Tragedi Kepemudaan, Nasionalisme dan Semangat untuk Bersatu

Oktober 28, 2015

Masih adakah harapan hidup aman, nyaman dan damai di Negeri ini?

Tadi siang adalah HARI PEMUDA bagi seluruh komponen bangsa Indonesia. 28 Oktober adalah hari keramat semangat kebangkitan Pemoeda Indonesia. Namun apa maknanya “hari itu” bagi Pemoeda Indonesia, kini?

Entahlah…?!

Semangat Persatuan, bukan hanya terkikis dari jiwa Pemoeda Indonesia namun agaknya SUDAH LENYAP ditelan modernisasi dan globalisasi.

Kenapa saya katakan begitu?

MRW Sedih

sumber: @agent_diko

Tadi, sekira pukul 19-an WIB, anak sulung saya datang terhuyung sepulang sekolah dengan kepala berdarah-darah. Biasanya, sekitar pukul 16-an, MRW (sebut saja begitu) Taruna, Kelas XI di SMKN 29 Jakarta. Namun karena tadi siang ada ekstra kurikuler “maen futsal” dia pulang agak terlambat.

Karena sudah kemalaman, eh, tepatnya kesorean. Bis PPD 45 jurusan Blok M – Cawang yang biasa ditumpanginya tak kunjung lewat. Dia dan seorang kawannya, mencoba mengangsur beranjak dari gerbang sekolah dengan berjalan kaki, hingga ke Tugu Pancoran.

Dari situlah anak saya, MRW, 16 tahun, menaiki Bis PPD 41. Namun langkahnya diikuti 10 remaja lain, anak sekolah juga, berpakaian putih abu-abu. Ndak tahu persis dari sekolah mana. Hati dan perasaan anak saya mulai merasa tidak enak, namun dia tetap berkeinginan untuk turun di Cawang.

Firasat itu ternyata benar. Baru saja turun bis, ke-10 anak sekolah itu menyeretnya, mengurung, mengancam, meneanjangi, menggebuk, menginjak dan yang lebih parah melayangkan kepala ikat pinggang ke kepala anak saya. Astaghfirullah… 😦

Pertamanya, hanya meminta hape. Namun setelah menggeledah dan menguras isi tas sekolahnya, ditemukan beberapa atribut sekolah dan sepasang seragam PRAMUKA. Seragam Pramuka ini dibuang ke got. Hape diambil, sepasang pakaian futsal, uang 20 ribu rupiah, 1 buku paket PKN dan kartu Pelajar.

Banyak orang sih di TKP, tapi mereka seakan tak peduli. Atau lebih tepatnya tak menyangka, kalau sedang terjadi tindakan kriminal, PENGEROYOKAN 10 lawan 1 orang. Anak saya ndak berani teriak, karena dibawah ANCAMAN. “Gue mati-in lo kalo teriak!!!” jelas anak saya menirukan ancaman itu. “Ada polisi juga sih, cuman sedang menilang sebuah mobil. Mungkin gak nyangka juga bapak Polisi itu.” tambah anak saya.

Satu-satu, jerit permintaan tolong yang dapat saya lakukan adalah dengan ngetwit. Tengok deh!

Singkat cerita, dengan badan yang lemas, kepala pusing, terhuyung tergopoh-gopoh MRW berhasil menemukan seragam Pramuka-nya dalam GOT, dia pakai seragam yang bau itu. Terpaksa!

MRW DijahitAtas pertolongan bapak, seorang Tukang Ojek, yang tulus baik hati sampailah MRW di kantor saya. Saya kaget! Dan memang sedari tadi sangat galau dan risau dengan keberadaan, keamanan dan keselamatannya. Namun apa mau dikata, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Taqdir Allah sudah terjadi.

Alhamdulillah, masih selamat dan sempat menerima pertolongan dokter dengan 5 JAHITAN di KEPALA.

Sampai di rumah, untung saja Mamah-nya sudah tidur. Sangat pulas terlihat, sehingga sengaja tidak saya bangunkan. Takut dia histeris karena sedih, geram dan tak berdaya. Malah nanti menambah masalah pula di tengah malam ini.

Segitu dulu, infonya. Selamat hari Pemoeda, Selamat Hari Blogger nasional, juga.

Mohon do’anya selalu.

Iklan

Satu Tanggapan to “Tragedi Kepemudaan, Nasionalisme dan Semangat untuk Bersatu”


  1. […] Tragedi Kepemudaan, Nasionalisme dan Semangat untuk Bersatu […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: