Wawanjapri Imajineri; People Power

November 7, 2009

Wangi kopimiks masih tercium sedap dari cangkirnya pagi itu. Sebatang kretek menemani penjelajahan dunia semu ini. Dan kicauan burung layang-layang mengalahkan merdunya kicauan Menkominfo yang belakangan terbaca garing. Itulah asyiknya, tinggal di kampung. Udaranya sejuk, burung-burung masih leluasa terbang dan berkicau. Tiba-tiba,

(War) Tawan: Buzz, pagi Kang!

(Kang) Tutur : :O pagi, dari mana dapet YM ku?

Tawan: Idih, kan ada di blog?!

Tutur : Oh, iya… iya… maklum udah pelupa, ada apa? asl plis? 😀

Seseorang mengaku dari sebuah media online, ternyata. Dia kemudian memberikan link web medianya. Mungkin bermaksud untuk meyakinkanku kalau dia bukan Gadungan, eh apa itu, Bodrex!

Tutur : Ada perlu apa?

Tawan: Wawancara, boleh Kang?

Tutur : Wawancara? Tentang apa? Blog?

Tawan: Tidak, eh Bukan, tentang isu Korupsi dan Politik yang berkembang saat ini.

Tutur : Hehehe…, anda salah orang.

Tawan: Nggak Kok!

Tutur : Yakin???

Tawan: Yakin!!!

Tutur : Oke deh, mo nanya apa?

Tawan: Tentu kang Tutur mengikuti isu yang berkembang saat ini. Mulai dari Cicak vs Buaya, Dukungan berjuta di FB, pembeberan rekaman hasil sadapan, TPF Tim 8, talk show di TV, rapat di DPR, Bank Mutiara, eh Bank Century, Mantan Wapres, Wapres hingga Presiden itu sendiri?

Tutur : Woops…, benerkan? Anda salah orang?

Dia tetap yakin tidak salah orang dan ngotot ingin tahu penadapatku tentang isu-isu yang berkembang di media massa saat ini.

Tawan: Menurut kang Tutur, sebagai “Pengamat Diam” apakah ini akan berimbas ke SBY? Karena, naga-naganya kalau berlarut-larut kemungkinan akan chaos dan memicu gerakan Rakyat; People Power?

Tutur : SBY? People Power? =)) Anda mengada-ada!

Tawan: Hayolah kang, serius nih?

Tutur : Terlalu jauh kalau anda katakan bahwa ini akan berimbas ke SBY, kecuali bila Amerika menginginkannya. ;))

Tawan: Amerika?! :O

Tutur : Menurutku yang terjadi dan berkembang saat ini, itu hanya bunga-bunga yang dimekarkan untuk hiburan dan bahan polemik Rakyat saja. Biar Rakyat punya tontonan dan bahan ocehan untuk dirumpiin.

Tawan: Terus?!

Tutur : Terus apalagi? Tadi anda tanya, imbasnya ke SBY? Aku jawab masih terlalu jauh, kecuali Amerika menginginkan. Terus… terus… melulu… gimana sih?

Tawan: Kok tergantung Amerika?

Tutur : Bukan hanya di Indonesia, kukira, hampir rata-rata di setiap negara berkembang, terlebih bila ada aset, bisnis, singkatnya kepentingan Amerika di situ, biasanya, inget yah! biasanya, mereka tidak mau diam dan selalu ikut campur.

Tawan: Ikut campur? Intervensi, gitu?

Tutur : Boleh sih dikatakan begitu, tapi kita “Jelata” ini tentu tidak mampu menjangkau, sampai dimana kebenaran tentang intervensi Amerika itu. Sangat sulit membuktikannya.

Tawan: Jadi?

Tutur : Hanya “rasa” yang bermain, karena yang kita tahu hanya yang terungkap di media, bagaimana sejatinya sebuah tragedi dan peristiwa kita tak pernah tahu, kecuali diberitahu media. Itupun, kalau media memberikan “tahu” yang sebenarnya. Dan kalau hanya bicara rasa, tentu sulit dipertanggung jawabkan, secara hukum, misalnya.

Tawan: Okeh, taruhlah tesis itu benar, Amerika pegang peranan penting terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia. Lalu apakah juga Amerika turut berperan, bila memang, People Power, kembali unjuk gigi dan SBY harus diturunkan dari kursi Presiden?

Tutur : Hmm… begini, dalam pandanganku, Amerika sendiri sebenarnya tidak begitu peduli siapa sosok, tokoh atau figur yang menjadi Presiden di Indonesia ini. Karena, mereka hanya menginginkan “kepentingan” mereka terlaksana dengan baik. Bisnis mereka tidak terganggu, itu salah satunya.

Tutur : Nah, kalo memang menurut Amerika, SBY tidak lagi, tepat untuk perpanjangan kebijakan mereka di Indonesia, karena, katakanlah, Rakyat tidak lagi menghendaki. Maka, dengan sangat cepat Amerika pun, akan memantau Tokoh Rakyat itu, mempelajarinya, menjajaki “peluang pengendalian” dan seterusnya, bila nanti kesimpulannya menurut mereka sang Tokoh Rakyat lebih baik, lebih kondusif bagi, sekali lagi, kepentingan mereka, tentu tidak mustahil SBY pun harus disingkirkan. Dan, mereka akan ikut mendukung itu, People Power.

Tutur : Dan, bila itu berhasil, maka sekali lagi, kita Jelata ini tertipu, karena sang Tokoh Rakyat, yang dielu-elukan sebagai pemimpin baru, lebih reformis, lebih pro Rakyat, tanpa sepengetahuan kita juga telah “tergadai” dan siap pula untuk menggadaikan, negara dan bangsanya.

Tawan: Wei… kang Tutur anti Amerika nih?

Tutur : Bisa iya, bisa tidak.

Tutur : Iya, kalau bisa dibuktikan bahwa intervensi itu ada. Dan tidak, karena sebagai bagian dari bangsa-bangsa dunia, hakekatnya kita perlu hubungan yang sejajar, setara dan mandiri. Duduk sama rendah, tegak sama tinggi, dengan negara-negara yang ada di dunia.

Tawan: Wah, kang Tutur plin plan nih, berdiri di wilayah abu-abu. Mau menuding tapi tidak bersikap dengan tegas dan jernih, Anti atau Pro Amerika?

Tutur : Sudahlah, kalau anda label begitu, silahkan saja, eh… btw anda wartawan Politik?

Tawan: Bukan, kang? Saya itu, Redaktur Humor…

Tutur : :O =)) Semprul, yo wis… off the record yah!

Matahari pagi telah menyilaukan sinarnya. Ku layangkan pandang ke asbak, ternyata rokok yang ku taruh tadi telah jadi abu, tanpa sempat terhisap lagi.

Iklan

Satu Tanggapan to “Wawanjapri Imajineri; People Power”

  1. Metty Ling Ling Says:

    Dia memang benar-benar kebo, landak kali?
    Metty Ling Ling

    SBY harusnya dan harus sudah selesai. Tetapi persoalannya kenapa Gerindra menjadi banci? Ayoo semua anggota DPR adri fraksi PKS, Golkar, Hanura, jangan ikut banci. Tinggal beberapa langkah lagi. Jangan sampai gagal. Kalau gagal rakyat akan mendemo gedung DPR besar-besaran.

    Lihat, SBY hanya mengulur waktu. Anda senior-senior kami, ingat, selamatkan rakyat yang sebentar lagi akan mengamuk bersama kami. Apa tidak melihat dia lebih jahat dari Suharto, lebih parah dari Suharto. Kalau Suharto membangun, karena dipercaya, SBY mengisap darah rakyat sendiri, membunuhi rakyat, membiarkan mereka kelaparan, melaparkan anak-anak kecil mereja, karena mereka sudah banyak yang di PHK. Kini tidak ada investor pabrik-pabrik yang mau bekerjasama dengan orangtua kami. Mereka tidak mau datang ke negeri sial ini, karena SBY tidak mampu memberantas premanisme oknum-oknum kodim dan polisi yang selalu datang minta atas nama uang keamanan ke pabrik-pabrik kita orang punya. Kini hanay ada investor bursa saham dan obligasi mencari keuntungan instan.

    SBY tidak ada gunanya. Karena dia orang hanya pintar membuat isyu atau mebelokkan isyu supaya 5 tahun ke depan berlalu tanpa membangun untuk rakyat banyak. Lihatlah sampai hari ini di kota-kota besar nak pribumi terkutuk ini tidak ada jaringan monorel, tak ada jaringan KRL apalagi tepat waktu. Tak ada yang tepat waktu, nyaman dan aman di negeri yang dipimpin kebo. Bus-bus kota seperti Mayasari AC sekalipun berjalan seperti bekecolt atau kebo. Kemana Indonesian dibawa SBY? Amitaba.

    Dia kebo? Bukan. Dia tepat kita orang bilang sebagai kancil. SBY pandai berwacana untuk ulur waktu. Andi Arief, juga Deny Indrayana, dibayar uang rakyat, tetapi membela SBY, sebuah rezim yang tidak berbeda dengan Suharto, yang baik, yang dulu dia orang tentang, mealui PRD dia Andi Arief bersama Budiman Sutjatmiko punya.

    Parah lagi, Andi Arief mau saja diminta SBY lobi ke mereka orang-orang DPR supaya membatalkan langkah keadilan terkait bank century.

    Sesungguhnya, Budiono dan Sri Mulyani harus sudah dipecat oleh SBY kalau SBY bukan kebo. Atau rupanya SBY lebih suka dipermakzulkan Licik sekali. SBY lebih jahat dari Suharto. SBY dan menteri-menterinya boros uang rakyat. Uang itu dihambur-hamburkan untuk hal-hal tidak penting. Tak perlu kami orang Tionghoa diberi ucapan selamat hari raya dengan iklan-iklan uang rakyat itu. Lebih baik untuk memebri makan mereka orang rakyat kecil pribumi.

    Kebo pun rajin pasang iklan bermaksud udang investor pabrik dan infrastruktur mau datang. Tapi mana mau mereka invesor itu datang selama Indonesia diipimpin Kebo?

    Keinginan dia SBY orang hanya sebatas wacana, namanya juga kebo. Dia tidak bergerak langsung membangun konkrit seperti Suharto, meskipun dia orang ngutang juga. Bangsa-bangsa lain seperti negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, apalagi Singapura dan Malaysia punya semua prasarana angkutan masal berguna untuk semua termasuk khususnya rakyat kecil. Semuanya tepat waktu, nyaman, aman, sudah puluhan tahun lamanya. Indonesia tidak mulai. Betul kata ito Dea. Vietnam kini membangun luarbiasa. Jalan-jalanya bersih dan bertrotoar lempeng luas, bisa untuk bersepeda anak dan orangtua dan nikmat untuk pejalan kaki, mereka tidak khawatir disenggol mobil. Kemana Indonesia? Kemana? Dengan dipimpin kebo, yang tidak berwawasan?

    Saatnya SBY harus dimakzulkan. Kami mahasiswa melihat itu penting. Lengserkan segera! Adili si congkak gendut ini. Masukkan ke penjara.

    Juga mereka orang, Budiono dan Sri Mulyani, jelas sudah salah, tinggal dimasukkan ke bui, jadi tak harus melalui proses pengadilan. Pengambilan keputusan nalangi bank century, yang jelas-jelas tidak perform lama itu, sudah salah besar. Sebelum ditemukan uang 6.7 triliun itu kemana, proses pengambilan keputusan itu sudah salah.

    Mereka orang terbukti sudah melanggar pasal-pasal UU tentang Tindak Pidana Korupsi. Baca baik-bauk UU itu, monyet.

    Maka tidak bisa lari dari sana. Orang-orang pendukung berat SBY yang menyusun strategi itu dan dana itu untuk membiayai kampanye pemenangan SBY termasuk BLT dan macam-macam keperluan yang membujuk rakyat, mulai dari RT dan RW.

    Hai abngun! Hai bangun semua kekuatan-kekuatan lawan dan “oposisi” terhadap SBY dan PD. Kalian banci-banci dan kebo juga. Kalian musti mendanai demo masif gabungan mahasiswa-rakyat dan berekmpunya kalian orang hati nurani. Hai kaum intelektual negeri ini, bersatu, bahwa tidak layak SBY dipertahankan lagi.

    Menjadi apa negeri ini kalai dipimpin kebo yang hanya membuat nikmat segolongan orang pribumi? Kami orang mahasiswa Tionghoa tidak perlu kebo.

    Kebo arti tidak ada wawasan. Kebo tidak akan membangun negeri untuk kepentingan rakyat banyak.

    Kebo itu hanya mengulur waktu, dan berdoa syurkur-syukur bisa selamat, itulah perasaan dia sekarang.

    Kebo itu sedang berenang di sungai kebodohan lawan-lawan partai, seraya menikmati ombak pengelabuhan-pengelabuhan, pembelokan-pembelokan, yang dibuatnya, di saat pers bodoh negeri ini mudah terbelokkan dengan meliput besar-ebsar bencana yang diciptakan orang-orang SBY juga.

    Indonesia hanya akan bangkit dan membangun untuk kepentingan rakyat semua, kalau dipimpin bukan kebo tetapi oleh seorang pemimpin, yang benar-benar. Seorang yang bertindakan untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk kepentingan pribadi lagi.

    Ayooo, kalian orang Golkar, PKS, PDIP serisulah menerjang terjang, jangan takut memakzulkan SBY, kami mahasiswa dan semua rakyat di belakang anda semua. Waktunya membela rakyat semuanya, turunkan kekuatan penekan, gerakkan di lapangan dan internet !

    Kaca sangat jelas. Mengapa Budiono tanpa ada angin ada hujan bisa sengaja dipilih SBY menjadi wapres, jelas menunjukkan nyata bahwa ada sesuatu yaitu bahwa Budiono khususnya diangap berhasil mencairkan uang 6,7 triliun dari BI untuk pemenangan SBY atas nama bailout bank Century. Karena berhasil maka Budiono diberi posisi wapres. Sederhana sebenarnya. Selamatkan rakyat dari gerakan menghancurkan People Power dengan memakzulkan SBY yang tidak banyak risiko, daripada People Power. Ingat, dulu ketika memakzulkan Gus Dur meskipun berkekuatan ormas masif NU/PKB pun mudah dan tidak berisiko. Memaksa SBY mundur pun sama. Lebih kacau bila terjadi People Power, yang pasti akan terjadi, bila SBY, Budiono dan Sri Mulyani tidak mundur. Itu pasti. Rakyat banyak di kota dan desa sudah tidak bisa makan, banyak yang sudah bunuh diri, pasangan-pasangan muda meninggalkan anak-anak kecil mereka karena mereka tidak bisa bekerja lagi di pabrik-pabrik mereka, mereka di-PHK. Semua karena presiden kebo yang tidak mampu membujuk investor-investor pabrik. Oaala nunggu apalagi?

    Jangan takut kalian orang. Sebetulnya, kita orang tahu, Iskandar Muhaimin bukan panutan kami, dia hanya anak kecil, si brutus, orang yang dibeli orang-orang SBY. Tokoh panutan kawan-kawan kami orang-orang NU hanya Gus Dur. Jangan takut dengan Hatarajasa, si kepala uban total, itu pun pengkhianat massa PAN, dia hanya orang yang menggadaikan diri kepada SBY. Kawan-kawan kami dari Muhamamdiyah hanya mengikuti Amien dan Din Syamsuddin, yang mereka harapkan sadar kembali membela kebenaran dan hati nurani rakyat, untuk kembali membawa Indonesia ke jalan reformasi dan demokrasi sejati, bukan demokrasi bohongan yang tidak menuju pada pemakmuran rakyat banyak, dengan jalan benar sebagaimana jalan UUD 1945 dan Pancasila murni dan konsekuen. Demokrasi tidak selalu baik apalagi kalau dijalankan tokoh-tokoh yang tidak paham kelemahan demokrasi. Demokrasi hanya cocok untuk dan di Amerika. Amerika sendiri dalam menjalankan kebijakan ke bansga-bangsa lain pun berstandar ganda. Kenapa musti masih ditiru. Tirulah China, Rusia, yang berdemokrasi terpimpin, berorientasi ke kemakmuran dan pemakmuran rakyat semua, tanpa kecuali. Walaupun mereka dalam dominasi satu kekuatan partai, partai komunis, tetapi mereka menjadi sangat luarbiasa setelah diam-diam membangun dengan ekonomi kapitalistis terpusatkan. Siapa bilang Korut adalah negara komunis, itu hanya kata suara Barat. Korea Utara adalah sebuah negara yang sangat mementingkan nasioanlistis untuk semua rakyatnya. Angkutan masal KRL mereka sangat bagus, jauh lebih bagus dari Indonesia tentu. Malulah SBY. Kita semua tahu agama di Indonesia hanya dijadikan alat oleh SBY untuk menidurkan rakyat. Agama tentu sangat penting bagi kita tetapi kalau sudah dijadikan alat agar akyat diam dan tidak emnuntut hak-hak kosntitusinya yang selama ini didustai, akan berujung pada People Power. InsyaAllah.

    Bagi kami, Andi Arief, justru yang mengabdi pada rezim yang maling etriak maling. Sudah jelas uang itu untuk BLT dan untuk membiayai pemenangan PD dan SBY, dan itu sebab Budiono diposisikan sebagai wapres. Mudah melihatnya.

    Ini tidak tercermin dalam SBY. Jangan lupa, kalian orang, hanya dengan pemimpin yang jelas. Kami sebenarnya telah sindir dalam perayaan hari raya kami Tionghoa yang dihairi SBY bahwa rakyat, juga kami orang, tidak buta, melihat hal-hal yang tdiak dilekukan si kebo; dia tidak membangun untuk rakyat semua. Tapi lucu ya dia orang malah berpidato bicara kesana-kemari, dan sensi dengan menyindir bahwa yang kalah harus menerima. Waktu itu kami pikir, dia memang benar-benar kebo, landak kali. ****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: