Tuturan Tak Bermoral

Oktober 2, 2008

Sebagai Pemimpin di sebuah Mass Media, kang Tutur bebas meliput apa saja tanpa perlu menunggu perintah, surat tugas ataupun undangan konfrensi pers dengan iming-iming amplop berisi lembaran berharga.

Bulan Ramadhan yang lalu, kang Tutur melakukan safari ke sebuah negeri. Berikut laporannya;

Helikopter yang ditumpangi kang Tutur mendarat di puncak sebuah gunung dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Gunung itu bagaikan piramid terpancung. Puncaknya sudah datar sehingga memungkinkan adanya helipad dan terminal taksi.

Satu sisi menampakkan indahnya laut dengan orang-orang yang sedang asyik berkapal layar, berselancar dan bermain ski. Sisi lain memperlihatkan hijau kemuning padi yang menghampar luas. Kicau burung terdengar sangat riang. Nun jauh disana, diseberang hamparan padi itu terlihat bangunan menjulang mencakar langit. “Mungkin itu pusat kota”, bisik hatinya.

Dengan sebuah taksi yang ada fasilitas TV serta WiFi memungkinkan kang Tutur menangkap informasi awal tentang negeri itu. Sambil nonton TV kang Tutur dapat pula mengapdet blog dan memantau plurk. 😆

Tiba-tiba Breaking News sedang menyiarkan puluhan orang tewas gara-gara berebut saling mendahului dalam antrian untuk dapat memasuki sebuah rumah. “Antarkan, saya ke situ pak”, pintanya kepada supir taksi.

Taksipun segera meluncur menambah lajunya. Indahnya sawah dan merdunya nyanyian burung bukan lagi hal yang menarik. Maunya pengen cepat sampai saja. Singkat tuturan, sampailah kang Tutur di tempat itu.

Benar, kejadian sedang berlangsung. Ratusan orang antri berebut untuk masuk ke sebuah rumah sambil berteriak-teriak dan mengacungkan uang. Ada pula yang membawa pundi-pundi berisi kepingan emas dan permata. Polisi agak kewalahan. “Tidak biasanya peristiwa ini terjadi.”, jelas supir taksi.

“Oh, ya?”

Kang Tutur langsung menghampiri seorang petugas keamanan untuk bertanya. Gerangan apakah yang sedang terjadi. Padahal tadi sudah dijelaskan oleh berita TV, hanya karena tidak percaya dengan laporan TV itu dia ingin bertanya langsung.

“Bisa bapak jelaskan apa yang sedang terjadi?”

“Hmm…, begini. Rumah ini adalah milik Wan Fakir, seorang imigran yang baru datang dari Indonesia”, jelasnya.

“Lantas apa hubungannya Indonesia dengan antrian orang-orang itu?”, makin penasaran.

“Orang-orang yang antri itu adalah orang-orang yang ingin memberikan zakat, sedekah, infak dan amal jariah lainnya. Karena orang miskin asli negeri ini tidak mau lagi menerimanya. Mereka malu kepada Allah swt kalau berharap pemberian selain kepadaNya. Bagi mereka lebih baik miskin harta. Namun semiskin-miskinnya orang disini paling tidak punya satu rumah, satu toko dan satu mobil.”, kang Tutur manggut-manggut.

“Orang-orang yang berdesakkan itu berharap sekali Wan Fakir mau menerima zakat, sedekah, infak dan amal jariah sehingga mereka terbebas dari pertanyaan Allah kelak, Harta kalian, kemana kalian belanjakan? Sehingga begitu mendapat informasi keberadaan Wan Fakir mereka berbondong-bondong ke sini. Walaupun sudah dibubarkan petugas karena ada yang meninggal mereka tetap tak mau beranjak.”

“Begitukah, orang-orang kaya di sini?”, tanya kang Tutur lagi sedikit bergumam. “Bagaimana dengan para Pejabatnya?”

“Bila anda ingin menemui pejabat negeri ini jangan pergi ke kantor-kantor mereka. Karena mereka hanya ke kantor untuk isi daftar hadir dan setelah itu berkeliaran sepenuh negeri melayani rakyat. Apakah itu membuat KTP, SIM, Kartu Tanda Pemilih dan sebagainya. Rakyat yang datang sendiri ke kantor akan dimarahi, “Apakah engkau sanggup memikul dosaku kelak di akhirat karena melalaikan urusan kalian?”, apabila sudah begitu maka sang rakyat akan ketakutan dan kembali ke rumah untuk menunggu kedatangan sang pejabat”, tuturan petugas yang diwawancarai kang Tutur semakin asyik terdengar.

“Begitu juga dengan dokter, bidan, matri atau perawat kesehatan”, kang Tutur membuat pertanyaan baru.

“Iya, semuanya. Semua yang berkaitan dengan kepentingan rakyat dan kebutuhan masyarakat banyak itu adalah pelayanan. Bahkan, bila anda ketinggalan barang yang baru dibeli maka pemilik toko akan menutup tokonya dan mengantar barang itu ke rumahnya. Segera.”

“Apa yang membuat mereka seperti itu?”

“Rasa malu. Malu kepada Allah swt di hari pembalasan terhadap apa yang telah diamanahkan kepada mereka. Kebahagian orang kaya ada dalam memberi. Kebahagiaan pejabat publik ada dalam melayani.”

Tiba-tiba terdengar raungan sirine, sebuah mobil petugas merambat pelan keluar dari rumah Wan Fakir. “Dia, akan dibawa ke kantor untuk investigasi. Bila, keberadaannya di negeri ini hanya akan membawa petaka dan keresahan di masyarakat bisa jadi mungkin didportasi. Terimakasih telah mewawancarai saya, saya harus balik ke kantor.”, petugas itu berlalu bagaikan kilat. Dan, kang Tutur pun bengong ditinggalkan olehnya.

Moral Cerita: agaknya cerita ini tak bermoral, karena di negeri ini (memang) sulit sekali menemukan orang tak bermoral. 😆

Iklan

2 Tanggapan to “Tuturan Tak Bermoral”

  1. lelouch Says:

    cerpen yang bagus 😀
    pesan moralnya bagus

  2. Hedi Says:

    bermoral atau enggak, saya kurang tahu. tapi saya seneng bacanya, kang 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: