Harkam Effendi, Wartawan Tak Kenal Henti

Januari 25, 2009

Selain unik juga nyentrik. Terkadang konyol dan keras kepala. Tidak mau direndahkan, ogah diremehin dan juga tak sudi dikatakan sudah tua. Seorang yang konsisten dengan pilihan hidupnya sekaligus tak pernah menyesal untuk hidup “sangat sederhana” menjadi WARTAWAN.

harkam-010Tinggal bersama seorang isteri dengan empat orang anak di sebuah kontrakan di Gg. Gotong Royong Kelurahan Makasar Jakarta Timur seakan memaksanya (dia sendiri tak pernah merasa terpaksa) untuk tetap bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan Kosmopolitan Ibu Kota. Harkam Effendi, Pak Tua yang selalu merasa Muda tetap setia dengan panggilan hidupnya sebagai jurnalis.

Tentu anda bertanya, siapa orang hebat ini? Sebagai “wartawan karatan” namanya memang tak sebingar Goenawan Muhammad, tak sehebat Jacob Oetama, apalagi bila dibanding dengan Engku Rosihan Anwar atau Moechtar Lubis. Dia hanya seorang wartawan biasa. Kini tanpa Surat Kabar lagi, sejak Berita Yudha ditutup sekitar tahun 1998. Yap, Bung Harkam adalah mantan Wartawan media angkatan bersenjata di Era Orde Baru itu. Di masanya, konon dia kesayangan Ali Moertopo. Hampir kemana saja Bung Ali bertugas Bung Harkam diajak untuk meliput perjalanan dinasnya.

Pekenalan

Aku berkenalan dengan beliau sekitar tahun 2000 pada sebuah media ecek-ecek bernama Suara Demokrasi dimana kami sama-sama menjadi wartawan. Namun koran itu hanya terbit dua kali kalau aku tak salah ingat. Beberapa tahun kami terpisah oleh perjuangan untuk bertahan hidup di Jakarta ini. Hingga suatu kali aku dipanggil lagi untuk bersama-sama membidani koran Ketahanan Rakyat. Namun karena tidak tahan dengan terpaan kebutuhan dapur dan “tipuan” calon investor akhirnya jangankan untuk mengibarkan Ketahanan Rakyat untuk bertahan sebagai Tim saja kami kesulitan.

Tak Berhenti
Dan sekali lagi aku membuktikan semangat Pak Tua ini. Walaupun nomor henponku sudah bertukar dan kami kehilangan kontak untuk sementara, namun di tahun 2004 Bung Harkam kembali dapat menemukan jejakku di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dimana aku bekerja saat itu. Aku diminta lagi menerjemahkan konsepnya untuk membidani sebuah media tentang Transmigrasi di DepNaKerTrans.
Konsep Bung Harkam yang hebat itu dituangkan dalam bentuk proposal. Rapat demi rapat telah dilalui bahkan hingga ke level eselon satu. Namun apa hendak dikata, sekali lagi si Bung yang Rabun ini harus mengalah. Begitu proposal disetujui dan anggaran dikucurkan dia kembali harus menelan pil pahit, “ditendang” dari tim oleh para birokrat di Departemen itu. Gelinya, ide untuk menerbitkan media itu tetap berjalan. “Sabar sajalah!!!”, rutuk si Bung kala itu.

Masuk Gedung Nusantara III di MPR-RI

Menjelang berakhirnya tahun 2006 seorang kawan di Bagian Humas DepDagRi, mengabariku karena kembali, sekali lagi Pak Harkam mencariku. Sejak gagalnya bergabung di media DepNakerTrans itu, rupanya Bung Harkam belum kapok juga. Dengan bantuan anaknya, Getra, yang masih duduk di SD waktu itu, dia membidani IntraAktif, yaitu satu jilid fotokopian kliping Koran Tempo, Kompas dan kadang Media Indonesia atau Pos Kota yang dikelompokkan secara tematis untuk kemudian dirangkumnya menjadi satu atau dua paragraf dengan tulisan tangan. Dengan itu dia tetap eksis sebagai wartawan. Dan hidup dari jualan “analisa” kliping koran yang dibuatnya. Alasannya sederhana saja, “Tak semua pejabat sempat baca koran”. 😆

Nah, suatu kali saat menenteng IntraAktif itu dia (tak sengaja) bertemu dengan Wakil Ketua MPR-RI, A.M. Fatwa. Dengan presentasi singkat anggota Petisi 50 ini tertarik dan mengundangnya ke kantornya di Gedung MPR-RI beberapa hari berikutnya. Saat itulah aku kembali dipanggil untuk membantunya membuatkan Curricullum Vitae. Setelah itu kami pun masuk ke ruangan petinggi MPR-RI itu di Gedung Nusantara III. Pak Harkam pun diangkat menjadi Staf Ahli Bidang Mass Media.

Disitulah juga aku baru tahu banyak mantan birokrat, mantan pejabat dan mantan aparat beralih profesi sebagai Staf Ahli. Tadinya aku sempat berpikir pekerjaan Staf Ahli itu hanya siasat untuk memberdayakan kembali para mantan itu. Dari pada menganggur. Ah, entahlah?! Aku sudah cukup senang menghantar Pak Harkam mendapatkan “ladang” pengabdian baru sebagai wartawan.

He… he…! Perjalanan nasib memang tak mudah diduga. Hanya dari 6 November hingga 31 Desember 2006 Pak Tua Rabun ini bertugas sebagai Tenaga Ahli di Kantor Wakil Rakyat itu. Untuk memperpanjang masa aktifnya, dia diminta menyerahkan ijazahnya. Sayang sekali, karena ijazah itu hanyut saat rumah kontrakannya dilanda banjir beberapa tahun lalu Pak Harkam tak dapat memenuhi ketentuan administratif itu. Dia pun dipecat sebagai Staf Ahli.

Namun keahliannya sebagai orang media tak pernah berhenti. Diapun kembali menekuni IntraAktifnya dan kembali berkeliaran di DepNaKerTrans untuk bertahan hidup dengan seorang isteri, empat orang anak dan sebuah Rumah Kontrakan yang mesti diongkosi setiap bulannya. “Hidup adalah pilihan, Saya tidak pernah menyesal dengan pilihan hidup saya, sebagai Wartawan”, begitu katanya suatu kali. “Saya senang, saya bahagia!”

Sejarah Karir

  • Bung Harkam mengawali karir jurnalistiknya sejak dari bangku kuliah lewat Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Kebanggannya adalah bila Siaran Pers IPMI dikutip oleh media besar seperti Kantor Berita Antara. Kemudian aktif selaku:
  • Pelaksana Harian pada Surat Kabar Mahadjaja, sebagai Harian Pertama Mahasiswa yang terbit setiap hari (1962-63)
  • Redaktur Buletin Biro Berita IPMI (1962-1966)
  • Redaktur Harian Angkatan 66 (1966-1967)
  • Wartawan Khusus Konite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) – Staff Ahli Menteri Muda Urusan Pemuda, Dr. Abdul Ghafur dan Wartawan Berita Yudha (1971-1998).

Aktivitas Organisasi

  • Mendirikan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI)
  • Berperan dalam Kepanitiaan Diskusi Bahasa Indonesia KAGI membahas Ejaan Baru (EJABU) sebagai cikal bakal Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Hadir pada diskusi itu Mantan Wapres Dr. Muh. Hatta, ST Alisjahbana, J.S. Hadis dan para pakar dari UI, IAIN, IKIP Jakarta dan Balai Pustaka. [Madjalah PEMBINA, No. 9 tahun VII, 14 Pebruari 1969]
  • Sekretaris I Jajasan Film Mahasiswa Indonesia (JAFMI) – [Sinar Harapan, 10 Djan 1966]
  • Koordinator PWI Jaya bidang Pameran, setelah melahirkan MICE (Meeting Incentive Convention & Exhibition) – [The Indonesian Times, November 22, 1995]
  • Koordinator PWI Jaya bidang Transmigrasi (1992-1995), disinilah agaknya kenapa dia betah dengan urusan Transmigrasi hingga sekarang.

Prestasi

Kalau melihat keadaannya sekarang, tentu orang akan berpikir beliau adalah wartawan abal-abal alias bodreks atau wartawan amplop. Itu sih, sah-sah saja. Namun dia bukan tanpa prestasi! Sebut saja:

  • Pemenang I tulisan tentang Perumahan Rakyat, mendapat penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum Ir. Suyono Sosrodarsono
  • Pemenang I tulisan tentang Pameran dan Promosi Indonesia di Jakarta Fair, hampir berturut-turut selama 10 tahun
  • Pemenang I tulisan pada Pameran Produk Ekspor (PPE) mendapat penghargaan dari Menteri Perdagangan, M. Arifin Siregar. [Berita Yudha, 7 Desember 1991]

Sekarang

Setelah terpisah sejak awal 2007 baru baru ini kembali seorang kawan mengabarkan Bung Harkam mencariku. Kamipun bertemu, bernostalgia lagi. Dan satu hal, dia tetap bermimpi memiliki sebuah Media yang independence, bebas dari intervensi dan tak mau dicap WTS (Wartawan Tanpa SuratKabar) lagi.
Melihat perjuangannya, mendengar kegembiraan dan kegetiran kisahnya dan merasakan semangatnya yang masih bergelora aku terpancing untuk membuatkannya sebuah website atau lebih tepatnya weblog pada portal blog gratisan “blogspot” dengan sentuhan domain yang juga gratisan jadilah Harkam Press Online (HPO) dengan alamat www.harkam.co.cc dimana untuk mengisinya akupun melatih kilat Getra, anaknya yang sekarang sudah duduk di bangku SMP.
Ada satu hal yang kembali dalam diri Pak Harkam dengan adanya HPO ini. Matanya berbinar, suaranya bergetar dan semangatnya kembali berkibar. Harga dirinya yang remuk selama ini perlahan kembali bersinar.
Di usia yang hampir 80 tahun ini dengan bangga dia masih mengatakan, “Saya tidak pernah menyesal dengan pilihan hidup untuk menjadi seorang Wartawan”

Spikles!!! Selamat Berjuang Bung!

Iklan

11 Tanggapan to “Harkam Effendi, Wartawan Tak Kenal Henti”

  1. kangtutur Says:

    Karena koneksi lemot, terpaksa skrinsyut berupa klipping koran dll belum dipublish. Sabar yah…! 😆

  2. anny Says:

    Pak Harkam salam kenal yah untuk beliau 🙂
    Dunia jurnalistik memang penuh tantangan dan dedikasi ya?


  3. mungkin jarang ada wartawan yg seperti pak Harkam 🙂


  4. manusia yang langka 🙂

  5. bodrox Says:

    Linknya kok beda sama alamat blognya, kang?

  6. harkam Says:

    Kang,
    Dokumentasi sudah ada di Flickr
    ini linknya http://www.flickr.com/photos/harkam

  7. kangtutur Says:

    Pukul 09:08 pm tanggal 15:03:09 aku mendapat telepon yang mengabarkan Pak Harkam sudah meninggalkan dunia yang penuh tantangan ini.

    Innalillaahi wa inna ilaihi ro jiuun…!

    Mohon maaf dan selamat melanjutkan perjalanan Bung Harkam…!

  8. dadan Says:

    innalilaahi wa inna ilaihi rojiuun …


  9. […] Ngelantur dadan di Harkam Effendi, Wartawan Tak K… kangtutur di Harkam Effendi, Wartawan Tak K… ainun di Ideologi yang Tergadai bodrox di […]


  10. Assalamulaikum wr.wb.
    Bila ada keluasan dan berkenan untuk membantu keluarga Harkam Effendi ini, sejawat dapat menyalurkan infaq, sedekah, zakat kepada keluarga melalui rekening istri beliau:
    Dewi Zumaroh, rekening 9203379599 pada Bank Muamalat Share Cabang Mampang Prapatan Jakarta.

    Atas bantuan moril dan materiil diucapkan jazakumulloh khoiron katsiron.

    wassalam wr.wb.
    riza

    nb;
    Beliau meninggalkan 4 orang: anak 2 laki di smp dan 2 perempuan di sd.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: