Mengapa kita tertarik?

September 16, 2008

Tentu pernah terlintas dibenak anda kenapa sebuah tulisan pada sebuah blog sedemikian menarik sehingga anda bolak-balik menglik blog itu, membubuhkan komentar dan bahkan memasang umpan tautannya di blog anda. Jawabnya? Sederhana saja sebenarnya. Sebab ada kemiripan sebuah tulisan dengan diri anda dan ada keterwakilan anda pada tulisan itu. Maksudnya, anda merasa terwakili oleh tulisan itu, sebab tulisan itu disajikan “mirip” polanya dengan pola anda menyerap informasi.

Lalu bagaimana kemiripan dan keterwakilan itu dapat ditelusuri? Mari kita bermain sejenak, Mana diantara kata ini yang menarik bagi anda? Lihatlah!! Terdengar!! Rasakan!!

Lihatlah, merangsang mataTerdengar merangsang telinga dan Rasakan, merangsang kulit/peraba. Kata mana yang menggoda anda pada saat-saat awal tulisan (lead)?; Tergantung bagaimana urutan indera kita dalam menyerap informasi.

Misalkan dalam sebuah kelas di Sekolah Dasar. Saat Guru mengatakan, “Anak-anak lihat ke depan!” tetapi sebagian anak tetap “cuek” asyik dengan kegiatannya sendiri. Itu artinya si anak tak terangsang oleh kata lihat. Boleh jadi Guru harus menggunakan kata, “Dengarkan apa yang Ibu sampaikan”, karena si anak mungkin lebih peka telinganya daripada matanya.

Menurut ahli komunikasi, setiap kita punya pola komunikasi, “pola serap” informasi sendiri. Sebuah tulisan akan sangat menarik bila kelima indera kita terpuaskan. Sebuah tulisan akan menjadi favorit bagi kita, karena kita merasa cocok dengan cerita yang disampaikan. Padahal, sebenarnya, gaya penyampaiannyalah yang cocok dengan “pola serap” kita.

Indera melihat [L], mendengar [D], merasa [R], membaui [C] dan mengecap [K]. Mari kita selidiki urutan “pola serap” anda, misalnya:

  1. Pola 1: melihat [L] – mendengar [D] – merasa [R],
  2. Pola 2: melihat [L] – merasa [R] – mendengar [D],
  3. Pola 3: mendengar [D] – merasa [R] – melihat [L],
  4. Pola 4: mendengar [D] – melihat [L] – merasa [R],
  5. Pola 5: merasa [R] – melihat [L] – mendengar [D], dan
  6. Pola 6: merasa [R] – mendengar [D] – melihat [L].

Bagaimana seorang penulis memaparkan sesuatu sehingga menarik pembaca “tertentu”, menurut pola serap yang mereka miliki. Misalnya, seperti urutan kalimat-kalimat di bawah ini, yang nomer berapa yang “paling sreg” dengan “pola serap” anda:

  1. Mentari menampakkan wajahnya malu-malu [L] ketika kokok ayam bersahutan dengan deru ombak [D] yang memecah pantai. Dingin sekali pagi itu karena semalam turun hujan. [R]
  2. Sebentar lagi gelap akan berganti terang [L] , dingin sekali pagi [R] itu walau rintik hujan telah berganti dengan kokok ayam yang berpacu dengan hempasan ombak [D].
  3. Kokok ayam bersahutan bagai berpacu dengan deru ombak [D] saat dingin masih menusuk tulang [R]. Semalam hujan mengguyur pantai sebentar lagi matahari akan menampakkan cahayanya [L].
  4. Deru ombak seakan menenggelamkan kokok ayam [D] saat sang surya akan menampakkan kemolekannya [L] pada suatu pagi yang dingin [R], usai hujan tadi malam.
  5. Hujan tadi malam masih menyisakan dingin. [R] Tak lama lagi indahnya sinar mentari akan tersenyum [L] dari balik ombak yang menderu mengalahkan kokok ayam [D].
  6. Dingin masih meremangkan bulu kuduk walau hujan telah usai [R]. Kokok ayam [D] menemani ombak mengantar fajar menapaki pagi memancarkan indahnya cahaya mentari [L].

Bila nomer 6, berarti anda adalah seorang yang MERASA lebih dulu, baru MENDENGAR setelah itu MELIHAT.

Pada contoh diatas anda dapat membaca bahwa “suatu keadaan yang sama” dapat dipaparkan dengan “cara dan pola yang berbeda“. Nah, bayangkan bila seorang penulis mahir membolak-balik kombinasi pola serap itu dari alinea ke alinea. Tentu akan semakin banyak menyedot pembaca.

Saya menyebut “merasa-melihat-mendengar” adalah Pola Serap Utama, sedangkan “membaui-mengecap” sebagai Pola Serap Penyempurna, artinya dengan terpuaskannya hidung dan lidah maka lengkap sudah (sempurna) kelima indera kita “orgasme”.

Dengan 6 contoh dari kombinasi 3 Pola Serap Utama itu tentu akan menjaring pembaca yang berbeda, sesuai dengan “gaya” yang mereka miliki. Sudahkah anda menemukan Pola Serap Utama anda? Okeh!

Mari kita lengkapi dengan:

  • Secangkir cappucino dengan aroma coklat yang kental [C] , tidak begitu manis dan agak kelat [K] tapi siap menghangatkan tenggorokkan memberi semangat untuk berkarya pagi itu [R] . Huuurfpz…! “Aaaargh…., Hmmm…!”, kuas di tangan Dullah melambai dan menorehkan [R] warna kuning pada selembar kanvas mengabadikan fajar pagi itu [L] . Sebentar lagi kicau burung akan menggantikan kokok ayam [D] , menemani debur ombak [D] yang tak pernah lelah menghibur kesunyian pantai [R].

Hasilnya begini;

Dingin masih meremangkan bulu kuduk walau hujan telah usai. Kokok ayam menemani ombak mengantar fajar menapaki pagi memancarkan indahnya cahaya mentari.

Secangkir cappucino dengan aroma coklat yang kental, tidak begitu manis dan agak kelat tapi siap menghangatkan tenggorokkan memberi semangat untuk berkarya pagi itu.

Huuurfpz…! “Aaaargh…., Hmmm…!”, kuas di tangan Dullah melambai dan menorehkan warna kuning pada selembar kanvas mengabadikan fajar pagi itu. Sebentar lagi kicau burung akan menggantikan kokok ayam, menemani debur ombak yang tak pernah lelah menghibur kesunyian pantai.

Nah, ketika seorang penulis selalu memberikan kombinasi yang berbeda dalam setiap peralihan paragraf, mau tidak mau mau, perlahan tapi pasti, tentu akan ada saja pembaca yang “nyangkut”, dan menikmati “alur tutur” serta tak sabar untuk segera mengetahui, bagaimana akhir cerita.

Sebuah paragraf NdoroKakung;

Jalanan bergemuruh bak irama jantung yang berdetak terus memompa darah ke seluruh aorta dan pembuluh arteri. [ini merangsang telinga-D] Kerlap-kerlip lampu neon advertensi pertokoan berkeredep laksana mata yang berbinar [ini merangsang mata-L] di tengah telaga kepuasan [ini merangsang rasa– R].

Jadi, seorang yang dominan MENDENGAR, akan tergoda di kalimat pertama. Begitu masuk ke kalimat kedua yang peka MELIHAT akan terjerat pula dan akhirnya RASA.

Tidak hanya dalam dunia tulis menulis, namun dalam komunikasi keseharian bila kita dapat menemukan kombinasi Pola Serap informasi partner komunikasi kita, maka hampir dapat dipastikan bahwa tidak akan ada penolakan. Yang ada hanya ketertarikan, keasyikkan dan kesenangan. Itulah mungkin sebabnya kenapa “gosip” menempati rangking teratas untuk sebuah tulisan yang diposkan di blog. Karena menarik dan memuaskan kelima indera kita.

Bila anda memiliki kekasih dengan pola serap, [D] [L] [R] maka kalimat yang cocok untuk mengajaknya kencan adalah dengan merangsang telinga dulu, baru mata, dan rasa, misalnya;

“Kita akan ke cafe yang ada alunan musik klasik kegemaranmu [D], dengan sinar lampu  remang temaram. [L] Tentu akan membuat kencan kita serasa di Perancis” [R]

Semoga bermanfaat, mari jadi penulis hebat! Yuk…!

Iklan

9 Tanggapan to “Mengapa kita tertarik?”

  1. omoshiroi_ Says:

    ko saya jadi binun ya?

    +salam3jari+

  2. FaNZ Says:

    blom ngerti kang.. saya baca lagi yak 😀

  3. kangtutur Says:

    ternyata gak mudah menjelaskan maksudnya? 😦
    nanti akan ditambal sulam, mudah2an mencapai maksudnya.
    tksh

  4. kangtutur Says:

    Gimana? Gimana?
    Duh, Nyampek gak, Pesannya?

  5. Ndoro Kakung Says:

    wah, wah, wah, ulasan yang sangat mencengangkan, kang. aku malah baru kepikiran … 😀

  6. Hedi Says:

    teori baru ya, kang? 😀

  7. Muda Bentara Says:

    Wahhh … gila … saya kopi ya ilmunya ini ….!
    gak nyangka aja kalau semua teknik itu memiliki arti yang sangat dalam /…

  8. bodrox Says:

    gak asik lagi, kalo udah dianalisa secara struktural 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: