Tragedi Kepemudaan, Nasionalisme dan Semangat untuk Bersatu (1)

Oktober 29, 2015

Seperti tertulis pada kisah sebelumnya, saya sengaja tidak membangunkan Mamah anak saya. Dan pagi ini dia yang terbangun lebh dulu. Baru membangunkan saya. Tak mampu rasanya menuliskan perasaan apa yang sedang berkecamuk di hatinya, juga tentang apa yang sedang dia pikirkan. Saya lihat air matanya berlinang, meski tidak menangis jejeritan,

Sedang saya, berusaha untuk tetap tenang dan tegar. Kemudian berlalu ke kamar mandi untuk berwudhuk dan sholah Shubuh. Mencoba memanjatkan do’a berharap adanya kedamaian dalam diri dan juga untuk Negeri ini.

“Tenanglah…, ini ada surat pengantar dari dokter. Nanti saya akan ke sekolah, sembari mengadu pada bagian KESISWAAN. Barangkali kita bisa dapat pertolongan kalau bukan KEADILAN.”, isteri saya mengangguk, walau masih galau.

Di Sekolah

Hampir pukul 10 WIB, saya tiba di sekolah tempat anak saya belajar. Lalu saya berikan surat pengantar istirahat belajar itu pada Guru Piket. “Anaknya kenapa Pak?”, dia bertanya. Saya jawab, lalu saya balik bertanya, “Bisakah kasus PENGEROYOKAN ini diusut, buk?” Bu Guru cantik berkerudung pink itu menjelaskan, “Sulit Pak. Sangat banyak dan sangat sering kejadi seperti ini. Bapak boleh saja, lapor ke Polisi. Namun jawabannya paling, Laporan diterima dan dicatat. Untuk diusut sampai pelaku ditemukan dan bapak mendapatkan keadilan sangat sulit Pak” jelasnya dengan mata berkaca-kaca.

Bu Guru Piket itu mempertemukan saya dengan beberapa Guru bagian KESISWAAN. Cerita punya kisah, apa yang dijelaskan tadi, itulah kesimpulan perbincangan saya dengan bapak-bapa itu. Huuufff…, saya hanya menghela nafas. Sebuah ekspresi kejengahan, tanpa daya.

Masih adakah harapan hidup aman, nyaman dan damai di Negeri ini?

Saya mengabarkan isteri saya. Dengan singkat dia menukas, Gak ada tindak lanjut apa-apa dari sekolah? Kok bisa gitu?!” Saya jelaskan sejenak, entah dia bisa terima atau tidak, dengan langkah gontai saya melanjutkan perjalanan menuju kantor, tempat saya bekerja.

Namun, ungkapan kekecewaan itu rupanya menjadi status facebook isteri saya,

“Astagfirullah…,sekolah kok gitu ya? Anak didik terkena musibah akibat penganiayaan dan perampasan sepulang sekolah tapi pihak sekolah tutup mata dan telinga. Kasus akan sampai ke pihak polisi kalau siswa mati. Lalu kalau cuma dirampas dompet,hp, jaket, tas sekolah, ditendang.., dipukuli oleh sampai 10 orang dan bocor di kepala dianggap biasa saja oleh pihak polisi dan sekolah. Kasus baru jalan kalau kita memberi 10 juta ke pada polisi. Dimana hati nurani mereka? Bagaimana kalau kasus ini menimpa pada anak2 kepala sekolah dan polisi? Apa mereka hanya terima nasib seperti saya.pasrah saja.dimana letak keadilan ini?

(Menurut saya, tuduhan mesti memberi 10 juta, baru kasus ini bisa diproses tentu bukan hal sebenarnya, itu hanya kalimat yang mengungkapkan kekecewaan yang teramat dalam, dari seorang Ibu.)

Sebenarnya kesulitan menangkap pelaku kriminal anak ini, lebih kepada karena minim-nya barang bukti. Satu-satunya hanya, ingatan anak saya atas ocehan para pelaku yang “ngaku-ngaku” dari SMK Bhakti Jakarta (#Bhajack) – sebab bisa saja itu fitnah dan mengadu domba. Tentu akan lebih berbahaya, bukan? Suasana tentu akan jadi panas. Dendam tak kan pernah menyelesaikan masalah.

Atas dasar itu pulalah saya mengurungkan niat untuk mengadu, melapor dan berharap mendapat sedikit keadilan. Mo gimana lagi? Lalu, kalimat perih itu melintas lagi di benak saya:

Masih adakah harapan hidup aman, nyaman dan damai di Negeri ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: