Katakan Saja: CINA

April 28, 2009

politikana-ngutipBanyak hal menarik bisa ditulis dengan tema, Cina. Selain Feng Shui/Hong Shui, Shio, Kung Fu, Shao Lin, Bruce Lee hingga Jet Li.

Beberapa waktu lewat, aku nguping gosip ibu-ibu belanja di Tukang Sayur Keliling bahwa anak si anu sudah dilamar. Calon suaminya bukan “orang kita” tapi Cina. Bla… bla… bla…!

Memang apa beda Cina dengan “kita”?, aku bertanya dalam hati.

“Tapi untungnya sudah, islam. Mualaf”, tambah Bu Bigos itu.

Emang kenapa kalo Cina? Dan kenapa pula kalau dia telah islam?

Stereotype!?

Yap…! Etnis dan Agama adalah hal yang paling enak digosipin dan distereotipin. Entah, sejak kapan pengkotak-kotakan ini terjadi? Mungkin sejak zaman Penjajahan Belanda. Akibat, paling serem dan paling dekat dengan kita terjadi 10 tahun lewat, pada Mei 1998.

Miris… kalo inget. (:

Back to Topic. Bicara Cina dan bicara Islam, agaknya kita orang Melayu mesti membuka buku sejarah kembali. Orang Cina sudah menerima Islam bahkan sejak Muhammad saw, masih ada. Jauh lebih dahulu dari pada “kita” Melayu. Jadi, gak ada alasan untuk takut bermenantu orang Cina, kan? Apalagi kalo memang toh, dia Mualaf.

Namun, agaknya stereotip dan pengkotakan etnis ini tidak hanya di tatanan akar rumput, rakyat kebanyakan. Aku juga masih sering menyaksikan “kegamangan” ini di televisi. Bahkan oleh para tokoh sekalipun. Kegamangan itu terasa kental ketika mereka menyebut kata C I N A. Ada yang menyebut Cai Na (China), CaiNis (Chinesse) dan Tiong Hoa.

Jujur, kegamangan itu masih terasa. Kenapa tidak sebut saja dengan lugas, Cina, gitu. Selugas kita menyebut Jawa, Padang, Ambon, Batak, Sunda, Dayak, Bugis dst.

Belum cukupkah, tokoh tokoh seperti: Yap Thiam Hien, Arief Budiman, Soe Hok Gie, PK. Ojong, Mas Agung, Rudi Hartono, Alan Budikusuma, Verawati Fajrin, Susi Susanti, Andrie Wongso, Jaya Suprana dan….. Lihat sendiri deh daftarnya!

Dan di kalangan Blogger sendiri, kita dapat menemukan tokoh-tokoh “anyar” seperti Jennie S. Bev, Herman Saksono, Rudy Gunawan, Rama Mamuaya, Christ Xu dan tentu lebih banyak lagi…!

Sampai kapan kegamangan itu akan berlanjut? Kalau memang, kita sepakat menghentikan “kegamangan” ini, mari kita katakan saja. C I N A.

Gambar dikirimin: Mas Paman via FaceBook

Sumber: Politikana.Com

Iklan

11 Tanggapan to “Katakan Saja: CINA”

  1. chualim Says:

    Artikel yang sangat bagus…
    Jangan pernah bedakan cina..
    http://chualim.wordpress.com

  2. Maya Says:

    bukan hanya Cina … etnis lain yang minoritas biasanya juga dikotakkan.

  3. jawaipost Says:

    Inilah manusia….

  4. ariau Says:

    hhmmmm mungkin jadi kebiasaaan kang,saya pernah nonton di metro tv tentang Indonesia sama Malaysia dulu, yang berbatasan di Kalimantan,saya lupa-lupa inget,tp kalo ga salah nyeritain tentang tentara indonesia yang malah ngebelot,terjadilah perang grilya,,nah di kalimantan itu tuh,cina kan yang banyak dagang…ada isu kalo warga keturunan cina itu yang suka suplai makanan ke mereka..akhirnya warga cina-nya diasingkan…trus jadi ada cap “jelek” tentang cina….

    nah cap itu kan terjadi turun menurun,apa mungkin karena saking lamanya,jadi kuat tertanam di pikiran setiap pribumi di Indonesia…. :p

  5. rani Says:

    numpang lewat kang 😀

    skalian promosi film ini

  6. BobEcaEco Says:

    Asal tidak berhenti pada batas pembedaan aja kali’, Kang. Perbedaan segala hal pasti banyak, yang penting kan belajar dari kelebihan sesuatu yang berbeda itu untuk meningkatkan kualitas diri..ciee..

  7. Denny Hendrawan Piliang Says:

    Teori pecah belah, rakyat yang terkotak-kotak dan politik adu domba akan memudahkan para panguasa untuk terus menguasai negeri yang kaya ini..
    Humanisme harus dipahami dan diajarkan semenjak dini, kale yee..
    salam

  8. NdaruAlqaz Says:

    jadi inget mantan cewekku yang Cina.

    *pacar tercakep yang pernah kumiliki 😛 *

  9. Margani, Lampung Says:

    Cina ? Mereka saudara kita kandung kita juga. saudara sebangsa dan setanah air. Ok

  10. Margani, Lampung Says:

    Cina ? Mereka semua saudara kita semua. saudara sebangsa dan setanah air.Ok ?


  11. Duh, bahasan yang menarik sekali. Untuk “Ariau”, kan diatas sudah dijelaskan: “Yap Thiam Hien, Arief Budiman, Soe Hok Gie, PK. Ojong, Mas Agung, Rudi Hartono, Alan Budikusuma, Verawati Fajrin, Susi Susanti, Andrie Wongso, Jaya Suprana dan…..”

    Mereka semua jauh dari orang yang membelot kan? mereka juga berjuang untuk Indonesia. Mari kita buka hati dan jiwa… untuk berkata: “Mereka memang saudara kita!”, tidak ada yang salah dengan menjadi: “Cina!” 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: