Banjir dulu & kini

Januari 8, 2008

Nuh ‘alaihis salam termasuk kelompok Nabi dan Rasululloh yang amat berat cobaannya dalam mengemban risalah tauhid agar umat manusia hanya meng-ilahkan Allah swt. Menyeru manusia agar mengucapkan Laa ilaaha illaLah dan tidak mencampurnya dengan ilah yang lain. Apakah itu batu, gunung, pohon kayu, laut, api, angin, emas perak, kekuasaan dan keangkuhan diri. Namun apa daya, dalam waktu lebih dari 800 tahun beliau hanya mendapatkan pengikut sekitar 80-an orang saja. Rata-rata 10 orang saja dalam 100 tahun.
Umatnya menertawakan, mengejek dan tidak mempercayai keberadaan Allah swt. Mereka lebih senang menyembah benda-benda. Sampai akhirnya Tuhan memintanya membuat kapal dekat gunung untuk bersiap-siap kalau nanti akan datang adzab berupa banjir yang teramat sangat dahsyat.
Merekapun menuduh Nabi Nuh as sebagai orang gila sembari membuang kotoran diatas kapal yang sedang dibuat itu Dalam puncak penderitaannya, akhirnya beliau berdo’a agar umatnya diberi pelajaran. Lalu timbullah wabah penyakit gatal-gatal, yang belakangan hanya bisa diobati dengan kotoran yang mereka tumpah-serakkan di kapal itu.
Sedihnya lagi isteri dan anaknya sendiri pun membangkang dan membelakangi ajakannya agar hanya patuh, taat dan menyembah kepada Allah. Singkat cerita maka datanglah saat yang ditunggu-ditunggu, yaitu turunnya adzab berupa banjir yang meluluh lantakkan negeri mereka. Semuanya tenggelam, kecuali yang telah naik ke kapal.
Banjir di zaman itu, banjir di zaman sekarang sepertinya ada kemiripan dalam hal sebab. Mungkin saja, kita tidak lagi meng-ilah hanya kepada Allah. Mungkin juga kita adalah suami-suami yang tidak dipanuti isteri. Bisa jadi kita adalah isteri-isteri yang membangkang kepada suami. Atau boleh jadi kita adalah anak-anak yang menolak petunjuk orang tua. Entahlah! Sehingga Allah swt, merangking “perilaku” kita setaraf dengan umatnya nabi Nuh as. Dan hanya banjir yang dapat menyudahi masalah itu.
Untuk berikutnya kemungkinan akan diutus umat yang baru yang mau bertauhid, mau mengikuti pemimpin, menjadi isteri yang menyayangi suami dan menjadi anak-anak sholeh taat kepada orang tua.
Bila asumsi ini benar tentu dapat disimpulkan bahwa Banjir dan Bencana lainnya akan dapat ditolak dengan:

  1. Hanya bertuhan dan menyembah Allah swt semata. Jangan ditambah, apakah dengan patung, batu, gunung, laut, api, angin atau menganggap Allah beranak dan lebih dari satu.
  2. Jadilah suami yang diteladani isteri dan anak-anak
  3. Jadilah isteri yang “nurut” pada suami
  4. Jadilah anak-anak yang sholeh, berbakti dan hormat kepada orang tua.
  5. Jadilah ummat yang taat kepada pemimpin, selagi dia juga taat hanya kepada Allah swt.

Ah, itu kan hanya asumsi aku saja 😆 Bisa jadi anda berpendapat lain, bukan?

Iklan

7 Tanggapan to “Banjir dulu & kini”

  1. almascatie Says:

    vertamax kah dalam kurungan??
    😆

  2. almascatie Says:

    Jadilah suami yang diteladani isteri dan anak-anak

    uhmm kayaknya pesenya bagi sayah jadilah calon suami yang diteladani calon istri dan calon anak2 dst dah
    😆

  3. almascatie Says:

    weks akismet terlepas??
    alhamdulillah gara2 comment calon suami teladan lansung dilepas 😆

  4. Syam Says:

    Dahsyat! Hikmah hari ini semoga kita mendapat pelajaran… 🙂

  5. riko Says:

    Pantes hutan di gundulin !!!!!
    pada mau bikin perahu yah…..

    ikutan ahh ngundulin hutan…orang banjir juga karna azab tuhan ini bukan gara2 hutan yang gundul….

    huhuhu


  6. Kalau nggak salah saat jaman Nuh itu lafal “Laa ilaaha illaLah” itu belum ada. Kalau nggak salah, sih. 😕

    ——————–

    Banjir kininya mana ? 😕


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: