Hambar

Oktober 3, 2008

Setelah bulan Ramadhan berlalu hidup terasa kering, garing dan hambar. Gitu-gitu aja. Kembali fitrah seperti harapan setiap orang yang berpuasa sepertinya belum tercapai. Yang ada hanya kembali seperti sedia kala, kembali seperti sebelum Ramadhan. Kembali fasik, kembali jahil, kembali bergelimang dosa. Ah, apakah Tuhan melupakan janjinya? Atau memang aku yang sudah bebal, bengal dan kebal sehingga memang sudah tak mungkin lagi berubah?

Agaknya hidup memang begini-begini saja. Bangun tidur, mandi, antar anak ke sekolah, berangkat ke kantor, bekerja, pulang, bercanda dengan anak-anak (itupun kalau mereka belum tidur), bercinta, tidur pulas dan kalau bangun lagi mengulangi hal yang sama dari hari ke hari. Bosan!
Apa sebenarnya maksud Tuhan menghantarku ke dunia yang menghampar dan penuh tipu daya ini? Apakah anda pernah merasakan, merenungkan dan memikirkan hal yang sama?

Agaknya kita, generasi 3,5G ini adalah anak zaman yang latah. Hanya mengikuti dan mengulangi apa-apa yang telah diperbuat oleh para sesepuh kita. Pertanyaan berikutnya apa sebenarnya yang kita cari? Harta, tahta atau…, bahagia? Yap, bahagia! Tapi rasa-rasanya akan sangat berbahagia bila memiliki harta dan tahta.
Ah…, tapi aku juga pernah mendengar kisah tentang seorang yang berlimpah harta, memiliki tahta dan bahkan dikerumuni banyak wanita namun dia tetap mengeluh. Singkatnya, belum bahagia. Lalu apa?

Wah, kalau begini, saatnya menemui Guru.

Halah?! Dasar Guru semprul! Orang datang berkunjung dalam suasana hari raya bukannya disuguhi kueh, ketupat dan opor. Tapi malah sepiring rawit merah dan garam. Busyet dah…! Aku melayangkan pandang ke sekitar ruang tapanya tak ada gula apalagi kopi atau sirop, gitu. Selayaknya orang menikmati hari raya.

Terbayang sudah bagaimana panasnya mulut dan lidah setelah mengunyah rawit merah. Bukan hanya itu mukapun akan merona dan dapat dipastikan akan ada aliran air mata. “Silahkan dicoba, hayo jangan malu-malu”, kata beliau sembari mengunyah rawit merah yang telah dicocol ke garam. Kulihat dia hanyut dalam kenikmatan pedasnya rawit merah bergaram itu. Diam-diam bulu kudukku merinding. Namun refleks ku comot juga sebuah, terus mencecarnya dengan garam lalu, haps… hua hua hua…! “Air…, air…, air minumnya mana Guru?”, pintaku. “He… he… he…!”, beliau malah terkekeh sambil terus mencomot beberapa rawit merah lagi. Iiih….!!!

“Jangan menanyakan yang tidak ada, hari ini hanya garam dan rawit merah. Kemarau yang menjadikan telaga tak berair. Jadi nikmati saja apa yang ada.”, jelasnya. Haaa…?! Kulihat isi piringnya hampir saja ludes, sedangkan piringku masih utuh.

“Bukankah, kau kemari mencari rasa? Karena hidupmu mulai terasa tawar dan hambar?”

“Iya, tapi buka rasa rawit merah!”, rutuk hati ku.

“Makanlah, rawit merah di piring itu akan bahagia setelah memberimu rasa pedas. Apalagi yang bisa diberikan oleh rawit merah selain kepedasan. Yah, hidup rawit merah ada pada pedasnya. Kalau rawit merah memberikan rasa manis tentu bukan rawit merah namanya, tapi gula.”

“Hmm… ini dia!”, aku mulai menyimak pituahnya sambil tetap hanya memandang potongan rawit merah di tanganku dan tetap belum memakannya lagi. “Satu gigitan tadi sudah cukup rasanya.”

“Jadi ketahuilah dirimu, dan berikanlah rasamu. Jangan berharap manis pada garam dan jangan berharap asin pada gula. Kau boleh berharap pedas pada rawit merah.”

Krakkkk… krakkk…bummm, meoooong…., meoooong….!!! Sepasang kucing bersimbah berahi mengejutkan lamunanku. Semprul…!

Iklan

10 Tanggapan to “Hambar”

  1. aRuL Says:

    saya jgua bertanya kang, apakah niat puasa itu hanya di bulan ramadhan saja kah?
    giman dengan puasa dari hal2 buruk seetelah ramadhan? sudah tidak perlukah..menjadi pertanyaan retoris bagi pribadi masing2.

  2. Hedi Says:

    saya bukan muslim, tapi saya tetep puasa senin kamis, kapanpun situasinya memungkinkan…

  3. kuro Says:

    wah bener kang, sami saya juga nih…bedewey minal aidin ma salam kenal ya 🙂

  4. Rindu Says:

    bagus mas … semoga 11 bulan kemudian akan terisi oleh pelajaran sebulan ini, dan saya tahu mungkin saya belum mampu 🙂

  5. dana Says:

    Puasa akhirnya hanya menjadi sebuah budaya. Tidak lebih.

  6. Zulmasri Says:

    habis lebaran, liburan masih lama. ya, sepi kegiatan. membosankan.

  7. mantan kyai Says:

    yah … semua merasakan hal yang sama kali yah:D

  8. nothing Says:

    hidup jangan dibuat susah..sederhana saja.. beramal sosial yang banyak… puasa mah amal untuk diri sendiri…
    sing perlu diakehi amal sosial
    🙂
    maaf maaf komen saya ga jelas

  9. grubik Says:

    iyes,
    jangan berharap manis pada rawit merah…
    setuju..
    btw, 3 paragraf awal tampaknya mewakili yang dirasakan banyak orang kang..

  10. asep setiawan Says:

    assalam mualikum. benar kang orang yg merasakan hidupnya hampa harus di kasih rawit merah sama garam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: