDAK.
Islam tidak pernah memaksa. O, kalau begitu kenapa kita masih bertahan? Bagiku, beragama itu sebuah “keputusan”. Islam tidak pernah memaksa, bahkan Allah swt sendiri menantang kita mencari “tuhan selain diriNya”. Artinya, Islam itu hanya menawarkan sebuah konsep keselamatan dimana ketika kita tertarik untuk menganutnya, itu sebuah pilihan, sebuah keputusan yang memiliki konsekwensi. Ada aturan main, ada yang boleh ada yang tidak boleh. Adapula yang dianjurkan dan adalagi yang dilarang. Semua aturannya sangat gamblang dan jelas. Jadi jangan asal anut, asal islam. Latah namanya.
Keputusan menuntut konsekwensi dan kepatuhan terhadap aturan main itu tadi. Jadi ketika ada anjuran dan larangan, bagaimana kita menyikapi dan melakukan anjuran dan larangan itu? Patuh atau Membangkang?
Kita singkirkan dululah janji-janji sorga dan ancaman neraka!
Ketika Islam menyuruh sholat, puasa, zakat, haji, menyebarkan keselamatan, membantu sesama manusia (bahkan sesama makhluk) dan seterusnya… Bagaimana sikap kita, Patuh atau Membangkang?
Dan ketika Islam melarang “penduaan tuhan”, membunuh, mengambil hak orang lain, mencuri, berzinah, berjudi, minum alkohol (bisa bikin mabok), memakan anjing dan babi & banyak lagi… Bagaimanakah kita? Patuh atau Membangkang? – Sederhana sekali bukan?
Kalau beragama adalah sebuah “keputusan” konsekwensi logisnya adalah Patuh! Dan andaikata ada keengganan dan penolakan itulah yang disebut Membangkang. Bibit-bibit pembangkangan itu berasal dari Nafsu dan bibit-bibit kepatuhan sumbernya dari Akal. Kita beragama, sesuai dengan “kapasitas akal” kita masing-masing.
Bila orang-orang Islam, menyadari konsekwensi atas keputusannya menganut agama Islam menurutku tidak perlu lah ada embel-embel Ekonomi Islami, Politik Islami, Hukum Islami, Budaya Islami…., Gaul Islami, dan apa saja + Islami.
Ndak perlu itu! Karena ketika orang-orang Islam ada disitu, di kantor, di sawah, di sekolah, di pasar, di rumah, di meja makan, di angkot, di keretapi, di kapal, di pesawat terbang, di darat, di laut, di udara, dan dimana saja – bahkan dalam jamban sekalipun. Karena antara Diri dan Islam itu telah menyatu. Identitasnya menjadi jelas dari sikap, perilaku dan tindakan. Dengan menambahkan “Islami” seakan-akan Identitas itu belum jelas, masih stengah-stengah, masih pilih-pilih yang cocok pake yang gak cocok abaikan.
Ha.. ha.. ha.., inilah yang banyak terjadi di dunia ini, kita hanya mebutuhkan embel-embel, simbol, bendera, tanda, bahwa kita adalah orang Islam (Muslim). Namun nilai-nilai, aturan, ajaran, larangan dan konsekwensi atas keislaman itu biarlah tertulis dalam Kitab Suci saja.
(yang penting di KTP gue terketik Islam, di dagu gue ada jenggot, di kepala gue ada sorban dan sebentar lagi di depan nama gue ada huruf “H”).
Andaikata hanya untuk itu, tinjau kembalilah, renungkan lagi dan kaji ulang keputusan kita untuk menganut Islam sebagai Jalan Selamat. Karena beragama adalah sebuah “keputusan” yang harus diambil dalam keadaan sadar, bebas, tidak dalam tekanan apalagi paksaan. Sebab Islam tidak pernah memaksa, jadi Pertimbangkan kembalilah Keputusan itu.
Jangan sampai, Buruk Rupa – Cermin Dibelah!

Iklan

42 Tanggapan to “Apakah Islam itu Memaksa?”

  1. vishel Says:

    wah…wah…wah…tulisan ini pasti bagi siapa yang membacanya akan sedikit kembali mengingatkan bagaimana cara hidup mereka secara islam..apa islam yang mereka pegang sudah seperti yang diharapkan..
    tulisan ini sangat bagus karena paling tidak kembali menyadarkan kita sehingga kita kembali berfikir bagaimana sebaiknya menjalankan kehidupan secara islam dalam pencapaian islam yang sebenarnya…
    good luck tuk kang tutur …;-)
    ——
    alhamdulillah, semoga – makasih ya! [kt2]

  2. riko Says:

    kalau agama itu sebuah keputusan…
    apa “tindakan” islam kalau ada orang yang memutuskan untuk tidak memeluk agama….
    ——
    Memperkenalkan diri, bahwa Islam adalah jalan selamat. Diterima atau Tidak – Prinsipnya Islam tidak pernah memaksa. [kt2]


  3. “Karena antara Diri dan Islam itu telah menyatu. Identitasnya menjadi jelas dari sikap, perilaku dan tindakan. Dengan menambahkan “Islami” seakan-akan Identitas itu belum jelas, ….”

    Kang, “diri” itu berbeda dengan “ekonomi”, “politik”, “budaya”, “gaul”, “pacaran”, dsb. Bahkan, “din” pun belum jelas. Betapapun jelasnya “diri”, “din” itu belum jelas, sehingga Al-Qur’an pun menegaskan bahwa yang diterima di sisi Allah adalah din yang Islam. Begitu pula, amal “ekonomi” atau pun “pacaran” yang diterima di sisi Allah adalah yang islami. Itu sebabnya, kita membutuhkan ekonomi islami, pacaran islami, dsb.
    ——
    Itu terjadi, karena diri yang belum “total” menganut Islam, sehingga perlu predikat untuk menjelaskannya. Jangan pilah pilih lah…!
    Emang pada zaman dulu – zaman sahabat2 ada gitu? gak ada embel2 Islami, karena Islam menyatu dengan diri dan perilaku mereka. Tksh [kt2]

  4. alex Says:

    Kalau mau jujur, kita semua dapat agama lebih karena budaya turun-temurun. Lalu semuanya menjadi ritual yang kita jalani. Sampai kemudian kita mulai berpikir-pikir dan menimbang…
    Saya begitu… mengkaji ulang, disaat iman saya mengalami degradasi…
    Nyaris jadi agnostik tulen, jika tidak karena kemudian saya justru melihat satu hal: ini agama yang saya anggap terbaik…
    Well… I’m a proud moslem 😉
    ——
    Yah, tepat sekali, Iman itu bisa naik turun. Biasanya, ketika dalam posisi turun itulah kita suka memisahkan “diri” dengan “islam”
    Aku juga pengen menjadi orang Islam yang dapat dibanggakan. Do’ain ya! Tksh [kt2]

  5. hoek Says:

    “Ha.. ha.. ha.., inilah yang banyak terjadi di dunia ini, kita hanya mebutuhkan embel-embel, simbol, bendera, tanda, bahwa kita adalah orang Islam (Muslim). Namun nilai-nilai, aturan, ajaran, larangan dan konsekwensi atas keislaman itu biarlah tertulis dalam Kitab Suci saja”
    SETUJU BANGETTZZ!!!
    karena emang dari kecil kita diajarin supaya tau simbol tanpa tau arti! kita diajarin shalat 5 waktu itu bukan sebagai kebutuhan dan ritual untuk bertemu denganNya
    Tetapi lebih cenderung ke arah “WAJIB LAPOR 5 WAKTU” supaya engga dosa, dan supaya dapet pahala terus masuk sorga yang entah, ada intel core 2 duo na ato engga…
    maaf, saia malah promosi postingan sendiri^^

  6. Joerig™ Says:

    bukankah sebagian besar dari kita mendapatkan agama, bukannya memilih agama …


  7. wah teriris lagi hatiku,
    selama ini mungkin saja aku masih hanya bersimbol islam
    ampuni aku ya ALLAHU AKBAR penguasa langit dan bumi

    @joerig
    tdk selalu seperti itu,
    banyak yg akhirnya ‘memilih’ utk tetap berada di jalur ISLAM ini

    thank’s sharingnya teman…

  8. Joerig™ Says:

    @superdeuthman,
    kalo ga salah dikomenku kan ada kata2 “sebagian besar” … 😆

  9. selvimonodi Says:

    agamamu itu hak mu… agamaku itu hak ku

  10. may airinn Says:

    agama jika dipandang mutlak sebagai syariat akan menjadi sangat mengekang kaku dan takkan sanggup dijalankan oleh 99% manusia. Demikian pula halnya kalau dipandang sebagai konsep spiritual/ keimanan belaka.. akan kehilangan kekuatan pengikat azzam hakiki manusia sebenarnya (menyembah kepada Yang Esa).
    Alternatifnya… koinsidensi
    (wallahu alam bissowab)

  11. wedulgembez Says:

    oye

  12. sundoro Says:

    nice posting Kang!

    Salam kenal…. 😀

  13. oRiDo Says:

    tulisan yg bagus banget nih..

    yg terpenting adalah bagaimana kita dapat menjalankan islam dengan sebenar2nya, tidak setengah2.. itu semua dilakukan atas dasar bahwa kita butuh akan itu.. bukan karena Allah swt yg butuh, atau karena islam memaksakan utk melakukan itu..

  14. hendra_ku Says:

    nice posting 🙂


  15. […] 4th, 2007 by abusilman Bulan Ramadhan merupakan bulan yang menjadi penantian bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Berbagai upaya dilakukan demi tercapainya tingkat keimanan yang […]

  16. Irwan Says:

    Islam tak pernah memaksa tapi, manusia lah yang merasa terpaksa

  17. danalingga Says:

    ah… agama hanya sekedar pakaian kok. :p

  18. dkmfahutan Says:

    islam memang tidak memaksa orang untuk memeluknya…
    tapi kalau sudah berislam, wajib mematuhi aturan mainnya…

  19. alex Says:

    @ danalingga

    ah… agama hanya sekedar pakaian kok. :p

    Definisi pakaiannya mesti dituntasin dulu deh kayaknya. Kalo buat koleksi dalam lemari saja… useless 😉

    Saya simpel saja: dengan agama, saya punya batasan dalam hidup. Mengingatkan batas-batas sebagai manusia dalam hubungannya dengan manusia, setidaknya 🙂

  20. oppiq Says:

    “…Islam itu mudah dan janganlah kamu persulit, kaya akan warna, menciptakan harmony didalamnya dengan segala keragamannya” ::multimedia Art ::

  21. danalingga Says:

    @alex

    pakaian ya buat di pamer pamerin toh. 😆


  22. Religion is an artistic heritage. :mrgreen:
    ——
    Warisan, kalo bagi2nya gak “clear” bisa berabe, bukan begitu kopral?

  23. aRuL Says:

    beberapa point sepakat dengan kang tutur 🙂
    ——
    yg belum sepakat yg mana ustadz? [kt2]


  24. Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, kata kyai di kampung saya. Menurut penafsiran awam saya, mereka yang memeluk Islam adalah mereka yang dengan amat sadar untuk bersama-sama menciptakan kedamaian, menaburkan kasih sayang, bukan dengan cara mengangkat pedang untuk memaksakan kehendak karena tidak sepaham dengan kelompok mereka. 😀
    ——

    bukan dengan cara mengangkat pedang untuk memaksakan kehendak karena tidak sepaham dengan kelompok mereka.

    Agak berat menanggapinya, namun dalam “pengangkatan pedang” ada juga aturan main yg berlaku (tentu Ulama yg tau). Barusan terlintas saja dibenak saya, “Gimana kalo misalnya pengangkatan pedang itu justeru dalam rangka menyayangi seluruh alam itu tadi”, coba?” [just for discuss…]

  25. almascatie Says:

    apa yang ingin sayah katakan… entahlah, posting kang tutur telah mewakili apa yg sayah rasakan semuanya.. sayah malas berkoar2 tentang bobroknya penganut islam masa kini sedangkan saya yg nota bene penganut islam skarang belom beres untuk mengurus “islam” nya saya pribadi.. 😦
    *musuh terbesar adalah nafsumu*

    @Sawali Tuhusetya

    bukan dengan cara mengangkat pedang untuk memaksakan kehendak karena tidak sepaham dengan kelompok mereka.

    tidak sepaham dalam apa nih pak… dalam islam ataukah lain??
    untuk poin pertama saya tidak akan pernah sepakat dengan hal itu… tapi kalo poin kedua saya mungkin akan “sangat” sepakat…. 🙂

  26. sayasaja Says:

    Salam kenal Kang Tutur…
    Ketika islam belum menyatu dengan diri, maka diperlukan upaya untuk mengarahkan atau memperbaiki-nya.
    Mudah-mudahan ekonomi islami, keluarga islami, gaul islami (memang ada yah:) ) menjadi acuan supaya islam lambat laun menyatu dengan diri. Bukan hanya untuk simbol belaka.
    Toh kita masih harus belajar untuk menyatukan islam dengan diri bukan?
    Nice post Kang.

  27. ratuadilsatriapinandhita Says:

    Gak Penting – Jadi ku Hapus saja!

  28. HIL Says:

    hhhhmmmmmm……bagus, kritis dan sedikit menyegarkan tulisannya. Tapi coba deh nengok ke http://hauzah.wordpress.com lalu klik rubrik “kalam” cari artikel berjudul “mengapa harus beragama?”

    pasti deh nyambung dengan tulisanmu…. dan sedikit berbeda…met baca ya!


  29. (yang penting di KTP gue terketik Islam, di dagu gue ada jenggot, di kepala gue ada sorban dan sebentar lagi di depan nama gue ada huruf “H”).

    Mau ganti nama, Pak ? :mrgreen:

    —–

    Yang ini sih tidak usah dijelaskan panjang lebar, saya sudah jelas – jelas setuju. 😉

  30. DZ Says:

    Haramkah percintaan pranikah?
    Para penentang pacaran islami berlandaskan dalil. Para pendukung pacaran islami pun berdasarkan dalil. Manakah dalil yang lebih kuat antara keduanya?

  31. andalas Says:

    yaa. kebanyakan dari kita menganutnya, karena itulah yang diwariskan. sedikit sekali yang merupakan hasil dari pencarian. meskipun begitu tetap tak ada alasan untuk asal-asal-an ber-agama. jngan sampai agama cuma sekedar pengisi kolom dalam KTP

  32. irdix Says:

    “apakah diri saya?”

    manusia ga berhenti menanyakan itu dlm pikirannya, dlm batinnya yg akhirnya terungkap pada tindakannya.

    tidak salah bagi manusia utk bertanya akan dirinya, hny akan kurang tepat jika ‘akal’ dijadikan sebagai tukang ketok palu n ‘nafsu’ sbg tersangkanya.

    ideal boleh aja, punya agama jg silahkan, mo atheis atopun agnostik jg boleh, tp please.. gunakan itu utk sebaik-baiknya diri.. mau tx mau dewan jurinya adalah ‘masyarakat’.

  33. irdix Says:

    karena kita hidup didalamnya..

    for example: saya ga pernah tau Tarzan agamanya apa..

    *kang.. aq komen dari hape, char dibatasi 450biji. Jadi mhn maaf kalo bikin 2 komen yg mgkn OOT ato nyampah aja -matur nuwun-*

  34. secondprince Says:

    hmm saya menyimak
    kalau saya buruk rupa saya gak akan membelah cermin
    kan jadinya udah jelek tolol pula 😀

  35. ndarmogandul Says:

    hanya sebuah keyakinan, dan itu hanya antara manusia dengan Tuhannya.
    seperti halnya menjelang kematian abu thalib berkata “Aku tetap pada agama sesepuh” baca juga: Islamkah Abu Thalib
    apakah anda sudah menelaah agama yg anda anut berdasarkan keyakinana (pilihan) ato berdasarkan turun temurun (sesepuh). walau sama2 di sebut moslem???

  36. tops banget Says:

    ɥǝp ʇnlɐs˙˙uɐɯǝlʇuǝƃ nɹɐq nʇı ˙uɐʞɐlıs …ǝnƃ ʇnʞı nɐɯ ˙ɯɐlsı ıɹɐp pɐʇɹnɯ ǝnƃ ɐɾɐ sılnʇ ˙ɹɐqǝl ƃuɐɾuɐd sılnu ɥɐsn ʞɐpıʇ pɐʇɹnɯ nɐɯ olɐʞ ˙2ɹǝʇnɯ ‘ʇnʇuıld-ʇɐʇuıld ƃuɐʎ sılnu ɹo ƃuoɯoƃu ɥɐsn ɐƃ ɥǝp ɐɾɐ ıɾɐɥ ‘ʇɐʞɐz ‘ɐsɐnd ‘ʇɐlɐɥs ‘ʇɐpɐɥɐʎs ƃuıʇuǝd ƃuɐʎ ɐɾɐ ıuıƃ ɥɐpns ˙ƃuop ƃuɐɹo 2ʞɐɾɐ uɐƃuɐɾ ʞɐsnɹ nɐɯ olɐʞ ˙sılnuǝd uɐɹıʞıd uɐp ıʇɐɥ … ıʇɐɯ ɥɐpns ɹɐuǝq-ɹɐuǝq ¿¿uɐɥnʇ uɐƃuǝp ƃuop ɐuɐɯıƃ snɹǝʇ ˙ɐʎuǝpǝƃ uɐƃunlnʇǝʞ ʞɐƃ ƃuɐʎ ʇɐʍɥɐʎs uɐp (uɐɥnʇ uɐƃuǝp ɐɯɐs) ɐuɹndɯǝs ƃuɐʎ lɐʞɐ ılɐʞǝqıp ƃuɐʎ ɐısnuɐɯ ıɐƃɐqǝs ɐʇıʞ ɐɹǝlǝs ıɐnsǝs ɐɯɐƃɐɹǝq ƃuıʇuǝd ƃuɐʎ …lǝ lǝ ǝp ʞıʇɐuɐɟ nlɹǝd ʞɐpıʇ uıɐl ɐɯɐƃɐ uɐƃuǝp ɐɯɐs nʇı ɯɐlsı ˙ɯɐlsı uɐƃuǝp ɐƃƃuɐq ɥɐsn ʞɐpıʇ ɐʎɐdns nʇı lǝʞıʇɹɐ sılnu ƃuɐʎ ɥnɹnsıp ɐʇıʞ ɥıs ɐʎuıʇuı ˙ɹǝʇnɯ-ɹǝʇnɯ ƃuɐʎ uɐsılnʇ ɐɔɐq ɥǝp ƃuıııısnd ˙bɐ ʇǝɯnɯ ɥɐʍ
    ——
    ati2, kakitangan ratu ngeden :mrgreen:


  37. […] laku Siapa yang harus Waspada?Blogger Malaysia Membelot!Apakah Islam itu Memaksa?Ketika Ide DicuriUcapan Selamat yang Tidak MenyelamatkanPesta KaumKu™ [kopdar blogger […]


  38. […] post info By Ikhsan Firdaus Categories: Islam Tags: Add new tag Apakah Islam itu Memaksa? […]

  39. dadang STAIN Says:

    banyak yang menggunakan nama islam sebagai dalih untuk menaikkan harkat dan martabat di dunia. tapi banyak yang tidak tahu apa nilai sebenarnya yang terkandung dalam islam itu sendiri. bahkan belum tentu kyai bahkan ahli dakwah mampu menerapkan nilai-nilai keislamannya. mengapa banyak islam yang disandang oleh bangsa indonesia, tetapi masih sedikit yang terbebaskan dari setiap masalah – masalah yang ada. dimana letak islam yang tidak memaksa, dimana letak islam yang yang mampu membebaskan?
    ini yang perlu kita renungi dan kita buktikan. bahwa islam tidak cukup hanyasebagai sebuah keyakinan, tetapi mampu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. tidak cukup dengan sholat, zakat, pasa dan naik haji maka kewajiban kita telah usai. masih banyak kewajiban – kewajiban moral dan sosial yang harus kita selesaikan. mari kita bersama bersatu demi terujudnya islam yang rahmatan lil’alamin. benar – benar menjadi rahmat bagi seluruh alam. maaf bila saya terlalu menggurui. saya masih anak Smp yang harus banyak belajar. tapi setidaknya saya ingin mengajak mas2 dan mbak2 untuk benar-benar menerapkan nilai-nilai islam itu sendiri. terima kasih sudah dibaca komentar saya.
    saya ingin sekali punya teman diskusi soal keislaman. bila berkenan bisa hibungi email saya di
    dadangrz@gmail.com

  40. Firman Says:

    sya jawabannnya cukup simple surat nya ada ko
    di Al-BAqarah ayat 256…disitu jelas bgttttt..

  41. kusmardiyanto Says:

    masuk islam adalah pilihan….dan barang siapa diberi hidayah masuk islam berarti di mendapat pentunjuk dari Alloh (QS 6 ayat 125, QS 39 ayat 22)…dan inti islam itu adalah “engkau mengabdi kepada Alloh dan tidak mensekutukan Dia dg sesuatupun dalam pengabdian”…dan islam itu adalah jalan hidup, way of life, Rosululloh SAW dan para sahabatnya (QS 5 ayat 3)atau as-sunnah sesuatu yg tidak ada di dalam as-sunnah tidaklah bisa dinamakan islam…pacaran dan musik bukanlah islam karena ia tidak ada di dalam as-sunnah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: