Stereotipisme; Keyakinan Bangsa Terjajah

Oktober 21, 2008

“Dasar… Padang Bengkok!!!”

Geli deh, seorang kawan merasa kehilangan PD sehingga ogah mengaku sebagai orang Padang. Padahal dengan mendengar dialeknya kentara buanget kalo dia itu orang Padang.

Itulah efek stereotip yang sangat mengakar diwariskan penjajah di tanah Pertiwi ini. Devide et Impera, dibagi-bagi, dipecah pecah untuk dijajah dan dikuasai. Nuansa stereotipisme itu masih ada hingga sekarang bahkan kampanyenya masih tetap berlangsung. Masak sih? Lihat saja setiap film yang diterbitkan oleh Hollywood.

Kurang sreg rasanya bila Mafia itu tidak diperankan oleh muka Itali, sebagaimana juga enggak pas dilihat kalau tukang kacau, berisik dan berandal terlibat narkoba tidak berwajah hitam legam alias Negro. Muka-muka jawara adalah muka-muka bule, putih, bangsa Amerika. Mereka adalah jawara diatas segala jawara di dalam film itu. Yang cukup menyeramkan adalah ketika menggambarkan Teroris. Dapat dipastikan itu bermuka Arab. Dan seterusnya… dan seterusnya!

Di kampungku sendiri, ketika mendengar kata “orang Jawa” maka yang ada di dalam benak mereka adalah Tukang Baso, padahal selama Indonesia merdeka kebanyakan Presiden berasal dari Jawa. Sama halnya dengan “orang Batak” dalam ingatan orang di kampungku adalah Tukang Kredit, yang menjajakan barang-barang dari rumah ke rumah, menjual secara kredit, kemudian datang mengutip cicilannya setiap hari.

Di Jakarta sendiri, orang Betawi bukan dianggap bangsa kelas satu tetapi  cenderung distereotipkan sebagai orang-orang malas, mau enak gak mau capek sehingga kalo pengen naek haji atau pengen punye motor tinggal ngukur tanah. “Jadi dah, ngecengin perawan anak Bang Mandor”.

Di Bandara Soekarno Hatta sajalah misalnya, para petugas dengan “tidak sadar” sangat hormat kepada muka-muka Bule walaupun mereka duduk dengan pongah, angkuh sambil menaikkan kaki yang bercelana pendek, berbaju tank-top plus bau badan yang dapat menghilangkan selera makan. Sementara para TKI dan TKW anak bangsa sendiri, para pahlawan devisa itu dibiarkan menggeletak, lesehan di lantai dan…, ah sudah lah!

Terus, bagaimana dengan Aceh, Cina, Sunda, Ambon, Bugis, Dayak, Papua, Madura, Bali…., hingga Keling? Setali dua Uang, Sama saja, sami wamon, podho wae! Menjengkelkan sebenarnya untuk dibahas. Akibat paling jelek adalah menjadikan etnis tersebut Rendah Diri. Orang-orang Indonesia di luar negeri (katanya) lebih senang mengaku sebagai Malasysia atau Filipino. Tuh, ternyata sudah demikian “terjajahnya” mindset kita sebagai orang Indonesia. Artinya sudah sedemikian mengakarnya “perasaan jerjajah” itu dalam diri kita.

Selain itu, stereotip juga berdampak kepada “pengaplingan” profesi Padang itu Pedagang, Batak itu Pengacara, Bugis itu Pelaut, Ambon itu Penyanyi dan seterusnya…!

Nah, kalo kita analisa kata stereotipisme itu juga bermakna; stereotipisme

Gelombang suaranya masuk dari segala arah (kiri kanan), tipis dan sulit diraba, halus sehingga mempengaruhi orang langsung ke bawah sadarnya dengan tujuan satu, yaitu Me. Keakuan, egoisme, ananiyah dan entah apalagi istilahnya. 😆

Jadi, ketika telah mengetahui bahwa stereotipisme itu adalah “alat penjajahan” kenapa tidak dibuang saja?

Iklan

16 Tanggapan to “Stereotipisme; Keyakinan Bangsa Terjajah”

  1. dadan Says:

    stereotipisme itu menyebalkan 😀 walau mungkin bukan monopoli orang-orang negeri kita aja 😀

    memang sudah saatnya kita memandang hal-hal tersebut dengan sebuah pencerahan baru …

  2. latree Says:

    aslinya mana?
    solo
    solonya mana?
    uhm..agak ke sana dikit… wonogiri
    wonogirinya mana?
    uhm… ke sana lagi dikit…. slogohimo..

    bah. kalo ada orang bertanya padaku, aku akan langsung jawab: wonogiri, titik!

  3. warmorning Says:

    Saya urang banjar. Aseli 🙂

  4. ndop Says:

    wow, kenapa ndak bangga aja yah? khan berarti Indonesia kaya toh..

  5. andi thimbu Says:

    saya tertarik dengan pengaplingan hehehehe…karena negeri ini sudah dikapling2 berdasarkan jalur kekeluargaan hahaha….
    ada kapling UI yg jadi ekonom hahaha, ada kapling TNI yang kemaruk mo jadi capres 2009, ada kapling HMI yang pengen jadi politisi hahahaha dan masih banyak kapling2 yg lainnya.
    atau jangan2 surga sudah dikapling-kapling hahahahaha
    kalo saya sih mendingan mesen kapling buat kuburan wkwkwk

  6. Yoyo Says:

    saya asli Ciamis, bangga……jadi warga Ciamis Manis….. 🙂

  7. easy Says:

    saya lahir bangka tapi berdarah jawa. 😀

  8. riko Says:

    saya orang jawa….
    saya orang padang….
    saya orang batak…
    saya orang bugis…
    dsb…
    kenapa kita tidak pernah lsg ngejawab bahwa kita adalah orang indonesia….
    kadang saya jadi mikir,apa kita terlalu maksa jadi satu negara kesatuan diantara banyak nya perbedaan adat budaya…
    mari kawan lebur kedaerahan kita menjadi satu kesatuan sabagai orang indonesia…
    tapi tetep kampung saya padang tinggi *wkwkwkwkwk*

  9. fickry Says:

    saya sepakat dg mas Riko di atas…

    saking ragamnya identitas lokal kita, mungkin mentri pariwisata kesulitan budaya mana yg dpt merepresentasikan budaya nasional..ya takut ntar primordial or something…

    kalo liat china..ya jelas budaya nya mengakar kuat..jepang ya jelas..Malaysia ya jelas dg Malay nya..nah klo kita?? wuteva…

    cheers.

    n/b: mo kopdaran di palembang ya mas..hoho..

  10. anny Says:

    Kang Tutur salam kenal ya?
    Dari Sunda ya?

  11. Muda Bentara Says:

    dan saya orang isalam ….

  12. sufimuda Says:

    Orang aceh sering dijadikan bahan lelucon bagi orang batak, rupanya warisan belanda ya 🙂

  13. renimaldini Says:

    Saya urang Minang asli bgt dan lahir di Padang..
    Dan saya sangat bangga, bangga sekali bahwa saya urang Minang , tempat lahirnya sang proklamator bung Hatta, Hamka, hingga Tanmalaka.. (he..he.. gak nyambung..)

    kenapa harus malu lahir di Padang, Medan, hingga pelosok di Papua sono…
    Tp, betul kata mas kangkutur ini, ketika di Bandara kenapa si bule, atau oarng yang bergaya kayak bule begitu dihormati dan yang bergaya sedikit kampungan di cuekin..
    entahlah…

  14. Daniel Says:

    Buat yg sudah mengerti betapa BIADABnya Stereotipisme hrs kudu memeranginya. Mulai aja dari diri kita masing2 dulu.

    Saya orang PALEMBANG, tepatnya di Desa BERINGIN.

  15. Vira Says:

    Hargai budaya sendiri, hormati budaya orang lain. Berbeda-beda tapi tetap satu, bangsa Indonesia. Hehehe…, jadi ingat Sumpah Pemuda… Semangatnya masih ada ndak ya, dihati penerus bangsa?

  16. dondanang Says:

    ada yang salah sama orang jawa? 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: