Mengamal nilai-nilai

September 20, 2007

Syahdan, suatu hari Raja Sulaiman. as terbang berkeliling kerajaannya menyaksikan indah dan menikmati besarnya karunia Allah swt kepadanya.

Seorang petani yang sedang menyiangi kebonnya terperanjat melihat megahnya kendaraan Raja Sulaiman. as dan dari mulutnya keluar sepatah kata “SubhaanalLah…!” – Sebaliknya Raja Sulaiman .as pun kaget mendengar ucapan tasbih sang petani. Dia pun berputar mencari, begitu terlihat langsung turun menemui petani itu dan berkata, “Wahai saudaraku, ketahuilah satu tasbih yang engkau ucap tadi lebih tinggi nilainya di sisi Allah swt dari seluruh kerajaanku.”

***

Ketika Kekasih Allah, Muhammad. saw bertemu Sahabat Allah, Ibrahim. as maka beliau berpesan untuk kita ummat Muhammad. saw, “Sampaikan salamku untuk umatmu wahai Muhammad dan kabarkan tentang indahnya sorga yang penuh oleh tanam-tanaman dan bibitnya adalah SubhaanalLah, wal hamdulilLah, wa laa ilaa ha illalLahu, walLahu akbar“, demikian kira-kira pesan Sahabat Allah itu untuk kita. “Siapa yang menyebutnya satu kali maka ditanamlah sebuah pohon baginya di sorga”, tambah beliau lagi.

***

Berdzikir, mengingat Allah swt, sangat banyak manfaat dan keutamaannya terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Ganjaran, balasan berupa pahala jadi berlipat-lipat ganda. Banyak sekali kabar gembira tentang orang yang gemar berdzikir, antara lain:

  • Orang yang berdzikir (ingat Allah swt) bagaikan “hidup” (rumput hijau) dan yang tidak berdzikir (lalai) bagaikan “mati” (rumput kering)
  • Orang yang berdzikir nanti akan melewati Titian Mustaqim sambil tersenyum
  • Berdzikir akan menenangkan hati dan melapangkan rezekinya
  • dan………… banyak lagi

Allah dan rasulnya pun menyampaikan nilai-nilai itu sebagai “iming-iming” agar ummat tertarik mengamalkannya. Pada tahap awal sebagai awam tidak ada salahnya nilai-nilai itu dijadikan sebagai pedorong untuk lebih giat beramal mendekatkan diri menuju ridha Allah swt.

“Ah, kalau beramal untuk sekadar pahala mah percuma”, kata segelitir orang.

Jangan pernah hiraukan itu. Carilah nilai-nilai lebih banyak lagi. Dan kita akan tambah semangat lagi. Jangan samakan diri awam kita dengan para ‘alim, para ‘ulama dan ahli-ahli lainnya dimana mereka tentu telah menempati maqom (tempat/kedudukan) yang tinggi dan dalam beramal tidak lagi memikirkan nilai-nilai semacam itu. Sedang kita? Kita masih perlu! Untuk proses menuju kesitu, ke maqom dimana kita tak perlu lagi nilai-nilai imingan itu.

Carilah nilai-nilai yang jelas sumbernya dan amalkan dengan penuh semangat, sampai kita juga mencapai tempat dimana kita mampu berkata, “Terserah engkau ya Allah, di sorga atau neraka engkau tempatkan aku – asal engkau ridho” – Posisi apalagi yang lebih hebat bagi ummat ini selain “RadhialLahu anh…”.

Kita Ridho kepada Allah dan Allah ridho kepada kita…! O, indahnya…! Namun sebelum sampai ke situ proses demi proses termasuk memakan “iming-iming” nilai mesti dilalui. Ibarat bersekolah dari kelas yang bawah dulu. Mari berdzikir mengejar nilai-nilai…

Sekali lagi, Carilah nilai-nilai yang jelas sumbernya dan amalkan dengan penuh semangat

tuzki_jago-8.giftuzki_jago-8.giftuzki_jago-8.giftuzki_jago-8.giftuzki_jago-8.giftuzki_jago-8.gif

[gambar :almascatie]

murid-murid Rumi sedang dzikir

Iklan

7 Tanggapan to “Mengamal nilai-nilai”


  1. saia dah buktikan power of dzikir beberapa waktu lalu.
    Alhamdulillah menenangkan hati saia
    ——
    mantapz


  2. bisa pertamaaxx disini
    horaaayyyy
    ——
    O**… anda juga top 1 kan?

  3. Herianto Says:

    Saya jadi teringat dengan pesan bgini : jangan tunggu2 ikhlasmu sempurna dulu baru kau beramal, tapi justru latih dan capai ikhlasmu itu melalui amal.

  4. k* tutur Says:

    Power of Dzikr? + Keikhlasan
    =
    Duahsyat banget itu…….. 😉

  5. hoek Says:

    @herianto
    “jangan tunggu2 ikhlasmu sempurna dulu baru kau beramal, tapi justru latih dan capai ikhlasmu itu melalui amal.”
    mantaf sangadh itu pesan!!! saia jadi tersentuh…

    “Carilah nilai-nilai yang jelas sumbernya dan amalkan dengan penuh semangat, ”
    sep! laksanakan!!!

  6. deKing Says:

    Orang yang berdzikir (ingat Allah swt) bagaikan “hidup” (rumput hijau)…
    Berdzikirnya dalam artian yang sesungguhnya kan Pak? Bukan yang sekedar lisani dan formalitas mengucapkan takbir dkk tanpa meresapi maknanya
    ——
    ada kesesuaian antara lidah (yg mengucap dzikir) – hati (yg memahami makna dzikir) dan anggota tubuh (yg melaksanakan nilai-nilai dzikir), bukan begitu? [kt2]


  7. Apa arti “berdzikir”?
    Mengingat Allah dengan apa?
    ——
    saya rasa anda tahu [kt2]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: