Kakinya 7

Maret 12, 2014

Suatu kali saya pernah ditanya, mengapa orang Padang (baca: Minang) senang merantau, sesampai di rantau jadi Pedagang dan banyak yang sukses? Karena saya baru mau akan sukses, maka pertanyaan yang terkesan basa-basi ini saya jawab sekenanya, saja.
“Karena kakinya tujuh”
Kontan saja kawan itu bingung, dan menambah satu pertanyaan lagi. 
“Maksudnya?”, ku lihat matanya berbinar, tanda serius ingin tahu. Kepo banget, yaks???
“Ya iya lah, kaki dia 2 ditambah kaki 5”, terangku sambil nyengir menggoda.
***
Hehehe, begini, walaupun cerpenis/novelis Gus tf Sakai, pernah merilis bahwa budaya merantau adalah “pengusiran secara halus” para lelaki dari Minangkabau, sejatinya tidak demikian. Ada beberapa misi yang mesti diperjuangkan saat di rantau, namun yang utama adalah menjadi “orang berguna” sebagaimana dirilis oleh pantu nasihat berikut ini; 
Karatau madang di hulu
Babungo alah babuah balun
Marantau bujang dahulu
Di kampuang baguno balun
Nah, semangat untuk menjadi orang berguna itu ada memang yang benar-benar dirintis dari bawah, artinya merantau dengan sekadar pakaian yang tersandang di badan + tulang yang 8 kerat, lalu segepok nyali di dada. Ada pesan khas bagi anak muda sesampai di rantau.
Hiu bali balanak bali
Ikan panjang bali dahulu
Induak cari dunsanak cari
Induak samang cari dahulu.
Secara jelas dapat diterangkan bahwa sesampai di rantau ada 3 tugas awal:
  1. Mencari Induk (Ibu angkat)
  2. Mencari Dunssanak (Saudara)
  3. Mencari Induak Samang (Majikan)
Ibu adalah sosok yang sangat penting bagi anak muda Minang, boleh jadi karena sistem masyarakatnya yang mengikut garis ibu (matrilineal).
Saudara itu penting karena anak muda Minang sudah sangat menyadari bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Dunsanak sangat diperlukan untuk bekerja sama, berbagi ide dan ilmu pengetahuan.
Duduak sorang basampik-sampik – duduak basamo balapang-lapang
Sempit sekali rasanya dunia ini bila dilakoni sendiri. (Gak percaya, tanya jomblo deh, hehehe…) dan sebaliknya ada “kelapangan” dalam kebersamaan.
Di zaman dulu, ada 2 tempat pertama yang mesti disinggahi anak muda Minang begitu merapat di Tanah Rantau; 
  1. Surau
  2. Rumah makan
Kenapa Surau? Surau adalah tempat mencari saudara, seiman sekeyakinan. Namun, bisa juga karena dulunya anak muda Minang itu “tidur di surau” sembari belajar mengaji dan bersilat. Maka prosesi merantau adalah semacam “isro” nya nabi Muhammad SAW, “minal masjid – ilal masjid” dari surau ke surau.
Lalu, ada apa dengan rumah makan? Rumah makan adalah untuk mendapatkan “induk semang” – simple sebenarnya, bekerja di rumah makan itu, ada ilmu tentang memasak yang bisa didapatkan, juga ilmu tentang menjual dan melayani. Dan yang sangat pasti, dapat upah untuk modal buka usaha sendiri, so… makan gratis. Tempat tinggal gratis. Hehehe
Bisa panjang kalau diuraikan, bisa jadi novel kali yah?
Kok dikambang saleba alam, dibalun sagadang kuku.
Jadi kita persingkat saja, lain kali bila sempat insya Allah kita bercerita lagi. (bersambung…)
Salam,
Uda Diko
——–
Klu untuk kisah berikutnya;
Hari paneh tampek balinduang
Hari hujan bakeh bataduah
Kusuik nan ka manyalasaikan
Kok karuah nan ka mampajaniah
Hilang nan ka mancari
Tabanam nan ka manyalami
Tarapuang nan ka mangaik
Hanyuik nan ka mamintehi
Panjang nan ka mangarek
Singkek nan ka mauleh
Senteng nan ka mambilai
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: