Archive for the 'Resahku' Category

Tragedi Kepemudaan, Nasionalisme dan Semangat untuk Bersatu (2)

Oktober 30, 2015

Saya mendapatkan pendidikan sekolah menengah di kampung, sebuah kota kecil di Sumatera Barat, Kota Payakumbuh. Walaupun begitu, dari kawan-kawan yang berdiam dan bersekolah di Jakarta SMKN 29 (Penerbangan) – dulu STM Penerbangan BLOK M – dengan kode sandi KAPAL BLOK M dan sebagainya, saya pernah mendengar bagaimana “sepak terjang” anak-anak KAPAL BLOK M ini di masa lalu. Almarhum Papa saya juga pernah bercerita dulu.

Namun semua itu masa lalu. Saya berani memasukkan anak saya bersekolah di sana pun sudah dengan pertimbangan dan kesepakatan yang matang dengan anak saya. Kami sudah rancang strategi agar aman dari sentuhan siswa-siswa jahil di luar sana. Salah satunya dengan mengantarnya ke sekolah setiap hari dengan sepeda motor.

Namun sebagus dan sesempurna apapun kita berrencana, tetaplah rencana Tuhan yang berlaku. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu kata petuah dari Minangkabau kampung aseli saya.

Dan setahu saya, sudah sangat banyak KEMAJUAN yang dicapai oleh SMKN 29 Penerbangan ini. Khususnya dalam hal DISIPLIN. Ketahuan tawuran tak ada AMPUN. Langsung DIKELUARKAN.

Okelah…, karena kegalauan ini belum juga hendak berakhir. Saya mencoba kemungkinan-kemungkinan untuk mengetahui dan bahkan menemukan para pelaku itu. Pemuda macam apa sih mereka? Itu pertanyaan yang bergelayut di otak saya. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Tragedi Kepemudaan, Nasionalisme dan Semangat untuk Bersatu

Oktober 28, 2015

Masih adakah harapan hidup aman, nyaman dan damai di Negeri ini?

Tadi siang adalah HARI PEMUDA bagi seluruh komponen bangsa Indonesia. 28 Oktober adalah hari keramat semangat kebangkitan Pemoeda Indonesia. Namun apa maknanya “hari itu” bagi Pemoeda Indonesia, kini?

Entahlah…?!

Semangat Persatuan, bukan hanya terkikis dari jiwa Pemoeda Indonesia namun agaknya SUDAH LENYAP ditelan modernisasi dan globalisasi.

Kenapa saya katakan begitu?

MRW Sedih

sumber: @agent_diko

Tadi, sekira pukul 19-an WIB, anak sulung saya datang terhuyung sepulang sekolah dengan kepala berdarah-darah. Biasanya, sekitar pukul 16-an, MRW (sebut saja begitu) Taruna, Kelas XI di SMKN 29 Jakarta. Namun karena tadi siang ada ekstra kurikuler “maen futsal” dia pulang agak terlambat.

Karena sudah kemalaman, eh, tepatnya kesorean. Bis PPD 45 jurusan Blok M – Cawang yang biasa ditumpanginya tak kunjung lewat. Dia dan seorang kawannya, mencoba mengangsur beranjak dari gerbang sekolah dengan berjalan kaki, hingga ke Tugu Pancoran.

Dari situlah anak saya, MRW, 16 tahun, menaiki Bis PPD 41. Namun langkahnya diikuti 10 remaja lain, anak sekolah juga, berpakaian putih abu-abu. Ndak tahu persis dari sekolah mana. Hati dan perasaan anak saya mulai merasa tidak enak, namun dia tetap berkeinginan untuk turun di Cawang.

Firasat itu ternyata benar. Baru saja turun bis, ke-10 anak sekolah itu menyeretnya, mengurung, mengancam, meneanjangi, menggebuk, menginjak dan yang lebih parah melayangkan kepala ikat pinggang ke kepala anak saya. Astaghfirullah… 😦

Pertamanya, hanya meminta hape. Namun setelah menggeledah dan menguras isi tas sekolahnya, ditemukan beberapa atribut sekolah dan sepasang seragam PRAMUKA. Seragam Pramuka ini dibuang ke got. Hape diambil, sepasang pakaian futsal, uang 20 ribu rupiah, 1 buku paket PKN dan kartu Pelajar. Baca entri selengkapnya »

Stop KDRT | Kembalikan Ceria Buk Etty

Maret 19, 2012

Siapa saja yang mengenalnya akan sepakat dengan saya. Dia, sosok yang akan saya ulas ini adalah seorang yang sangat bersahabat, ramah dan ceria.

Wirdayati, Etty, di masa sekolah dulu saya dan kawan-kawan menyapanya begitu. Etty Madin tepatnya. Suaranya melengking, gerak-geriknya cekatan dan lincah. Beberapa tahun lalu, saya masih merasakan keceriaan dan keramahan itu ketika bertemunya dengannya di Jakarta.

Namun apa hendak dikata, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Beberapa pekan lalu saya mendapat kabar tak mengenakkan tentang dia. Lama saya tercenung, memikirkan nasib yang menimpanya, saat ini.

Bolak-balik saya berpikir bagaimana cara menolongnya keluar dari masalah yang menderanya. Apakah akan mengabarkannya sehingga menemukan jalan keluar, atau memendamnya sebagai kabar buruk lalu membiarkannya larut dan tenggelam dengan masalahnya sendiri.

Huff…, akhirnya, nurani saya mengatakan bahwa saya sebaiknya mengabarkan pada anda, kita semua.

Buk Etty, alumni Tata Busana – IKIP Padang itu, kini masih mengajar di SMK Pertiwi Jakarta, sejak sekira 5 tahun lalu terpaksa menjadi “Single Parent” untuk 4 orang anak-anaknya. Suaminya, dikabarkan telah berpaling ke lain hati.

Bila sekadar berpaling ke lain hati tentu bukan masalah berat benar rasanya. Tetapi ketika sang suami tak lagi menyalurkan nafkah bagi keluarga, isteri dan anak-anaknya tentu akan sangat memberatkan baginya, dan juga nak-anaknya.

Aaargh…, tetapi tidak hanya itu, suami yang ringan tangan, berani main “lompang’ ini terdengar sangat menyakitkan. Perih…! Baca entri selengkapnya »