Aha… Ternyata Aku Cerdas

Januari 30, 2008

Pernahkah anda mengukur seberapa cerdas diri anda sebenarnya? Ternyata setiap orang itu cerdas. Hanya saja pada bidang yang berbeda. Setidaknya ada 8 model kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Dan tentu saja, yang dominanlah yang akan menghantar kita menuju kehidupan yang lebih baik.

Hasil survey yang kuikuti menghasilkan urut-urutan kecerdasanku seperti dibawah ini:  

Verbal/Linguistic
  85%
Intrapersonal
  80%
Interpersonal
  70%
Logical/Mathematical
  60%
Naturalist
  55%
Visual/Spatial
  55%
Bodily/Kinesthetic
  40%
Musical
  15%

Verbal/Linguistic:

People with Linguistic intelligence love and are talented with words. They enjoy reading, writing and learning languages. They have an ability to teach and explain things to others. They learn best by reading, taking notes and going to lectures.

Intrapersonal:

People with intrapersonal intelligence are adept at looking inward and figuring out their own feelings, motivations and goals. They are introspective and seek understanding. They are intuitive and typically introverted. They learn best independently.

Interpersonal:

People with Interpersonal intelligence are good with people and thrive in social interactions. They are good at reading, empathize and understanding others. They are good at working with others and have many friends. They learn best through interaction and dialogue.

Logical/Mathematical

People with Logical intelligence are abstract thinkers and are attracted to logic and reasoning. They are good at investigation and scientific processes. They learn best by logic.

Dan, coba anda lihat kombinasi antara Interpersonal (kemampuan mengaji diri dan melihat ke dalam) dan Interpersonal (kemampuan bermasyarakat dan bergaul) ternyata menyatu dalam diriku. Hebat gak (Narsis ON). 😆

Terus kombinasi Linguistik dan Matematik ini juga merupakan kehebatan tersendiri yang selama ini ternyata aku tidak menyadari.

Selain itu, menurut survey lain dari situs yang sama ternyata aku itu seorang ISTF “The Artis” artinya:

SFPs are artistic, creative, loyal and sensitive. They have a keen appreciation for beauty because of their highly developed senses. They are easy to get along with and live in the “here and now”. ISFPs are adaptable, caring, independent and like to contribute to the well-being of others. They are typically hard to get to know.

……

Hmm… bagaimana dengan diri dan kecerdasan anda?

Test juga deh…!

Iklan

8 Tanggapan to “Aha… Ternyata Aku Cerdas”


  1. itu palesu! palesu!
    :mrgreen: semuanya hasil rekayasa sahaja!


  2. lo bukannya ada yang bilang kecerdasan dilihat dari kemampua dan apresiasi terhadap musik / seni ? he he

  3. emyou Says:

    gak percayaaaaaaaaaa!!!!!!!!

    *kabur*

  4. daniar Says:

    wah….komentar 1, 2 dan 3 menunjukkan bahwa inilah tipe umum orang Indonesia suka meremehkan orang, tapi sebenarnya mereka berkata jujur lho……..wakakakakakakakkkk

  5. indra1082 Says:

    Siapa Yang jujur dan berbohong???

  6. wiek Says:

    Aw…aaaaw…
    kombinasi Linguistik dan Matematik ini juga merupakan kehebatan tersendiri yang selama ini ternyata aku tidak menyadari===> emangnya selama ini pingsan Om, kok gak sadar hihi…..

  7. Hatim Gazali Says:

    Menurut catatan Institute for Democracy and Peace sepanjang tahun 2007 terdapat 185 tindak kekerasan terhadap keyakinan/agama tertentu. Sementara, menurut Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menjelaskan bahwa kekerasan lebih banyak menimpa kelompok dibanding individu, jumlahnya 32 kelompok (Jawa Pos,24/12). Dua data ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama di negeri ini masih menjadi barah mewah yang tak kunjung bisa dinikmati oleh bangsa Indonesia. Dalam konteks inilah, mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid menilai gagal pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono-Jusuf Kalla (23/12). Penilaian tersebut tentu tidak mengada-ngada mengingat masih banyaknya kasus yang menodai kebebasan beragama yang telah di jamin oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) .

    Bentuk penodaan terhadap kebebasan beragama bukan saja menimpa terhadap pemeluk agama diluar islam, tetapi justru terbanyak di internal umat islam. Munculnya sejumlah aliran di luar maenstream seperti Ahmadiyah, al-Qiyadah dan lain sebagainya bukan serta merta menghadirkan pluralitas keyakinan, tetapi justru memunculkan kekerasan baik fisik maupun psikologis.

    Faktor lahirnya kekerasan tersebut tidak saja di dorong oleh ketidakdewasaan beragama dan ketidaksiapan menerima yang lain (al-akhar), tetapi lebih banyak dipicu oleh lahirnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Memang, sebagaimana penjelasan MUI, dalam setiap bahwa fatwa yang dikeluarkan selalu disertakan seruan larangan melakukan kekerasan, akan tetapi pelabelan sesat atau kafir terhadap suatu kelompok tertentu ditengah masyarakat yang cenderung eksklusif dan intoleran sama halnya dengan menyulut api. Setelah mengeluarkan fatwa, MUI berupaya selalu sembunyi tangan dengan berdalih bahwa kekerasan terjadi tidak disebabkan oleh fatwa MUI.

    Sejauh ini, argument MUI untuk mengeluarkan fatwa sesat kepada suatu kelompok selalu berkisar kepada : menjaga kemurnian aqidah islam dan menjaga stabilitas kerukunan umat beragama. Akan tetapi, dengan mata telanjang sangat terlihat jelas betapa kekerasan selalu terjadi ketika fatwa sesat dikeluarkan. Adakah fatwa sesat yang tidak berbuntut kekerasan. Jawabannya tidak ada. Sebab, fatwa sesat sendiri adalah bentuk kekerasan psikis yang mendorong munculkan kekerasan fisik. Untuk menyerang kelompok yang memiliki keyakinan minoritas mendapat justivikasinya melalui fatwa MUI.

    Lalu, bagaimana dengan tahun 2008? Akankah kekerasan dan pemasungan kebebasan beragama masih menjadi tontonan menarik dimasa-masa mendatang, ataukah bangsa Indonesia semakin dewasa dalam beragama? Dan, bagaimana mestinya menyipaki perbedaan keyakinan, aliran dan agama? Haruskah dengan kekerasan dengan alas an menumpas kemungkaran atau dengan cara yang lebih santun?

    Kesemuanya itu akan didiskusikan pada Seminar Sehari “Prospek Kebebasan Beragama di Indonesia; Belajar dari Masa Lalu”, yang diadakan atas kerjasama Reform Project (RePro) dengan Community for Religion and Social engineering (CRSe) dan Senat Fakultas Ushuluddin, pada Selasa 12 Februari 2008 di Ruang Theatrical Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga jam 08.00 sampai 13.00

    narasumber :

    Dr. Lutfi Assyaukanie (Koordinator Jaringan Islam Liberal, JIL)
    Dr. Farsijana Aderney Risakota (Aktivis HAM)
    Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Hatim Gazali (08174121513)
    ———-
    haha… numpang postingan nih pak???
    😆
    salam, kangtutur

  8. edipurwa Says:

    tapi menurut rasulullah, orang yang cerdas adalah orang yang ingat mati. Gimana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: