Ada Kemajuan Pak, Tapi…?!

Maret 2, 2014

Sejarah.
Ibra atau Baim (menurut sebutan kawan-kawannya) adalah anak saya yang lahir beberapa hari setelah Aceh dilanda tsunami Desember 2004 lalu. Nama lengkapnya, Maulana Ibrahim Hasan, sebuah nama yang maknanya demikian lengkap bagi saya.

21 Januari 2005, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Lebaran Haji 10 Dzul Hijjah, 1425 H. Ada nama nabi Ibrahim AS, terkait peristiwa itu. Terus, Hasan adalah nama kakek saya di jalur Ibu. Dan tentunya, anda ingat dong, nama Gubernur Daerah Istimewa Aceh (sekarang: Nanggroe Aceh Darussalam) yang terkenal di masa Orde Baru, yaitu Ibrahim Hasan. Jadi, lengkaplah saya tempelkan nama bagus ini pada Ibra, guna mengingat ada peristiwa besar dan orang besar di Aceh saat dia dilahirkan.

Lalu bagaimana dengan Maulana? Ehehe, itu sih mau-maunya saya saja, sebab ada do’a dalam nama. Maulana berarti “Pemimpin Kami” – saya berharap anak ini menjadi Pemimpin bagi bangsa Indonesia. Boleh kan?

Terima Rapor
Baru-baru ini, saya menggantikan Mama Ibra, menjalani tugas mengambil Rapor di sekolahnya. Karena hari Sabtu dan libur kerja, saya menjalani dengan senang hati. Jadilah, saya ngumpul bareng dengan para orang tua yang juga akan mengambil rapor hasil evaluasi anak mereka, dan kebanyakan ibu-ibu. Hehehe…

Sampai gilirannya, saya pun maju dan duduk manis di depan meja guru kelas. Seperti biasa, saya menyalaminya sembari tersenyum dengan manisnya. Ehm…

Bu Guru, membuka lembaran evaluasi yang tertuang di rapor Ibra. “Ada banyak kemajuan Pak, pelajaran ini nilainya makin bagus, pelajaran itu meningkat, bagus sekali, ada banyak kemajuan. Tapi…”, jelas Ibu Wali kelas.

“Tapi, bagaimana Bu…?” saya memotong penjelasannya.

“Tapi itu Pak, kami para Guru sedikit kewalahan, saat belajar di kelas, Ibra suka mengobrol dengan kawannya. Proses belajar jadi sering terganggu, tolong ya Pak…”, Ibu Guru itu sangat berharap lalu sayapun mengangguk menyanggupi.

Tes Mesin Kecerdasan

Setelah saya berkenalan dengan STIFIn dan emiliki perangkat tes sendiri, saya penasaran dengan kecerdasan Ibra. Dan kamipun melakukan tes. Satu per satu mulai dari jempol kanan hingga kelingking kiri Ibra saya scan. Dan saya kirim ke server STIFIn.

Selang tak berapa lama, lalu kami menerima hasilnya; Feeling extrovert. Saya dan isteri tersenyum lega. Namun saya kembali ingat pesan Ibu Wali Kelas waktu mengambil rapor itu, tentang kebiasaannya “Ngobrol” di kelas. Dan ternyata menurut tafsir STIFIn, cara belajar para #Feeling sesuai dengan kecerdasannya adalah melalui diskusi dengan orang lain. Diskusi itu ya, Ngobrol kan?

Hahaha, terus gimana?

Sistem pendidikan Indonesia masih menganut pola anak pintar adalah “anak manis yang duduk manis” memperhatikan wejangan ibu guru di depan kelas. Jadi, sementara ini saya biarkan saja, hingga saya (mungkin) suatu saat nanti dipanggil Ibu Guru itu, insya Allah akan saya jelaskan duduk perkaranya…, sekalian men-tes mesin kecerdasan sang Ibu Guru. Ya gak?

Kembali ke saat pemberian nama, ternyata adanya “Maulana” yang bermakna Pemimpin juga tepat, karena para #Feeling memang sangat berhasrat untuk MEMIMPIN. Mereka memimpin dengan rasa yang dipenuhi CINTA.

Segitu aja deh, cerita ringan dari saya, semoga bermanfaat.

Oh, iya….?! Apakah, anda sudah mengenal Mesin Kecerdasan ANAK anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: