Pengalaman Memilih dan Dipilih

April 9, 2009

Sebagai warga negara ketika sudah berumur 18 tahun telah memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Pemilu yang pertama kuikuti adalah pada tahun 1987. Biasalah, karena faktor orang tua aku memilih Golkar, Berikutnya adalah pada tahun 1992, saat menjadi mahasiswa.

Berharap ada perubahan aku memilih PPP. Karena terdaftar di lingkungan kos-kosan di Kota Padang. Setelah itu aku pulang kampung, sekalian ngambil bekal bulanan. Sampai di rumah ternyata, pemilihan masih berlangsung. Rupanya, akupun masuh Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan akupun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. (maruk banget yaks?) Karena ada kerabat yang nyaleg dari PDI, jadilah aku nyumbang suara ke PDI.

Kemudian di tahun, 1997, di kos-kosan karyawan di Jakarta Timur, kalo gak salah akupun kembali memilih P3? Lupa soalnya?

Reformasi!!! Pemilu dipercepat! Tahun 1999, karena korban krisis, kena PHK, akupun pulkam. Di kampung ditawarkan menjadi Caleg PDI-P. Dengan catatan, prosedur intern telah ditetapkan bahwa yang bakal duduk adalah pemenang dengan perolehan, prosentase, tertinggi. Semi distrik, istilahnya, kalo gak salah.

Belum seperti saat ini, yang marak dengan baliho, poster dan spanduk. Cuman, waktu itu aku (ciee…) selangkah lebih majulah dibanding dengan caleg-caleg lainnya. Khususnya dalam hal “sadar media” promosi dan kampanye. Aku pergi ke studio untuk berfoto, dengan pose mengangkat tangan dan jari membentuk lambang OK. Jempol dan telunjuk membentuk “O” 3 jari lainnya berdiri tegak. Dengan baju “merah”. Dengan sedikit olahan, tempel-tempelan dan semboyan. Lalu, aku pun bergerak menempel ke setiap tiang listrik, dinding-dinding lepau (baca: pajak / warung). Banyak orang terpana, heran, waktu itu. Hasilnya, sodara! Kelurahan, tempatku tinggal adalah basis P3 yang selalu hijau setiap masa Pemilu itu, akhirnya jadi Merah…!

Menurut, aturan akulah yang pantas dan patut menduduki 1 jatah kursi di DPRD II Payakumbuh. Dan aturan pun segera berubah. Trik trik mulai bergerilya, untuk menjegalku.

Singkat cerita, akupun dikalahkan di internal partai pada tingkat Ranting dan Cabang. “Assyeeee….mmm!” Dari situlah kesimpulan, bahwa sehebat apapun seeorang caleg, ternyata otoritas Partai lebih berkuasa. Menentukan, siapa dapat apa? Biasanya yang dekat dengan para petinggi partai, beruang dan pandai menjilat juga menyogok. Itulah yang dimenangkan. Lemah sekali posisi tawar kita sebagai caleg. Ternyata mereka hanya perlu “vote getter”.

Belakangan, ku tahu yang menggantikan posisiku dengan cara tidak valid itu berurusan dengan HUKUM. Yah, begitu lah! Selanjutnya, kagak usah dibahas dah…! Aku bergabung dengan Partai Putih…! Yah, setidaknya aku telah mencoba menjalani hak dan kewajiban sebagai warga negara. Ikut memilih dan pernah dipilih…!

Sekarang…… Ooogah aaaaa!!!!!!!!!

sumber: politikana.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: