Mmh… Madamme Hillary

Februari 19, 2009

Disclaimer:

Ini bukanlah analisa akademis dengan latar belakang data statisitik yang njelimet, namun tak lebih dari eksplanasi rasa yang muncul dari lubuk hati. Jadi tak dapat dijadikan rujukan. Dan postingan ini cukup panjang…!

Euforia kesuksesan Barok Hussein Obama (makna: Hussein.ra ~ cucu Muhammad saw~ yang diBerkati, anak dari Obama) menjadi Presiden negara Adi Daya, Adi Kuasa benar-benar mempesona dan membuat gila seluruh dunia, baik yang nyata maupun yang maya.

Yap…, seluruh dunia! Termasuk dan tidak terkecuali Indonesia. Apalagi karena dia pernah tinggal di Menteng Dalam, Jakarta. Kemudian tentang keinginannya berkunjung ke sini untuk kembali dapat mencicipi Baso, Nasi Goreng dan Rambutan.

Namun sebelum kunjungan Hussein Obama (lebih keren gitu kali yeah…?) diutuslah mantan Ibu Negara, yang kini Menteri Luar Negeri, Madamme Hillary R. Clinton. Sambutannya? Wah, jangan ditanya. Mulai dari pelajar dari SD tempat Obama pernah sekolah, terus para aktor politik, pejabat, artis, hingga Presiden mengelukan nyonya cantik isteri bekas Presiden AS Bill Clinton ini.

hillary

Tanpa canggung dan syak wasangka, merasa seperti di rumah sendiri, nyaman, tentram dan menyenangkan. Itulah kesan yang ditampailkan Hillary selama di Indonesia. Kita benar-benar terpukau oleh keahlian dan pesona bahasanya.

Hanya di Medan yang terkabar menolak kehadirannya.

Boleh terpukau oleh pesonanya namun jangan terlena. Kalau tak ada berada, mana mungkin tempua bersarang rendah? (pepatah melayu).

“Ah, kang Tutur bisa aja. Janganlah syak wasangka macam tu…!”

Anda boleh saja berkesan seperti itu. Namun ini bukan tanpa dasar. Kalau boleh ditamsilkan, Politik kekuasan Amerika itu bagaikan tiga jari saja. Jempol, Telunjuk dan tengah.

“Wah, apa pulak ini?”, tentu anda bertanya. Simaklah tuturan ini. Hampir terhadap semua negara, apalagi dunia ke-3, Amerika melakukan pola 3 jari ini.

  1. Jempol: bermakna pujian. Pada setiap negara dimana Amerika ada keperluan dan kepentingan maka mereka akan selalu “memuji” dan menyanjung. Bila pemimpin suatu negara tak terpukau oleh pujian maka, masuk jurus ke 2.
  2. Jempol & Telunjuk bergesekan: bermakna, uang. Dapat berupa bantuan hibah, pinjaman lunak hingga keras. Dengan uang mereka ingin membeli dan menguasai. Sebab ada iming-iming penguasa boleh “menyunat” bantuan itu untuk keperluan dirinya. Bila ini pun gagal, karena ditolak maka jurus berikutnya,
  3. Menjepitkan Jempol dan Telunjuk diantara Jari Tengah (bagaikan Kuku Bima): bermakna, Seks/Skandal. Pemimpin sebuah negara ditawarkan mesum sehingga muncullah skandal sehingga rakyatnya marah. Diam-diam Amerika akan mengelus-elus penggantinya. Bila jurus ini juga ditolak maka langkah berikutnya adalah
  4. Mengacungkan Telunjuk, Jempol mengokang, Jari Tengah menarik pelatuk (bagaikan orang menembak dengan pistol): bermakna, bahwa Pemimpin tersebut akan dikudeta, digulingkan atau dimatikan untuk digantikan dengan yang tidak menolak. Dan kemungkinan di negara itu akan dibuat perang saudara. Biasalah, devide et impera.

Mengerikan! Dan itulah kenyataannya. Jadi saudara, janganlah terpukau oleh hal yang terlihat dan terdengar semata.

Peran Amerika di Indonesia sejak Era Reformasi

Soeharto lengser, Habibie menggantikan. Dimasa teknorat ahli Pesawat ini, Timor Timor menjadi Timor Leste. Biarlah! Para tahanan politik dibebaskan. Mr. Crack digiring untuk mengadakan Pemilihan Umum yang demokratis, versi Amerika tentunya. Masih ingat kedatangan mantan Presiden AS Jimmy Carter untuk mengawal Pemilu?

Dimasa ini Megawati mengunjungi Amerika dan bertemu Bill Clinton, yang konon teman sekolahnya. Mega sedang dielus, untuk dijagokan.

Namun kekuatan Islam tradisional dan Islam moderat belum menginginkan Presiden Perempuan. NU dan Muhammadiyyah memadu kasih, lalu menempatkan Gus Dur sebagai Presiden dan Amien Rais sebagai Ketua MPR-RI. Megawati cukup sebagai Wakil Presiden saja.

Disini strateginya adalah mengulur waktu, menunggu lawan lengah sambil tetap mengelus Jagoan. Terbukti kemudian Amien Rais memecat Gus Dur dan menaikkan Wapres Megawati menjadi Presiden.

Dimasa Jeung Mega, walaupun sejumlah BUMN dijual, belakangan Amerika nampaknya membaca gelagat, kemungkinan akan munculnya Soekarnoisme di Negeri ini. Wah, bisa berabeh hinih!!!

Layangkan ingatan anda, ketika semasa Mega, Menko Polkam Susilo Bambang Yudoyono mengadakan lawatan ke Amerika guna membahas masalah terorisme.

Konon, 2 kali SBY berpidato. Pertama pada undangan Cocktail Party dan kedua di depan kongres. Hebatnya, setelah pidato singkat yang hanya beberapa menit saja itu membuat orang-orang Amerika berdiri dan bertempuk tangan ~standing applaus~ yang luar biasa untuk seorang dari Indonesia. Ada apa? (Ingat Jurus Jempol – SBY sedang dielus, sebagai Jago Cadangan)

Sepulangnya ke Tanah Air, Mega tak berkenan SBY hadir dalam Rakor Polkam, padahal dia adalah Menko Polkam. Aneh gak? Boleh jadi, kubu Mega sudah membaca gelagat tak beres.

SBY ngambek, suami Mega, Taufik Kiemas nyeletuk, “Ah, kayak anak kecil!” Disusul oleh kompor Amien Rais, “Sebaiknya Mundur, ajah!” Aku lupa, waktu itu Gus Dur ngomong apa yah? (Ada yang inget?)

Singkat cerita, SBY mundur dari Kabinet, lalu mendirikan Partai Demokrat. Dengan modal bahwa dia telah dizalimi, bahwa di juga guanteng dan bisa menyanyi, akhirnya SBY pun melenggang ke Istana Negara sebagai RI 1.

Dimasa SBY, yang konon sukses menurunkan BBM sebanyak 3X 😆 Mega menyebutnya layaknya bermain Yoyo. Naik Turun – Naik Turun. Sebelumnya pernah, juga Mega menyentil bagaikan Poco-Poco, Maju Mundur- Maju Mundur.

Dimasa kondisi seperti itulah Hussein Obama dan Hillary Clinton memukau dan mempesona dunia, juga Indonesia. Orang mulai berandai-andai dan menduga-duga.

Kedatangan Hillary untuk memuja Rakyat Indonesia yang mayoritas muslim, penuh toleransi, ramah-tamah, senang membantu, tetap bahagia walaupun keadaan ekonomi sulit dan… (ah, entah apa lagi. Ingat Jurus Jempol)

Entah, kenapa? Aku seakan dapat merasakan bahwa SBY dan orang-orang sekitarnya tidak sesenang dan senyaman rakyat Indonesia yang mengelukan kedatangan Hillary sebagaimana diulas oleh TV, Radio dan SuratKabar.

SBY sepertinya TerTEKAN. Rumusan dan Rancangan di belakang kamera televisi pada saat pertemuan-pertemuan tertutup dari jangkauan Pers dan Media. Siapa yang tahu? Apa yang mereka bicarakan, rencanakan dan lakukan? Kita hanya boleh menduga. Hanya itu yang kita bisa, menduga dan berkomentar dengan mulut berbusa. Namun, inga… inga… Amerika akan tetap manjadi Amerika. Dengan segala impian dan nafsunya untuk menguasai dunia.

Ah, spikles  😦

Welcome, Welkomen, Ahlan wa sahlan, Selamat Datang, Bonjouir Madamme Hillary… Dan, Segeralah kembali!!!

Iklan

5 Tanggapan to “Mmh… Madamme Hillary”

  1. Ogi Says:

    yap, amerika sih tetep aja amerika.

  2. Rian Says:

    jangan-jangan mau ngacak-ngacak pemilu 2009 :mrgreen:

  3. Fortynine Says:

    saya terkesan dengan jurus jurus jarinya itu…

    Yah, sejauh ini juga memang sudah banyak kabar dan analisa soal jari jari itu. Dan yang terakhir ‘nembak’ itu, mungkin Bung Karno yang telah merasakan ditembak Amerika dengan peluru emas bernama ‘Pak Harto’

  4. Prince Says:

    3. Menjepitkan Jempol dan Telunjuk diantara Jari Tengah

    jurus ini kayanya belum pernah di Indonesia ya?
    apa gak mempan?
    apa salah umpan?

    btw, aku kok susah mraktekinnya, sampe kepluntir-2 jariku…. 😀

  5. mfirmanshah Says:

    urang awak emang rancak analisanya 🙂
    bagaimana klo awak sajo yg jadi presiden bisuak Da ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: